riau24 Sebagian Siswi Dukung Ahok Larang Kewajiban Hijab di Sekolah Negeri | Berita Riau
Sabtu, 16 Desember 2017

Sebagian Siswi Dukung Ahok Larang Kewajiban Hijab di Sekolah Negeri

1
Berita Riau -  Sebagian Siswi Dukung Ahok Larang Kewajiban Hijab di Sekolah Negeri
Jakarta, Riau24.com- Sejumlah siswi di beberapa sekolah menengah pertama negeri (SMPN) dan sekolah menengah atas negeri (SMAN) di DKI Jakarta menyambut positif permintaan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang melarang sekolah negeri memaksa siswinya mengenakan hijab.

Kepada BBC Indonesia, sejumlah pelajar perempuan, yang nama mereka sengaja telah kami ganti, menyampaikan pendapat mereka.

“Setuju (dengan Ahok). Karena pakai jilbab (hijab) itu harus dari hati sendiri,” ungkap Wanda, siswi SMPN 280, Menteng, Jakarta Pusat

Meskipun begitu, siswi beragama Islam yang sehari-hari tidak menggunakan hijab tersebut, mengaku secara “sukarela menggunakan hijab ke sekolah saat bulan Ramadan”, karena ada “pesantren kilat”. “Meskipun sekolah tidak minta, rasanya memang harus pakai hijab."

Sementara itu, Helni, pelajar beragama Kristen yang duduk di kelas satu SMAN 57, Kedoya Utara, Kebon Jeruk, menyatakan sependapat dengan Ahok karena menurutnya, “Buat apa siswa pakai jilbab kalau masih banyak omongannya masih kasar, belum bisa kasih contoh ke orang lain.”

“Karena menurut aku, memang tidak salah menggunakan jilbab. Tapi jangan terlalu dipaksa pakai jilbab saat SD, SMP, SMA kalau memang belum siap,” tambahnya.

Hal sejalan disampaikan Refi, siswi Muslim dari sekolah yang sama dengan Helni. Refi yang sehari-hari tidak menggunakan hijab berharap “Guru-guru di sekolahnya mengikuti perintah Ahok.

Sebelumnya, saat memberi pengarahan kepada 1.700 kepala sekolah TK, SD, SMP, SMA, SMK di DKI Jakarta, Sabtu (04/06), Ahok ‘melarang’ sekolah negeri memaksa siswinya menggunakan hijab.

“Anda mengimani kalau kerudung itu sebagai sesuatu yang bisa menyelamatkan Anda, ya silakan, tetapi Anda tidak bisa memaksa semua anak pakai kerudung,” katanya.

“Saya melihat mereka melepas kerudung setelah sekolah. Itu artinya mereka dipaksa memakainya. Mereka tidak senang memakainya. Itu juga jelek bagi kerudung itu sendiri,” ungkap Ahok kepada wartawan BBC Indonesia, Ging Ginanjar, Kamis (09/06).

“Kalau pelajar Muslim diajarkan baca Al-Quran, silahkan, tetapi kalau soal pakaian, itu urusan lain. Sekolah negeri harusnya tak boleh ikut campur. Apakah Muslim itu baik atau buruk, itu tidak ditentukan oleh apa yang dia pakai,” pungkas Ahok.

“Sering ditegur”

Pernyataan Ahok bahwa ‘kerap ada pemaksaan’ menggunakan kerudung di sekolah, sejalan dengan apa yang dialami Refi.

Refi menyebut, di SMAN 57, Kedoya Utara, tempatnya bersekolah “semua siswi Islam, baik yang biasanya pakai jilbab atau yang tidak, harus menggunakan jilbab pada hari Jumat, mulai dari pagi hingga bel pulang sekolah.”

“Saya dan teman-teman yang seumuran saya sering terpaksa dengan hal itu (menggunakan hijab). Lagian 'kan panas, dan kebetulan tidak semua murid juga berhijab dari sananya,” aku Refi.”

Karena merasa terpaksa, Refi menyebut tidak sedikit temannya yang membuka kerudung jika guru tidak ada, dan mengenakannya kembali jika guru ada.

“Kebetulan teman saya ada yang dihukum karena ketahuan guru begitu. Jadi mereka diberi nasehat, ditegur begitu, ditanya, mengapa nggak pakai kerudung.”

Meskipun hanya yang Muslim yang diwajibkan mengenakan kerudung di hari Jumat, Helni, siswi Kristen di SMAN 57, merasakan ada beban lain yang ikut dirasakannya.

“Merasa sedikit didiskriminasi. Kita pakai baju putih-putih biasa, mereka pakai baju Muslim. Awalnya rasanya aneh, tetapi rupanya kita bisa lihat di sini perbedaannya. Yang ini Islam, yang ini Kristen. Nggakapa. Kita memang hidup seperti ini. Apalagi kita minoritas dan mereka mayoritas. Jadi, kita harus saling mengerti. Jadi, ya sudah. Keputusannya seperti itu, kita jalankan,” cerita Helni

Ketika dikonfirmasi, Kepala Sekolah SMAN 57, Kedoya Utara, Nana Juhana, membantah bahwa sekolahnya mewajibkan siswi Islam mengenakan hijab di hari Jumat.

Nggak ah, kita (sesuai) kesadaran dan kedewasaan anak saja,” tegas Nana ketika dihubungi BBC Indonesia, Kamis (09/06).

Nana menyatakan kewajiban berhijab di hari Jumat hanya saat acara ‘keputrian’ saja. Acara itu disebutnya sebagai forum pelajar Islam putri yang dilaksanakan saat pelajar laki-laki melaksanakan sholat Jumat.

“Kan nggak enak baca Al-Quran, tetapi nggak pakai kerudung. Tapi kalau pagi pas datang ke sekolah, mereka tidak harus pakai kerudung,” klaimnya.

Lelaki yang mengaku baru “dua-tiga minggu” memimpin SMAN 57 itu, juga menegaskan “tidak ada sanksi” terkait penggunaan hijab. “Kan di tata tertib sekolah tidak begitu,” katanya.

Islam atau bukan, wajib berhijab

Lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya.

Jika sekolah negeri yang BBC Indonesia datangi di Jakarta ‘hanya’ mewajibkan siswi Muslim yang menggunakan hijab di hari atau saat tertentu, di sebuah sekolah di Payakumbuh, Sumatera Barat, seluruh siswi baik yang Islam ataupun tidak, “setiap hari” wajib berhijab di sekolah.

“Kalau di sekolah kami, pakai jilbab itu sudah jadi kewajiban. Jadi kalau ada anak baru yang mau masuk ke SMAN 2 Payakumbuh, kalau dia mau pakai hijab ya (boleh) sekolah di sini, tetapi kalau dia tidak mau (pakai jilbab), ya cari sekolah yang lain,” tutur Kepala sekolah SMAN 2 Payakumbuh, Irma Takarina, kepada BBC Indonesia, Kamis (09/06).

Salah seorang pelajar sekolah tersebut, Ani, menceritakan bahwa saat hari pertama orientasi sekolah, dia datang dengan mengenakan pakaian bercelana dan tidak menggunakan hijab.

“Dan besoknya saya disuruh harus pakai pakaian Muslim lengkap,” tutur Ani.

Kepala sekolah mengungkapkan, ‘kewajiban’ yang merupakan “kebijakan sekolah yang didukung dinas pendidikan setempat itu”, telah diterapkan di sana sejak “lima tahun lalu”.

“Ini bukan (ikut-ikutan) tren, tetapi karena memang kesadaran beragama semakin kuat. Orang tua pun tidak menolak. Jadi sudah sama, satu visi antara sekolah dan orang tua,” akunya.

“Memang ada siswi yang non-muslim di sini, satu-dua orang, tetapi karena aturannya kita memakai hijab, otomatis mereka harus memakai hijab.

Irma menegaskan, meskipun pihaknya menyiapkan sanksi berupa teguran dan sanksi tertulis jika ada siswi yang melanggar, “tetapi sejauh ini tidak ada yang melanggar.”

Sebagai salah seorang siswa, Ani mengaku, meskipun sehari-hari dia tidak mengenakan hijab, menggunakannya di sekolah tidak lagi menjadi ‘kendala’ baginya, “karena sudah terbiasa, ketika SMP juga wajib kan berhijab”, pungkasnya.”

R24/uci/bbc

Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).

Berita News24xx

Loading...
loading...

Komentar Anda (tidak mengandung SARA)

Nelivera
Minggu, 19 November 2017 12:06 wib
SABUNG AYAM DAN PACUAN KUDA ======> AYOKJOIN SEKARANG JUGA Minimal deposit hanya 50 ribu. ada bonus deposit 10% untuk member baru dan bonus deposit harian sebesar 5% ayo untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi CS kami di sini Terima kasih dan salam succecs Form Bolavita !! [URL=http://www.bolavita.net/register/] https://i.imgur.com/hqMnrKM.jpg
Nama :
Komentar :
     

Berita Terbaru

  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru