riau24 Menguak Kejiwaan Jessica Kumala Wongso, Pernah Coba Bunuh Diri Karena Patah Hati | Berita Riau
Sabtu, 16 Desember 2017

Jessica Kumala Wongso

Menguak Kejiwaan Jessica Kumala Wongso, Pernah Coba Bunuh Diri Karena Patah Hati

2
Menguak Kejiwaan Jessica Kumala Wongso, Pernah Coba Bunuh Diri Karena Patah Hati
Berita Riau -  Menguak Kejiwaan Jessica Kumala Wongso, Pernah Coba Bunuh Diri Karena Patah Hati

Jakarta, Riau24.com - Kejiwaan Jessica Kumala Wongso diungkap di persidangan kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin. Dari kesimpulan pemeriksaan, ahli menyatakan kejiwaan Jessica normal dan tidak mendapati gangguan jiwa berat.

Baca Juga :
Sikap Jessica Kumala Wongso Letakkan Paperbag di Atas Meja Disebut Psikolog Sebagai Hal yang Aneh

"Pada saat memeriksa di Departemen Psikiatri, tidak didapatkan gangguan jiwa berat," kata Psikiater Forensik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dr Natalia Widiasih Raharjanti‎ saat bersaksi di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis 18 Agustus 2016.

Natalia dan tim dari RSCM memeriksa Jessica Kumala Wongso pada 11 Februari hingga 16 Februari 2016. Pihaknya melakukan lima tahap pemeriksaan kejiwaan terhadap Jessica Kumala Wongso dengan metode multiaksial diagnosis.

Dia menuturkan, Jessica baru akan menampakkan emosinya ketika mendapatkan tekanan atau masalah. Emosi tersebut, bisa terlihat dari adanya upaya bunuh diri atau melukai diri sendiri yang dilakukan Jessica di Australia.

Natalia mengatakan, kehidupan Jessica pada 2007-2008 baik-baik saja. Akan tetapi pada Desember 2015 banyak masalah yang membuatnya tidak nyaman.

Dari data kepolisian Australia yang dipelajarinya, ada perubahan terhadap kepribadian Jessica Wongso pada Januari 2016. Saat itu Jessica baru saja putus dengan pacarnya.

"Kalau kita pelajari dari pola relasi, transkrip SMS dan e-mail, memang perubahan pada Januari, setelah (Jessica) putus (dengan pacarnya). Sebelumnya, semua rekan kerjanya bilang Jessica sangat baik, ramah pada orang lain, tak pernah lihat ada yang salah. Baru kaget pas (Jessica) masuk rumah sakit, marah, (ini) ada hubungannya dengan putus pacar," beber Natalia.

Selama menetap di Australia, Jessica dirundung berbagai masalah. Mulai dari Jessica mengancam mantan kekasihnya, Patrick, hingga Jessica mencoba mengakhiri hidup.

"Kami melihat rekaman CCTV saat dia (Jessica) mau masuk Rumah Sakit Royal Prince Alfred. Dia mengancam mau bunuh diri. Saat itu Jessica terlihat kontak seseorang, siapa itu yang kami ingin tahu. Kami kemudian ketemu Kristie. Dia adalah atasannya," kata Natalia ketika bersaksi untuk perkara Jessica di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Kepada Natalia, atasan Jessica di New South Wales Ambulans, Australia Kristie Louise Carter bercerita bahwa Jessica adalah orang yang profesional dalam hal pekerjaan, tapi Jessica sangat tertutup.


Baca Juga :
Gerak-Gerik Mencurigakan Jessica Kumala Wongso Dalam Kasus Sianida Maut
 

Dari keterangan Kristie kepada Natalia dan penyidik Polda Metro Jaya saat di Australia, hidup Jessica mulai kacau ketika hubungannya dan Patrick bermasalah pada Januari sampai September 2015.

Jaksa penuntut umum (JPU) Sandy Handika lalu mengonfirmasi ungkapan hati Jessica yang dikatakan kepada Kristie saat Jessica dirawat di RS Royal Prince Alfred. Jessica marah karena diperlakukan seperti pembunuh oleh pihak rumah sakit dan kepolisian setempat.

"Saat di rumah sakit, Jessica mengatakan pada dia (Kristie), 'Para bangsat di rumah sakit ini tidak mengizinkanku pulang. Mereka memperlakukanku seolah-olah saya adalah pembunuh. Kalau saya akan membunuh orang, saya tahu pasti cara menggunakan pistol dan saya tahu dosis yang tepat," ucap Sandy menirukan curahan hati Jessica sesuai pengakuan Kristie.

"Saat ditanya maksudnya apa (berkata seperti itu), dia (Jessica) tidak bisa menjelaskan lebih lanjut," jawab Natalia.

Natalia menambahkan sejak keluar dari rumah sakit, hubungan Kristie dan Jessica mulai merenggang karena sikap Jessica berubah.

 Dari data Australia Federal Police (AFP), diketahui Jessica masuk rumah sakit dua kali karena melakukan percobaan bunuh diri. Pertama pada akhir Januari 2015, Jessica berupaya melukai diri sendiri. Percobaan bunuh diri kedua dilakukan Jessica pada September 2015 dengan cara menyalakan alat panggang hingga seisi kamar apartemennya dipenuhi asap.

"Kalau kami lihat, mulai dari Januari 2015 tanggal 28 itu hanya ancaman akan bunuh diri dengan menelepon Patrick. Namun tanggal 29 sampai 30-nya dia melakukan upaya bunuh diri. Lalu dia sampai menabrak panti jompo tanggal 22 Agustus," ujar Natalia.

Selanjutnya, pada 15 November Jessica menyayat tangannya sendiri dengan pisau. Dan pada 22 November, kepolisian setempat menemukan pesan yang ditulis Jessica, di mana Jessica menempatkan diri seolah-olah sudah meninggal.

"Tanggal 22 November ada suicide note. Dia minum alkohol dengan pesan bunuh diri seolah-olah pesan dia saat sudah meninggal."

Surat tersebut berisi kekecewaan Jessica karena Patrick tak menepati janji dan meninggalkannya. Padahal Jessica sudah melakukan banyak hal untuk Patrick.

Selain itu, Jessica merasa keluarganya tidak memperhatikannya, sehingga ia merasa tak ada guna melanjutkan hidup.


Pengacara Jessica, Otto Hasibuan kecewa terhadap sikap jaksa penuntut umum (JPU) yang menggali hubungan pribadi kliennya selama tinggal di Australia. Apalagi yang ditanyakan tidak ada kaitannya sama sekali terhadap hubungan Jessica dengan Wayan Mirna Salihin.

"Jadi kalau tingkat emosinya (Jessica) tinggi, apa kaitannya dengan Mirna? Ini lost. Jadi saya menganggap menanyakan latar belakang Jessica ini hanya merupakan pembunuhan karakter Jessica. Secara hukum itu tidak ada artinya," ujar Otto di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (18/8/2016).

Dalam hal ini, JPU beralasan menggali latar belakang kehidupan Jessica dengan pacarnya untuk menunjukkan eskalasi emosi sang terdakwa. Namun itu dianggap Otto salah. Apalagi eskalasi emosi yang digali tidak berkaitan dengan Mirna yang dalam kasus ini sebagai korban.

Otto mengatakan, apa yang dikatakan teman Jessica terkait sikap buruknya adalah sesuatu hal yang wajar. Terlebih jika orang itu tidak suka dengan Jessica. Sehingga, kata Otto, keterangan mereka yang merupakan rumor itu tidak bisa dijadikan dasar pada persidangan.

"Wajar dong kalau marahan sama teman, orangnya jelek-jelekin. Itulah yang saya katakan tadi sebagai pembunuhan karakter. Jadi apa pun yang terjadi, itu risiko yang ditanggung oleh Jessica," ujar Otto.

Akibat hal ini, kata Otto, kondisi Jessica semakin tertekan. Apa yang dilakukan Jessica selalu dipandang salah.

 

 

 

Video Channel Riau24 TV




Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).

Berita News24xx

Loading...
loading...

Komentar Anda (tidak mengandung SARA)

Nelivera
Selasa, 21 November 2017 19:00 wib
SABUNG AYAM DAN PACUAN KUDA ======> AYOKJOIN SEKARANG JUGA Minimal deposit hanya 50 ribu. ada bonus deposit 10% untuk member baru dan bonus deposit harian sebesar 5% ayo untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi CS kami di sini Terima kasih dan salam succecs Form Bolavita !! [URL=http://www.bolavita.net/register/] https://i.imgur.com/JEXULa0.jpg
RonMibDrive
Jumat, 29 September 2017 20:49 wib
Cheap Cialis Tablets viagra cialis Can Dogs Take Amoxicillin Zithromax Tri Pak Dose Viagra W Overnight Shipping
Nama :
Komentar :
     

Berita Terbaru

  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru