riau24 Suhu Panas 60 Derajat Celsius di Iran, Keluar Rumah Bak 'Neraka' | Berita Riau
Minggu, 17 Desember 2017

Gelombang Panas

Suhu Panas 60 Derajat Celsius di Iran, Keluar Rumah Bak 'Neraka'

1
Suhu Panas 60 Derajat Celsius di Iran, Keluar Rumah Bak 'Neraka'
Berita Riau -  Suhu Panas 60 Derajat Celsius di Iran, Keluar Rumah Bak 'Neraka'

Jakarta, Riau24.com - Kawasan Timur Tengah saat ini dilaporkan tengah menghadapi gelombang panas terekstrem yang pernah terjadi. Para ahli bahkan memperingatkan peningkatan suhu tersebut dapat mengancam kelangsungan hidup manusia.


Baca Juga :
Pemkab Kuansing Gesa Perbaikan Jalan Dengan Melakukan Rigid Beton Untuk Percantik Daerah

Seperti dikutip dari News.com.au, Senin (15/8/2016), selama satu bulan terakhir, suhu di Kuwait dan Irak melonjak menjadi 54 derajat Celsius. Sementara di Baghdad, suhu sehari-hari selama dua bulan terakhir adalah 43 derajat Celsius dan dilaporkan terus meningkat.

Di Uni Emirat Arab dan Iran, gelombang panas tercatat 60 derajat Celsius. Ini yang tertinggi sepanjang sejarah.

"Ketika keluar rumah, rasanya seperti berjalan ke dalam api. Seperti semua bagian di tubuh Anda terbakar, kulit, mata, hidung...," ujar seorang mahasiswa asal Basra, Irak, Zainab Guman, kepada The Washington Post.

Kondisi ini sebenarnya telah diperingatkan oleh para ilmuwan. Tahun lalu mereka merilis sebuah studi yang meramalkan bahwa gelombang panas ekstrem yang melebihi daya tahan manusia akan terjadi jika tidak ada yang dilakukan terkait dengan perubahan iklim.


Baca Juga :
Jalan Usaha Tani Dibangun, Petani Bungaraya Ucapkan Terima Kasih Kepada Pemerintah

Dalam studinya, mereka juga meramalkan bahwa gelombang panas ekstrem akan terjadi jauh lebih intens di planet ini setelah 2070. Gejalanya sudah dapat dirasakan beberapa waktu belakangan ini.

Menurut Profesor Elfatih Eltahir, salah seorang penulis studi tersebut, gelombang panas yang tengah terjadi saat ini menjadi alasan kuat bahwa planet ini perlu mengurangi emisi gas rumah kaca.

"Kami berharap informasi seperti ini dapat membantu negara-negara di kawasan untuk memastikan minat mereka terhadap isu pemanasan global," ujar Profesor Eltahir.

Menurut laporan PBB, populasi gabungan dari 22 negara-negara Arab diperkirakan akan bertumbuh dari 400 juta menjadi sekitar 600 juta pada 2050. Sementara itu pada saat yang bersamaan, populasi keseluruhan di dunia akan mencapai 9,7 miliar.

Meski isu pemanasan global semakin gencar digaungkan dalam beberapa tahun terakhir, banyak pihak yang masih meragukan keabsahan terkait studi tersebut. Namun para ahli tak ragu mengatakan bahwa gelombang panas bisa berakibat fatal pada tingkat massal.


Baca Juga :
Dikhawatirkan 100 Orang Di India Tewas Dalam Gelombang Panas

Sarah Perkins-Kirkpatrick, seorang peneliti di Pusat Penelitian Perubahan Iklim UNSW mengatakan bahwa kebanyakan orang tidak menyadari bahwa gelombang panas telah membunuh lebih banyak orang dibanding bencana alam mana pun. Saking banyaknya sehingga dijuluki "silent killer".

Peneliti itu juga menjelaskan bahwa suhu panas yang terjadi di Timur Tengah bukanlah sesuatu yang mengejutkan mengingat kawasan itu tercatat sejarah pernah mengalami situasi serupa. Namun faktanya, belakangan ini kondisi tersebut intens terjadi.

Bencana mengerikan bagi umat manusia

Menurut Sarah, ternyata yang paling terkena dampak dari gelombang panas ini adalah kalangan menengah ke bawah, yakni orang-orang yang bekerja di luar ruangan dan tidak memiliki akses terhadap pendingin ruangan.

"Orang-orang di Timur Tengah terbiasa dengan panas. Ini bagian dari kebudayaan. Mereka memiliki pengalaman dengan suhu tinggi sebelumnya. Namun jika ini semakin intens, maka orang-orang dari kalangan tertentu akan semakin menderita," jelas Sarah.

Sebelumnya, pada awal tahun ini suhu di India pun melonjak ke angka 51 derajat Celsius, yang tertinggi dalam sejarah negara itu. Dampaknya mematikan, di mana terdapat ratusan orang tewas akibat kelaparan karena tanaman tak dapat tumbuh.

Media lokal melaporkan, peristiwa ini memicu tingginya tingkat bunuh diri di kalangan petani. Sebagian besar dari mereka terlilit hutang sehingga yang sudah miskin menjadi lebih miskin.

Pakistan juga dihadapkan pada situasi yang kurang lebih sama tahun lalu. Suhu sejumlah kawasan di negara itu mencapai 45 derajat Celsius dan menurut otoritas lokal, gelombang panas telah menewaskan 700 orang.

Sejauh ini, belum ada laporan resmi korban tewas akibat gelombang panas di Irak. Namun rasanya akan sulit mendapat data statistik terkait hal ini mengingat di negara itu suhu panas tidak terdaftar sebagai penyebab resmi kematian.

Ia juga memperingatkan bahwa dari waktu ke waktu, gelombang panas dapat menyebabkan migrasi massal. Ini akan berimplikasi terhadap seluruh dunia. Sarah mengambil contoh warga Fiji yang terpaksa pindah karena rumah mereka terancam oleh naiknya permukaan air laut.


R24/dev

 

Video Channel Riau24 TV




Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).

Berita News24xx

Loading...
loading...

Komentar Anda (tidak mengandung SARA)

Nelivera
Jumat, 15 Desember 2017 13:53 wib
Ingin bermain judi bola secara online, sangat bijak jika anda tidak memilih sembarang situs? Pilih situs milik agen judi online terpercaya dan terbukti pengalaman nya agen judi bola, bandar judi bola, situs judi bola, agen bola terpercaya, situs bola terpercaya, bandar bola terpercaya, judi bola online, agen bola online, bandar bola online, situs bola online Hanya di Bolavita [URL=http://www.bolavita.net/register/] https://i.imgur.com/wboDtYZ.jpg
Nama :
Komentar :
     

Berita Terbaru

  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru