riau24 Menyoal Perppu Kebiri, Komnas HAM: Ini Penghukuman Balas Dendam | Berita Riau
Minggu, 17 Desember 2017

Menyoal Perppu Kebiri, Komnas HAM: Ini Penghukuman Balas Dendam

0
Berita Riau -  Menyoal Perppu Kebiri, Komnas HAM: Ini Penghukuman Balas Dendam

Pekanbaru, Riau24.com- Perppu kebiri menurut Wakil Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Siti Noor Laila merupakan sebuah penghukuman balas dendam. Bagi Komnas HAM, sebuah hukuman tidak boleh bertujuan untuk menurunkan derajat kemanusiaan dengan cara mengabaikan rasa kemanusiaan dan pengakuan derajat manusia.

Siti menuturkan saat ini Bangsa Indonesia sedang mengalami krisis kemarahan dimana suatu kesalahan harus dibalas dengan hal setimpal atau dengan asas balas dendam.

“Peradaban manusia semestinya semakin modern, tetapi untuk penghukuman saat ini kembali lagi pada peradaban terdahulu, balas dendam. Seperti kejahatan seksual, pelakunya harus dihukum mati atau dikebiri. Itu balas dendam, konsep yang sebenarnya sudah lama ditinggalkan,” ungkap Siti, Sabtu (4/6/2016).

 

Semestinya, sambung Siti, pelaku kejahatan khususnya kejahatan seksual tersebut harus mendapat binaan. “Sebaiknya mereka itu dibina. Konsepnya berkan kesempatan kepada orang lain untuk memperbaiki dirinya. Tapi hal itu tidak ada lagi pada bangsa kita. Saya melihat situasi bangsa Indonesia sedang marah dan reaktif terhadap peristiwa. Bangsa ini perlu menata kembali hati dan pikirannya sehingga bisa membuat reaksi terhadap sesuatu sesuai porsinya.”

Dikatakan Siti, kejahatan seksual khususnya pada anak dibawah umur bukanlah hal yang baru. Maka yang harus diketahui secara jelas adalah alasan dibalik terjadinya kejahatan ini.

“Saya puluhan tahun melakukan pendampingan terhadap perempuan dan anak korban kekerasan, dan ini bukanlah hal baru. Tapi sebenarnnya yang harus kita lihat itu adalah apa akar persoalan dari ini semua.”

Pendidikan seksual sejak dini menurut Siti merupakan hal yang penting untuk pencegahan terjadinya kejahatan seksual. Namun Ia menyayangkan, pendidikan seksual untuk anak ini masih dianggap sesuatu yang tabu bagi masyarakat.

“Pendidikan seksual bagi masyarakat kita berarti mengajarkan anak untuk melakukan tindakan seksual, padahal itu dua hal yang sangat berbeda. Kalau kita pergi ke negara tetangga, pendidikan seksual sejak dini itu memperkenalkan fungsi tubuh, mana tubuh yang boleh disentuh orang lain dan mana yang tidak. Nah itu yang diperkenalkan sejak kecil,” urainya.

Tidak adanya pendidikan seksual sejak dini ini dicontohkan Siti terjadi pada kasus Yuyun, gadis 14 tahun yang diperkosa dan dibunuh oleh 14 orang anak laki-laki di Bengkulu.

“Pendidikan ini pencegahan tidak hanya untuk jadi korban tapi juga pencegahan menjadi pelaku. Seperti kasus Yuyun di Bengkulu itu pelakunya cengengesan saja saat mau dihukum mati. Itu karena anak tidak mengerti bahwa apa yang dia lakukan berakibat pada peristiwa hukum. Ini adalah akar persoalan yang harus dijawab. Jadi bukan soal harus dihukum mati atau kebiri,” pungkasnya.

R24/uci

Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).

Berita News24xx

Loading...
loading...

Komentar Anda (tidak mengandung SARA)

Nama :
Komentar :
     

Berita Terbaru

  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru