riau24 Perjuangan Edi, Buruh Pabrik di Cakung yang Merawat Anak dengan Gangguan Hati | Berita Riau
Jumat, 15 Desember 2017

Kisah Inspirasi

Perjuangan Edi, Buruh Pabrik di Cakung yang Merawat Anak dengan Gangguan Hati

0
Perjuangan Edi, Buruh Pabrik di Cakung yang Merawat Anak dengan Gangguan Hati
Berita Riau -  Perjuangan Edi, Buruh Pabrik di Cakung yang Merawat Anak dengan Gangguan Hati
Jakarta, Riau24.comEdi Purwanto (36 tahun), seorang buruh di Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta Timur, hidup seperti kalong.

Demi merawat anak keduanya, Fachri Alfaqi Khairullah (18 bulan) yang mengidap Atresia Billier, ia harus mengorbankan waktu istirahatnya untuk mengambil pekerjaan di shift malam.


"Masuk jam 7 malam, kadang-kadang sampai subuh baru selesai. Kalau masih sempat ya tidur dulu 1-2 jam, paginya kami antar Fachri ke Cipto," kata Edi, yang tinggal di sebuah kamar kontrakan di belakang Pasar Sebun, Kelurahan Jatinegara, Cakung, Jakarta Timur.

Dengan motor Suzuki Shogun warna biru kebanggaannya, karyawan yang bekerja di bagian pengiriman barang ini hampir setiap hari membawa Fachri ke RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) untuk periksa.
Anak keduanya tersebut tengah dipersiapkan untuk menjalani operasi transplantasi hati akhir bulan ini, dan jika tidak ada halangan Edi sendiri yang akan menjadi donornya.


Fachri lahir 18 bulan lalu di Kebumen, Jawa Tengah, tempat istri Edi, Siti Kholifah berasal. Sejak umur 2 bulan, bocah laki-laki ini badannya mulai menguning. Bidan sudah angkat tangan, demikian juga klinik terdekat yang merawatnya. Fachri saat itu lalu dirujuk ke RS Dr Sardjito, Yogyakarta.

"Sempat di Sardjito. Tapi karena harus bolak-balik kontrol dari Kebumen ke Jogja, akhirnya kami bawa ke Jakarta. Jauh dan repot juga Mas, tiap kontrol harus carter mobil," tutur Siti.

Akhirnya sejak November 2015, Fachri menjalani perawatan di RSCM. Menurut Edi, hampir setiap hari ia dan istrinya harus membawa Fachri ke RSCM karena ada banyak skrining yang harus dijalani, mulai dari gizi, saluran cerna, jantung, dan sebagainya.



Saat mengunjungi Fachri di kontrakannya, kondisi bocah ini kelihatan cukup aktif dan sehat walau ada selang NGT (Naso-Gastric Tube) tertanam di lubang hidungnya.
Ia juga lahap mengunyah sosis, sementara ibunya memasukkan 120 mL susu formula melalui selang NGT yang terhubung langsung ke lambungnya.


"Satu tabung begini biasanya habis dalam 30-60 menit. Nggak boleh terlalu cepat karena nanti bisa muntah, dan kalau terlalu lama nanti susunya yang basi," jelas Siti.

Menurut Edi, berat badan Fachri menjelang operasi cukup terjaga. Namun gangguan fungsi hati yang dialami Fachri membuat daya tahan tubuhnya sangat lemah. Sulit diprediksi, sewaktu-waktu kondisi Fachri bisa drop dan mudah tertular penyakit.

Saat ini, yang tengah menjadi beban bagi Edi adalah memikirkan biaya perawatan Edi. Untuk skrining saja, sekurang-kurangnya ia sudah menghabiskan Rp 15 juta dari kantongnya sendiri. Belum lagi untuk operasi transplantasi, yang kabarnya butuh biaya lebih dari Rp 1 miliar.

"Yang saya dengar, BPJS hanya menanggung Rp 250 juta. Sisanya, ya kami cuma berharap ada donatur yang membantu," kata Edi.

Sumbangan susu formula dari Yayasan Portal Infaq misalnya, diakui oleh Edi cukup banyak membantu. Ke depan, ia masih harus memikirkan biaya perawatan pasca transplantasi karena kelak Fachri akan selamanya butuh obat dan kontrol rutin supaya hati cangkokannya bisa diterima dengan baik oleh tubuhnya.




R24/dev 

Video Channel Riau24 TV




Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).

Berita News24xx

Loading...
loading...

Komentar Anda (tidak mengandung SARA)

Nama :
Komentar :
     

Berita Terbaru

  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru