riau24 Secuil Cerita Kerusuhan dan Tragedi Perkosaan di Glodok 1998 | Berita Riau
Minggu, 17 Desember 2017

Secuil Cerita Kerusuhan dan Tragedi Perkosaan di Glodok 1998

0
Berita Riau -  Secuil Cerita Kerusuhan dan Tragedi Perkosaan di Glodok 1998
Jakarta, Riau24.com- Pengacara publik Lembaga Bantuan Hukum Jakarta Yunita mengungkap cerita di balik kerusuhan Mei 1998 di kawasan Glodok dan sekitarnya. Menurutnya, terdapat empat tahap yang terjadi dalam kerusuhan tersebut.

Yunita menuturkan, tahap pertama dalam kerusuhan adalah persiapan yang berupa tindakan provokasi.

"Ada orang yang memancing atau membuat keributan dengan tujuan untuk mencari perhatian massa," kata Yunita di kawasan Glodok, Jakarta Pusat, Sabtu (21/5).

Provokator yang biasa disebut dalam tahap ini, kata dia, memiliki kemampuan menggunakan senjata, alat telekomunikasi, dan dapat mengorganisasi massa.

Menurut dia, dalam tahap ini terdapat dua jenis massa, yakni aktif dan pasif. Massa aktif, ujarnya, merupakan kumpulan orang yang tidak tinggal di daerah sekitar Glodok dan pergerakannya sangat teroganisasi.

Sedangkan massa pasif, kata Yunita, merupakan kumpulan orang yang kebetulan berada di sekitar tempat kejadian. Kumpulan orang tersebut, kemudian terprovokasi provokator untuk membuat keributan.

Tahap kedua yaitu pengrusakan berupa melempar botol atau batu namun siapa pelakunya tidak tahu. "Semua kaca dipecahkan. Massa melakukan pelemparan batu dan botol yang diarahkan ke kaca gedung-gedung," kata dia.

Pada tahap kedua, tambah Yunita, pelaku perusakan sulit dikenali. Sebab, pengerusakan dilakukan oleh sekumpulan orang.

Setelah melalui tahap satu dan dua, Yunita menyebutkan massa mulai melakukan penjarahan. Semua barang yang ada di dalam gedung habis dijarah.

"Saya dulu punya teman. Dia punya toko kain di daerah Glodok. Saat itu, tokonya habis dijarah tidak ada yang tersisa. Akibatnya banyak warga yang mengalami kebangkrutan," kata Yunita.

Baru setelah ketiga tahapan terlaksana, maka terakhir adalah aksi pembakaran. Pembakaran ini antara lain berlangsung di gedung pertokoan Glodok dan sekitarnya. Aksi tersebut dilakukan secara sengaja oleh sekumpulan orang yang juga tidak dapat dikenali identitasnya.

Bahkan, kata dia, aksi pembakaran pun meluas hingga ke kawasan Petak Sembilan, Asemka, dan hampir menyentuh wilayah Kota.

"Tidak hanya pertokoan dan gedung, rumah warga pun menjadi sasaran namun tidak banyak yang terkena," ujar dia.

Pemerkosaan Etnis Tionghoa

Di samping kerusuhan, Yunita mengingatkan bahwa telah terjadi tragedi pemerkosaan terhadap etnis Tionghoa pada Mei 1998. Namun demikian, hingga kini lokasi pemerkosaan masih dipertanyakan.

"Dari laporan Tim Gabungan Pencari Fakta kasus kerusuhan Mei 1998, setidaknya ada 85 kasus kekerasan seksual di Jakarta Medan dan Surabaya. Korbannya mayoritas etnis Tionghoa," ujar Yunita.

Yunita menuturkan, dari 85 kasus, 52 di antaranya merupakan jenis pemerkosaan secara beramai-ramai. Dari jumlah kasus pemerkosaan tersebut, 14 di antaranya dilakukan dengan penganiayaan, 10 kasus penganiayaan seksual, dan 9 pelecehan seksual.

Sayangnya, dari jumlah 52, hanya tiga kasus yang didapat dari pengakuan korban secara langsung. Sementara sisanya, kata dia, berasal dari dokter, rohaniawan, dan pihak keluarga.

Hal ini, menurut dia, disebabkan karena sulit menemukan korban yang mau mengaku pernah mengalami pemerkosaan sehingga tim pencari fakta kesulitan untuk melakukan pendataan.

Terlebih, Yunita menyayangkan aturan hukum di Indonesia terhadap kasus pemerkosaan, tidak dapat diproses tanpa ada laporan dari korban.

"Padahal, biasanya korban tidak mau melapor karena takut atau merasa malu. Jadi banyak kasus yang tidak terungkap," tutur Yunita.

R24/uci/cnn
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).

Berita News24xx

Loading...
loading...

Komentar Anda (tidak mengandung SARA)

Nama :
Komentar :
     

Berita Terbaru

  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru