riau24 Irfan Ali Haji: Saya Harap Pemira Tahun Ini Tidak Lagi Aklamasi | Berita Riau
Minggu, 17 Desember 2017

Pojok Kampus

Irfan Ali Haji: Saya Harap Pemira Tahun Ini Tidak Lagi Aklamasi

1
Irfan Ali Haji: Saya Harap Pemira Tahun Ini Tidak Lagi Aklamasi
Berita Riau -  Irfan Ali Haji: Saya Harap Pemira Tahun Ini Tidak Lagi Aklamasi

Pekanbaru, Riau24.com - Melihat kampus, berarti melihat Indonesia di masa yang akan datang. Mahasiswa sekarang belajar di kampus, suatu saat akan menggantikan mereka yang sekarang mulai tua. Indonesia di masa yang akan datang adalah Indonesia yang berada di tangan mahasiswa sekarang. Sementara guru mereka adalah dosen-dosen sekarang. Nasib bangsa Indonesia bukan hanya ditentukan oleh mahasiswa, tapi juga oleh ajaran dosen-dosennya.

Di kampus, mahasiswa dididik dan belajar, mengamati dan menyimpulkan, membaca dan berdiskusi, mengevaluasi dan membuat rekomendasi, menulis hingga aksi.
Mereka tidak takut dipecat dari kantor tempat bekerja, tidak takut diturunkan pangkat, mereka tidak gampang sakit, mereka punya banyak referensi dan informasi, mereka terkoneksi satu sama lainnya, itulah sebabnya mereka berani bicara apa adanya, berani berteriak dan berkata benar, serta mampu melakukan perubahan.

Salah satu kampus di Pekanbaru, Fekonsos UIN Suska akan memasuki era baru, dengan pemimpin baru dan gerakan baru. Salah satu proses pembelajaran mahasiswa sebagai iron stock, yang akan menggantikan golongan tua, adalah belajar bernegara dan berdemokrasi. Mahasiswa belajar memikirkan dan membangun sebuah tatananan negara dan demokrasi serta perangkat-perangkatnya. Menurut Irfan Ali Haji, salah satu mahasiswa Fekonsos UIN Suska Riau yang akan meramaikan pemira fekonsos UIN mengatakan dirinya akan mengajak dan mencoba merumuskan norma-norma serta mempertahan nilai-nilai ideal.
"Di kampus, mahasiswa memiliki presiden, gubernur, dewan perwakilan, majelis permusyawaratan, Konstitusi, dan Undang-undang keluarga besar mahasiswa. Semua komponen tatanana tersebut adalah hasil pemikiran kolektif mahasiswa tanpa campur tangan kekuasaan dosen. Di sanalah mahasiswa berlatih berfikir negarawan dan berfikir merdeka,"ujarnya.

Pemira merupakan alah satu bentuk pembelajaran demokrasi mahasiswa. Pemira bukan saja sebagai ajang pergantian kepemimpinan mahasiswa, tapi lebih dari itu, pemira adalah proses pembelajaran dan latihan mahasiswa untuk menjadi masyarakat partisipartif, kritis, dan berani menentukan nasib bangsanya. Di saat pemira mahasiswa sebagai kelompok intelektual mencoba menganalisis dan menjalankan tatanannya dan memilih pemimpin terbaik di antara mereka.

Lebih lanjut Irfan mengatakan jika melihat pemira, berarti juga menyaksikan masa depan pemilihan pemimpin Indonesia. Ketika pemuda berani berfikir objektif dan bertindak benar, maka disaat itulah harapan perbaikan bangsa itu terlihat.
"Dan ketika dosen juga memberikan kepercayaan kepada pemuda untuk bertindak dan menentukan sikap sesuai dengan hati nurani, maka disaat itulah golongan tua sedang mempersiapkan calon-calon pengganti yang baik. Namun sebaliknya, ketika dosen melakukan interpensi atau bahkan menjadi juru kampanye salah satu calon, maka di saat itulah dosen tersebut memiliki kepentingan dan sedang mengajarkan diktatorisme serta mengkerdilkan kebebasan berfikir mahasiswa. Oleh sebab itu, kita tidak boleh menjadi boneka siapapun, agar kita terus berani bicara apa adanya dan mampu bersuara lantang untuk berkata benar,"tandasnya.

Irfan mengaku miris melihat beberapa tahun terakhir ini pemira fekonsos selalu menghasilkan aklamasi.
"Tanggal 10 juni 2016 nanti pemira fekonsos akan digelar lagi. Melihat dari 2 tahun fekonsos selalu aklamasi saat pemilihan gubernurnya, saya berharap tahun ini tidak lagi aklamasi, ini mengurangi rasa kepemilikan mahasiswa. Mahasiswa banyak yang tidak tahu siapa ketua BEM nya sehingga program yang dibuat tidak terlalu menarik mahasiswa untuk mengikuti karena sistem fekonsos itu sendiri. Harapannya kedepan dapat terbina lebih baik lagi,"tutupnya.

R24/mla

Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).

Berita News24xx

Loading...
loading...

Komentar Anda (tidak mengandung SARA)

Yusrialis
Jumat, 27 Mei 2016 14:39 wib
Sudah jd rahasia umum,mhsw sudah tahu oknum dosen ybs. Mhswa itu independen,Buatlah terobosan,perubahan ditangan mhswa,tegakkan kebenaran. كلكم راء وكل راء مسئول عن رعيته ”Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan tiap-tiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya.” Pemimpin mesti sabar,teliti&penuh kehati-hatian. Segerakan...!!!
Nama :
Komentar :
     

Berita Terbaru

  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru