riau24 Karena Desakan Ekonomi, Bayi Berumur 6 Bulan Ditinggal Kedua Orangtuanya | Berita Riau
Senin, 05 Desember 2016

Nasional

Karena Desakan Ekonomi, Bayi Berumur 6 Bulan Ditinggal Kedua Orangtuanya

0
Berita Riau -  Karena Desakan Ekonomi, Bayi Berumur 6 Bulan Ditinggal Kedua Orangtuanya

Semarang, Riau24.com - Di sebuah rumah sederhana di Jalan Ngumpulsari 12 RT 04/04 Kelurahan Bulusan, Kecamatan Tembalang, Semarang, terdengar tangisan bayi.

Dua kakaknya, Dina Soraya (15) dan Nana Hariyana (12) tampak sibuk mondar mandir kerumah tetangga meminta air panas. Dengan cekatan, Dina membuat susu sementara Nana sibuk menenangkan adiknya. Begitu sebotol susu sudah ditangannya, Dina pun memangku sang adik dan tangis bayi pun berhenti.

Sungguh miris memang, diusia masih kecil mereka terpaksa belajar kerasnya kehidupan.

Anak-anak dari pasangan suami istri Heiruddin dan Sayati ini ditinggal oleh kedua orangtuanya tanpa kabar berita.

Riski Aditya (17) sang anak sulung kini menjadi ayah dan ibu untuk kelima adiknya. Riski mengungkapkan awalnya kepergian sang ayah untuk mencari nafkah sebelas bulan lalu, kemudian sang ibu juga pergi meninggakan enam anaknya tanpa pesan.

"Sudah 11 bulan bapak pergi ke Jakarta, katanya mau cari uang. Tapi sampai hari ini nggak ada kabar sampai sekarang. Ibu juga pergi nggak memberitahu siapapun tujuannya kemana," kata Riski yang sempat bersekolah SMP namun tak tamat itu.

Heiruddin dan Sayati pergi meninggalkan enam anak. Riski Aditya (17), Dina Soraya (15), Nana Hariyana (12), M Rozaq Magrobi (9), Tiara Silvani Yasmina (7), Putra Kencana yang masih berumur enam bulan.

Mengetahui orangtuanya sengaja meninggalkan mereka, Riski tidak tinggal diam. Ia terus berusaha mencari. "Sempat ada teman yang memberi kabar melihat ibu di Kendal, tapi saya cari ke sana tidak ketemu juga," kata Riski.

Riski menambahkan, asal mula ibunya merupakan warga asli Ngumpulsari, sedang ayahnya berasal dari Pandeglang Banten Jawa Barat. Selama di Semarang, ayahnya bekerja mencari batu di proyek galian C dekat rumahnya. Namun, proyek tersebut telah ditutup, mata pencaharian ayahnya pun berhenti seketika. Tak ingin menganggur, ayahnya pun memutuskan untuk hijrah ke Ibu Kota untuk mencari pekerjaan.

“Pas masih di sini nyari batu, setelah  ditutup tidak ada mata pencaharian lagi, kemudian bapak pergi ke Jakarta sendirian, tapi di sana ada saudara,” katanya.

Ia pun mengaku sudah mencoba menghubungi keluarga asal kampung halaman ayahnya di Pandeglang Banten melalui telepon. Namun, nomer tersebut ternyata sudah tidak bisa dihubungi. Saat ini, ia dan lima adiknya hidup di rumah dengan neneknya yang masih hidup.

"Kami bersyukur masih ada nenek yang membantu kami. Namun tanggung jawab adik-adik kan tetap di pundak saya," kata Riski.

Riski pun harus bekerja keras membanting tulang. Setiap pagi jam 8-4 sore ia ikut kerja di proyek bangunan, sedang malam hari mulai jam 8 ia bekerja ikut orang berjualan nasi goreng. 


R24/dev




Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).

Komentar Anda (tidak mengandung SARA)

Nama :
Komentar :
     

Berita Terbaru

  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru

Versi Mobile

   Riau24.com
                       Informasi Anda Genggam