riau24 Beruntungnya Kita Yang Tidak Merasakan Lebaran Pilu Seperti Pengungsi Suriah Ini | Berita Riau
Kamis, 14 Desember 2017

Internasional

Beruntungnya Kita Yang Tidak Merasakan Lebaran Pilu Seperti Pengungsi Suriah Ini

3
Berita Riau -  Beruntungnya Kita Yang Tidak Merasakan Lebaran Pilu Seperti Pengungsi Suriah Ini
Jakarta, Riau24.com - Pemandangan menyesakkan hati tergambar dari sosok pemuda yang duduk beralaskan sehelai kain di atas pasir berkerikil.

Pemuda itu hanya terdiam dengan raut wajah yang sedih bercampur lelah. Matanya menerawang jauh, menyusuri deretan tenda-tenda semberawut di atas tanah lapang. Ingatannya pun tertuju pada sang ayah yang hingga kini tak jelas keberadaannya.

Seketika bulir-bulir air mata menetes. Dan menjadi kian deras tatkala ia mendengar sayup-sayup gema takbir dari kejauhan.

Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar...
Laa Ilaha Illallahu Allahu Akbar...
Allahu Akbar Walillahilhamd...

Air matanya terus mengalir. Tak pernah terlintas dalam bayangan akan melewatkan Idul Fitri di kamp pengungsian seperti saat ini. Ini pertama kalinya bagi Bekir Sheyho berlebaran di kamp pengungsian Suleyman Shah di Distrik Akcakale Sanliurfa, perbatasan Suriah-Turki.

Bekir adalah satu dari jutaan pengungsi Suriah yang bernasib kurang beruntung. Melewatkan momen Idul Fitri jauh dari kampung halaman dengan ritual seadanya, tanpa keluarga. Sejak perang berkecamuk tahun 2011 silam, nasib penduduk Suriah memang kian tak jelas arah.

Bekir masih mujur. Dia baru menyecap sulitnya hidup di kamp pengungsian Turki setahun belakangan. Di luar sana, banyak saudara sebangsanya sudah menghuni kamp-kamp pengungsian. Ada yang tinggal di Turki, Yordania, Libanon dan Mesir. Bukan setahun atau dua tahun. Mereka sudah pergi dari kampungnya selama lima tahun.

Di dalam tenda itu, Bekir tinggal bersama saudara perempuannya. Beruntung, rumah barunya masih punya sejarah dalam dunia Islam. Memang ada ratusan tenda dari 22 kamp yang disiapkan. Tapi Bekir tetaplah berlebaran di tanah air orang.

"Saya menghabiskan Idul Fitri jauh dari rumah untuk pertama kalinya. Saya berharap ini yang terakhir kalinya, tapi harapan itu juga terus berkurang setiap hari," kata Bekir.

Terlepas dari penderitaannya, pemuda Suriah itu bersyukur masih bisa merayakan Idul Fitri. Memang tak semarak seperti saudara muslim yang ada di Indonesia. Bersama pengungsi lainnya di kamp ini, Bekir masih bisa melaksanakan sholat Id. Dua rakaat sholat dan mendengarkan khutbah diikuti. Usai sholat mereka akan saling bersilaturahmi, menguatkan satu sama lain. Dukungan saudara seiman seolah menjadi pembangkit harapan Bekir di tengah ketiadaan sanak saudara.

Di luar sholat Id, tak ada perayaan. Momen Idul Fitri di kamp ini jauh dari kata bahagia. Tak ada hidangan lezat khas Lebaran di meja makan. Apalagi baju baru. Hanya ada hidangan mansaf, sejenis nasi yang dicampur gandum. Ditambah syurbatul adas, bubur berisi kacang. Itupun tak semua pengungsi bisa menikmatinya. Termasuk Bekir.

Jadi bersyukurlah kita yang ada di Indonesia, masih bisa menikmati kue-kue dan hidangan lezat lainnya serta bisa berkunjung ke rumah sanak saudara tanpa harus memikirkan peluru atau pun bom yang mengancam.

 

R24/dev
Berita Riau

Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).

Berita News24xx

Loading...
loading...

Komentar Anda (tidak mengandung SARA)

Tina
Kamis, 07 Juli 2016 10:54 wib
semoga mereka jg dapat merasakan berkah lebaran meskipun ditengah keterbatasan amin ya allah
Upin
Kamis, 07 Juli 2016 10:52 wib
sedih...sedih..sedih...
Damai
Kamis, 07 Juli 2016 10:51 wib
ya allah, kasihan banget
Nama :
Komentar :
     

Berita Terbaru

  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru