riau24 Mendongeng, Dapat Ajarkan Anak Berantas Korupsi | Berita Riau
Kamis, 08 Desember 2016

Pekanbaru

Mendongeng, Dapat Ajarkan Anak Berantas Korupsi

0
Mendongeng, Dapat Ajarkan Anak Berantas Korupsi
Berita Riau -  Mendongeng, Dapat Ajarkan Anak Berantas Korupsi
Pekanbaru, Riau24.com- Pendongeng kawakan asal Bali, I Made Taro yang telah berkecimpung di dunia dongeng selama 43 tahun menaruh perhatian khusus terhadap keberlangsungan mendongeng di Indonesia saat ini. Ia prihatin, kini tradisi mendongeng dari orang tua ke anak semakin berkurang.


"Dulu bercerita itu jadi tradisi lisan; dari orang tua ke anak, atau kakek-nenek ke cucunya. Dilakukan untuk mengantar tidur, atau dikenal sebagai penina bobo. Itu terjadi setiap hari. Nah, sekarang tradisi itu hilang," tutur Made Taro yang terkenal karena dongeng Bawang dan Kesuna serta Bebek Punyah.


Nabilla, Ibu salah satu anak bernama Akilla, menuturkan meski sumber cerita disebutnya tidak sulit didapatkan, dia jarang mendongeng untuk putrinya karena terkadang sulit melawan "ego sendiri".


"Tinggal orang tuanya, mau atau tidak. Dan menghilangkan rasa lelah (yang sulit), apalagi kalau pulang kerja. Secapek apapun saya, saya harus ceria di hadapan anak. Meskipun hanya 15 menit untuk bercerita, itu butuh effort," ungap Made Taro.


Alasan semakin berkurangnya minat orang tua mendongeng itulah yang membuat Ariyo Zidni menyelenggarakan Festival Dongeng Internasional Indonesia 2016.


Menurut pustakawan yang telah mendongeng ke Malaysia, Singapura hingga ke India itu, "siapapun bisa bercerita. Pada dasarnya semua orang senang mendengarkan cerita dan senang bercerita."


Dia pun menghadirkan sejumlah pendongeng dari dalam negeri, termasuk I Made Taro, dan beberapa pendongeng asing, misalnya dari Inggris, Korea Selatan dan India. Dengan memperlihatkan bagaimana mereka bercerita, Ariyo ingin orang tua tahu bahwa "mendongeng itu tidak susah dan tidak membutuhkan waktu panjang."


"Tidak perlu harus pakai boneka, pakai nyanyian atau lagu, pakai kekuatan suara saja cukup," ceritanya.


Laki-laki yang ikut ambil bagian dalam kegiatan trauma healing usai bencana Tsunami Aceh 2004 dan Gempa Bantul Yogya 2006 itu pun menyebut bahwa orang tua harus terus mendongeng karena "banyak hal ajaib" yang bisa diperoleh.


Menurut Ariyo, "seorang anak bisa menambah kosa kata, belajar matematika, memperkuat logika, dan memperkaya imajinasi dari mendengarkan dongeng."


Berdasarkan penelitian, dengan mendengarkan cerita, anak akan menciptakan gambaran mental berbagai karakter dan situasi. Jika si anak diminta untuk menuliskan ceritanya sendiri, maka kemampuan visualisasi di otak tersebut akan menjadi bank ide yang akan membantunya berkarya.


"Selain itu dongeng, bahkan dongeng lokal, bisa digunakan orang tua untuk menanamkan nilai-nilai tertentu," lanjut Ario.


Misalnya nilai kejujuran, hormat kepada orang tua dan kerja keras, yang disebut Made Taro sebagai sejumlah sikap dasar "anti korupsi".


"Nilai kejujuran itu lewat cerita Bawang Merah dan Bawang Putih. Malin Kundang, yang menggambarkan kewajiban untuk menghormati orang tua. Dan Timun Mas yang memperlihatkan kerja keras melawan koruptor serakah yang digambarkan sebagai raksasa," sambung Made Taro.


Lebih jauh lagi, agar anak terhindar dari bibit-bibit sifat korupsi, pendongeng Bali tersebut menekankan orang tua Indonesia harus mulai mengurangi dongeng tentang "orang-orang yang pasrah menerima nasib, dan tiba-tiba diberi peruntungan".


"Misalnya cerita Si Penidur, yang tidak bekerja apa-apa, tahu-tahu ditimpa emas. Itu harus dihindari," cerita Made Taro sambil tergelak.


Namun, saat ini tak bisa dipungkiri bahwa anak-anak sekarang jarang mendengar dongeng tetapi senang bermain gadget.


Menurut pendongeng gaek tersebut, "perkembangan zaman, teknologi itu tidak dapat ditolak, tidak dapat dibatalkan. Gadget itu seharusnya bisa dijadikan media mendongeng. Masukkan cerita ke gadget," tuturnya.


Setidaknya tujuh buah dongeng karya Made Taro telah disadur dalam bentuk audio-visual sehingga bisa diakses anak menggunakan berbagai teknologi seperti telepon pintar.


Namun, ketika ide itu ditanyakan ke sejumlah orang tua yang hadir di festival dongeng, ternyata tidak sedikit yang menolak. Misalnya Septi, yang mengaku masih senang mendongeng langsung untuk anaknya.


"Kalau gadget itu untuk anak lihat gambar-gambar aja lah. Kalau untuk dongeng, mendinglangsung dari kita, sekalian quality time. Jadi semakin erat, semakin akrab sama anak. Ada ikatannya. Jadi kalau ada apa-apa mau langsung cari kita buat cerita," ceritanya.


Namun, bagaimanapun caranya, menurut Ariyo Zidni, yang penting anak tetap mendengarkan cerita.


"Cerita tak harus pilih cerita yang bagus-bagus. Pilih yang kita kuasai. Jadi, nggak perlu meniru pak Made Taro, yang kadang mendongeng menggunakan alat musik. Karena anak tidak memperhatikan orang tuanya harus bercerita seperti apa. Yang penting bagi anak, ada orang tua di samping mereka, bercerita," pungkas Ariyo.


R24/uci

Sumber:
Bbcindonesiacom
#Tagline News : Riau | Berita Riau | Berita PekanbaruBerita Kampar | Berita Siak | Berita Inhu | Berita Inhil | Berita Bengkalis | Berita Rohil | Berita Meranti | Berita Dumai | Berita Kuansing | Berita Pelalawan | Berita Rohul
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).
loading...

Komentar Anda (tidak mengandung SARA)

Nama :
Komentar :
     

Berita Terbaru

  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru

Versi Mobile

   Riau24.com
                       Informasi Anda Genggam