riau24 Kisah Ibu Saeni Dan Rencana Penghapusan Perda No 2 Tahun 2010 | Berita Riau
Senin, 11 Desember 2017

Opini

Kisah Ibu Saeni Dan Rencana Penghapusan Perda No 2 Tahun 2010

0
Berita Riau -  Kisah Ibu Saeni Dan Rencana Penghapusan Perda No 2 Tahun 2010
Pekanbaru, Riau24.com - Ada yang berbeda dengan Ramadhan tahun ini. Bukan tentang takjil yang berbahan boraks, bukan pula tentang Piala Eropa dan Copa America.

Namun yang membuatnya berbeda karena ada sekelompok orang memaksa kita untuk mendengarkan nyanyian yang mereka dendangkan. Sebuah lagu lama dengan judul baru.

Lagu sejenis sudah sering kita dengar. Biasanya dinyanyikan bersama-sama oleh media arus utama dan kaum islamphobia saat ada peristiwa yang melibatkan umat Islam atau Islam. Ketika Front Pembela Islam (FPI) melakukan sweeping atau aksi unjuk rasa menentang kemungkaran, lagu tersebut nyaring terdengar. Preman berjubah, Islam identik dengan kekerasan dan syair sejenis terus berkumandang.

Ketika terjadi aksi bom yang pelakunya umat Islam, syair lagu tersebut makin kencang dinyanyikan. Membuat telinga kita bising. Begitu seterusnya. Termasuk Tragedi Ciketing Asem pada Idul Fitri 2010, Poso, Ambon dan lainnya.

Kini mereka juga mendendangkan syair serupa tepat di bulan Ramadhan. Judulnya: Ibu Saeni dan Razia Warung Makan. Lagunya berisikan syair tentang anarkisme dan intolerasi umat Islam. Ujung-ujungnya, kita dipaksa untuk menghormati orang yang tidak berpuasa.

Bahkan yang tidak masuk diakal, penggalangan dana untuk ibu Saeni pun digelar oleh seorang komika Indonesia dengan dalih solidaritas. Tak tanggung-tanggung, 265 juta dengan mudah berhasil digalang. Bu Saeni, pemilik warung tegal yang (katanya) tertindas, mendapat jatah Rp172 juta, dan sisanya kata si penggalang dana akan diberikan kepada rekan Ibu Saeni yang mengalami nasib serupa

Bu Saeni kini berencana akan pergi umroh bersama suaminya dengan uang sumbangan yang diberikan. Wow..hebat. Itulah yang saya pikirkan, sementara saya yang berniat umroh juga harus mengumpulkan uang bertahun-tahun dulu baru bisa mengunjungi rumah Allah tersebut.

Bau politik pun tercium dari kasus ini. Bagaimana tidak, presiden Jokowi pun turut memberi sumbangan sebanyak Rp 10juta untuk si ibu.

Ada apa dengan dunia ini ?

Sepertinya toleransi beragama semakin berkurang di Indonesia. Saya ingat, ketika masih kecil disekolah. Bila bulan Ramadhan tiba, teman-teman non Muslim sangat menghargai. Mereka tidak mau makan atau minum ditempat terbuka. Bahkan, bila mereka sudah sangat haus, botol minum akan dibawa ke kamar mandi.

Berbagai opini pun timbul. Bahkan rencana penghapusan Perda No 2 tahun 2010 tentang pencegahan, pemberantasan, dan penanggulangan penyakit masyarakat bergulir.

Sebenarnya tidak perlu Perda tersebut dihapus. Karena saat sekarang ini, kita harus belajar berdamai dengan dunia. Bila dulu, tanpa ada Perda pun para pemilik warung pasti menutup usahanya dibulan Ramadhan. Tapi kini, cara persuasiflah yang harus dilakukan.

Satpol PP pun hendaknya bertindak dengan cara yang elegan. Beri pengertian, tutup tempat usahanya, dan jangan sampai membungkus semua barang dagangan seperti kasus Ibu Saeni.

Karena, apapun yang menyangkut urusan 'kampung tengah' memang sangat sulit untuk diatasi. Tapi dengan cara halus, niscaya semua pasti baik. Ibarat batu yang ditetesi air setiap hari, pasti batu  itu akan hancur juga.

Manusia setiap saat diberikan pengertian pasti akan mengerti juga.  Karena  tindakan kasar bukan menutup permasalahan, justru akan menimbulkan permasalahan yang baru.

 

Penulis :
NN
Warga Pekanbaru

 

R24/dev

 

 

Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).

Berita News24xx

Loading...
loading...

Komentar Anda (tidak mengandung SARA)

Nama :
Komentar :
     

Berita Terbaru

  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru