riau24 Dituduh Sandra Penyidik Kemen LHK, Warga: Itu Tidak Benar | Berita Riau
Sabtu, 16 Desember 2017

Dituduh Sandra Penyidik Kemen LHK, Warga: Itu Tidak Benar

0
Berita Riau -  Dituduh Sandra Penyidik Kemen LHK, Warga: Itu Tidak Benar
Pekanbaru, Riau24.com- Masyarakat Desa Bonai, Kecamatan Bonai Darusalam, Rokan Hulu membantah tuduhan telah melakukan penyanderaan terhadap tujuh Penyidik Pegawai Negeri Sipil, Kementerian Lingkungan Hidup yang tengah melakukan penyelidikan kebakaran hutan dan lahan di desa tersebut.
 
Kepala Badan Pemberdayaan Desa Bonai Jefriman mengaku, mereka hanya tidak senang dengan cara ketujuh PPNS Kemen LHK masuk ke wilayahnya tanpa izin pemuka masyarakat setempat. Terlebih, para penyidik menyegel lahan terbakar milik kelompok tani karena dianggap melakukan tindakan pidana membakar lahan.
 
"Adat istiadat kami mengajarkan, kalau masuk wilayah orang lain itu permisi, ibaratnya ketuk pintu dulu, " kata Jefriman, Senin, 5 September 2016.
 
Jefriman keberatan jika aksi massa yang meminta jawaban maksud dan tujuan penyidik memasuki wilayahnya sebagai bentuk penyanderaan. Mereka hanya tidak senang dengan penyidik PPNS masuk wilayah tanpa izin, lalu menuduh masyarakat melakukan pembakaran hutan dan lahan.
 
"Jika mereka masuk atas seizin pemuka masyarakat, kami justru akan bantu mereka untuk melakukan investigasi," katanya.
 
Jefriman membantah telah melakukan penyanderaan para penyidik. Selama disana kata dia, tidak benar masyarakat melakukan intimidasi ataupun kekerasan.
 
"Tidak benar disandera, itu terlalu ekstrim sekali istilah," ucapnya.
 
Masyarakat kata dia, hanya ingin para pejabat daerah di hadirkan ditempat kejadian, begitu juga Menteri Siti Nurbaya untuk turun langsung kelapangan sehingga masyarakat dapat langsung menyampaikan fakta sebenarnya kepada menteri.
 
Dalam hal ini kata dia, masyarakat yang tergabung dalam kelompok tani justru menjadi korban kebakaran lahan. Kebun kelapa sawit usia produktif dan siap panen habis terbakar.
 
"Kami ini korban, tidak mungkin kami membakar lahan yang sudah produktif, kami tidak terima dituduh membakar lahan," jelasnya.
 
Jefriman menjelaskan, kebakaran lahan yang menjalar ke perkebunan kelompok tani tersebut disebabkan oleh lompatan api dari lahan milik masyarakat perorangan.
 
"Api itu berasal dari lahan masyarakat perorangan," katanya.
 
Cuaca panas dan angin kencang membuat api menjalar ke perkebunan warga yang tergabung dalam kelompok tani yang bekerja sama dengan perusahaan PT Andika Pratama Sawit Lestari dengan pola bapak angkat atau Kredit Koperasi Primer Anggota (KKPA). Akibatnya 160 hektare kebun sawit kelompo tani di Desa Bonai Terbakar.
 
Dia membantah telah melakukan intimidasi dengan meminta penyidiki menghapus seluruh foto, rekaman hasil investigasi dan mencabut segel lahan terbakar.
 
"Mereka sendiri yang menawarkan foto dan rekaman itu dihapus," katanya.
 
Dia menegaskan, tidak ada aksi massa tersebut dikerahkan oleh perusahaan seperti yang disebutkan dalam rilis Menteri Siti Nurbaya. Menurutnya, aksi tersebut spontanitas dilakukan masyarakat untuk meminta aparat daerah ataupun Menteri Siti turun langsung ke lapangan mendengarkan keluhan warga yang justru jadi korban kebakaran lahan.
 
"Tidak benar itu pengerahan warga oleh perusahaan," ucapnya.
 
Jefriman mengaku tidak ada niat merendahkan wibawa negara seperti yang dituduhkan Menteri Siti. Dia beserta warga lainnya meminta maaf jika sikap mereka dinilai tidak pantas oleh Negara.
 
"Tidak ada niat menjatuhkan wibawa Negara, jika cara kami tidak pantas, kami minta maaf," ucapnya.
 
Juru Bicara PT Andika Novalina Sirait membantah perushaan yang mengerahkan masa menjegal para penyidik. "Itu tidak benar," katanya.
 
Novalina mengakui, tidak ada lahan tebakar milik perusahaan. Kata dia, lahan yang terbakar merupakan milik kelompok tani dibawah binaan PT Andika dengan pola bapak angkat atau KKPA. Dalam hal ini kata dia, perusahaan sebagai pemodal begitu juga masyarakat kelompok tani telah merugi karena sawit yang telah produktif terbakar.
 
"Kami itu rugi besar, sebagai pemodal harus membayar bunga bank, begitu juga masyarakat yang kehilangan kebun sudah produktif," ucapnya.
 
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).

Berita News24xx

Loading...
loading...

Komentar Anda (tidak mengandung SARA)

Nama :
Komentar :
     

Berita Terbaru

  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru