riau24 Fesmed Tampilkan Film Atas Nama Moralitas dan Agama | Berita Riau
Senin, 05 Desember 2016

Pekanbaru

Fesmed Tampilkan Film Atas Nama Moralitas dan Agama

0
Fesmed Tampilkan Film Atas Nama Moralitas dan Agama
Berita Riau -  Fesmed Tampilkan Film Atas Nama Moralitas dan Agama
Riau24.com-Persoalan suku, adat, ras dan suku (SARA) masih menghantui beberapa daerah di Indonesia. Tak sedikit pula daerah yang masih sering terjadi konflik antar warga yang menyangkut isu SARA.

Maka dari itu aliansi Jurnalis Independen (AJI) mempertontonkan Film Atas Nama Moralitas dan Agama yang menceritakan tentang lemahnya daya ikat sesama manusia usai masa reformasi.

Sebab, menurut film tersebut masyarakat masih teringat dengan rezim orde baru dan masuk dalam kotak masing masing yaitu Kotak ras,  agama,  suku dan lain-lain. 

Adanya konflik terbuka, seperti di daerah Madura tidak menutup kemungkinan terjadi konflik tertutup. Namun di daerah yang tidak mengalami konflik terbuka, tetap mencerminkan identitas-identitas SARA tertentu. 

Seperti contohnya kasus rumah warga Ahmadiah terbakar di salah satu daerah di Bali. Walaupun terlihat menerima, tetapi tetap ada gejolak yang sebenarnya berada di ujung tanduk.

"Ahmadiah di Indonesia 1925. 1930 resmi berdiri. Delapan tahun setelah merdeka Ahmadiah mempunyai badan hukum. Tapi kenapa Ahmadiah dianggap sebagai anarkis" ucap salah seorang penganut Ahmadiah. 

Ia berpendapat masalah Ahmadiah sebaiknya jangan di dramatisir. Menurutnya, ada dua versi Di Ahmadiah Ahamadiah versi Ahmadiah dan Ahmadiah versi MUI. 

"Pada Ahmadiah versi Muhamadiah masih mengakui adanya Nabi Muhammad namau pada Ahmadiah versi MUI tidak mengakui adanya Nabi Muhammad," tutur tokoh besar Ahmadiah.

Kemudian, mengenai penerapan syariat islam, banyak yang kebingungan dengan implementasi pada aturan berbusana bagi wanita.

"Saya merasa gerak saya tertahan, karena ketentuan itu masih membingungkan, seperti ini loh seharusnya,  tapi itu tidak ditetapkan. Aneh dilihatnya," ucap warga Aceh.

Iapun mengungkapkan, kesejahteraan perempuan di Aceh masih kurang. Terlihat dengan tingginya angka kematian dan kurangnya pendidikan. "Negara telah merenggut jati diri perempuan, termasuk mengekspresikan dirinya maupin tidak. Ada faktor ekonomi, politik dan agama," pungkasnya.

R24/ntg

Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).

Komentar Anda (tidak mengandung SARA)

Nama :
Komentar :
     

Berita Terbaru

  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru

Versi Mobile

   Riau24.com
                       Informasi Anda Genggam