riau24 Penghargaan UNESCO Pada Batik Indonesia, Bak Pisau Bermata Dua | Berita Riau
Jumat, 15 Desember 2017

Jakarta

Penghargaan UNESCO Pada Batik Indonesia, Bak Pisau Bermata Dua

0
Batik Indonesia
Berita Riau -  Penghargaan UNESCO Pada Batik Indonesia, Bak Pisau Bermata Dua

Jakarta, Riau24.com- Di era sekarang, agaknya batik semakin diminati masyarakat luas. Batik tak lagi dipandang sebagai sesuatu yang kuno, melainkan unik. Beberapa orang pun sudah mengenakan batik layaknya busana sehari-hari.

Ketertarikan masyarakat terhadap batik tentu tak lepas dari campur tangan produsen batik. Mereka berlomba-lomba menciptakan motif batik terbaru dengan warna-warna yang cerah. Tak hanya itu, potongan busana yang dijual juga semakin modern. 

"Itu berarti prospek batik di masa depan akan sangat luar biasa," ujar Nita Kenzo, di acara Batik Fashion Week 2016 di Jakarta, belum lama ini.

Ia menambahkan, "Apalagi setelah pencanangan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional, pemerintah mewajibkan dalam satu minggu harus ada batik dalam satu hari. Bahkan ada yang dua hari [dalam seminggu], dan ada juga yang enam hari pakai batik lalu satu hari pakai baju bebas," tambah Nita.

Menurutnya, hal tersebut dapat dijadikan senjata untuk menguatkan industri batik, pun membangkitkan batik di seluruh Indonesia.

Wanita yang kini menjabat sebagai Ketua Yayasan Batik Indonesia ini juga mengaku bangga melihat banyak provinsi di Indonesia yang mulai membuat motif batik dengan ciri khasnya masing-masing. 

"Padahal sebelumnya enggak punya batik, tapi kemudian mereka membuat batik dari hasil kota mereka dan itu adalah sebuah kemandirian bagi provinsi mereka karena tidak perlu lagi membeli batik dari daerah lain," katanya.

Selain itu, tambahnya, produksi batik dari masing-masing daerah dianggapnya bisa mengurangi angka kemiskinan serta pengangguran lantaran masyarakat memiliki lapangan pekerjaan baru. Bahkan, jika ditekuni lebih lanjut, menjadi perajin batik juga dapat meringankan beban ekonomi keluarga.

"Tapi perlu diingat, kita harus tetap mendahulukan batik tradisi [batik tulis dan batik cap]. Itu yang utama. Saat ini serangan printing juga luar biasa," ujarnya.

Nita beranggapan bahwa penghargaan yang diberikan oleh UNESCO tersebut bagaikan pisau bermata dua. Pasalnya, di satu sisi penghargaan tersebut memberikan semangat yang luar biasa pada produsen batik printing. Namun, di sisi lain justru membuat produksi batik tradisi semakin terpuruk.

Untuk itu, salah satu cara yang ia gunakan untuk melestarikan batik tradisi adalah dengan program Batik Karya Saya yang diselenggarakan dalam acara Hari Batik Nasional. Di program itu, Yayasan Batik Indonesia memberikan lokakarya membatik kepada 50 siswa jurusan tata busana di SMK 27 Jakarta. 

"Dengan begitu, mereka akan tahu mana yang batik dan mana yang bukan, tanpa harus melihat prosesnya. Karena batik itu bukan benda, melainkan proses pembuatan," jelas Nita.

"Jadi kalau ingin anak cinta dengan batik, maka harus mengerti prosesnya seperti apa," tutupnya.

Video Channel Riau24 TV




Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).

Berita News24xx

Loading...
loading...

Komentar Anda (tidak mengandung SARA)

Nama :
Komentar :
     

Berita Terbaru

  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru