riau24 Warga Miskin Ini Butuh Perhatian, Dimana Pemkab Rokan Hilir? | Berita Riau
Selasa, 06 Desember 2016

Feature

Warga Miskin Ini Butuh Perhatian, Dimana Pemkab Rokan Hilir?

0
Warga miskin butuh perhatian Pemkab Rokan Hilir (Foto: Sawal)
Berita Riau -  Warga Miskin Ini Butuh Perhatian, Dimana Pemkab Rokan Hilir?
Rohil, Riau24.com- Perihnya kehidupan harus tetap dijalani dengan ikhlas oleh dua orang abang-adik ini. Bukan bahagia yang mereka rasakan di ujung usia tua. Miskin dan sakit-sakitan menemani hari mereka di sebuah gubuk derita.
 
Mereka adalah Edi (45) dan abangnya  Udin (58), warga Kepenghuluan Bagan Punak Pesisir, Kecamatan Bangko, Rokan Hilir (Rohil).
 
Edi dan Udin, tinggal disebuah gubuk kecil yang sangat-sangat tidak layak huni dijalan Kampung Nelayan Baru, RT 07 RW 02. Di gubuk yang berukuran 2x3 meter inilah mereka berdua tetap bertahan hidup tanpa ada perhatian dari pihak manapun.
 
Tampak, gubuk yang sudah ditempati selama hampir 10 tahun itu sudah mau tumbang. Bagian kayu penyanggah empat sisi pondasi gubuk itu sudah keropos. Dinding-dindingnya juga sudah banyak yang mau lepas. Bahkan sebagian dindingnya sudah dilapis seng bekas.
 
Parahnya lagi, atapnya juga sudah bocor. Jika hujan, tidur dalam kebasahan bagi mereka sudah biasa. Sedangkan pintu masuknya hanya terbuat dari gorden bekas berwarna pink yang sudah bercampur hitam akibat terlalu lama tidak diganti.
 
Mungkin, para pejabat setempat baik RT, RW maupun datuk Penghulunya tidak mengetahui keberadaan mereka. Sebab, posisi gubuk tersebut berada di sisa pekarangan belakang rumah Rahman. Sehingga jika hanya melintas dijalan itu, tampaknya tak lebih seperti kandang kambing.
 
Untuk bertahan hidup, saat ini mereka hanya mengharap belas kasih dari saudara kandungnya yang bernama Rahman (52). Pasalnya diusia mereka yang sudah tua itu, mereka tidak memiliki lagi tenaga untuk kembali bekerja sebagai nelayan di wilayah perairan Bagansiapiapi. Ditambah lagi kondisi keduanya yang sudah sakit-sakitan.
 
Edi sendiri hanya bisa pasrah menjalani hidupnya. Setiap hari ia dan abangnya hanya menghabiskan waktu di gubuk reot itu berdua. Ia hanya bisa menampilkan raut wajah sedih ketika ditanya dimana anak istrinya berada.
 
Diapun tidak bisa memaksakan istri dan anak perempuannya untuk tetap tinggal bersamanya. Dia menyadari dengan kondisi fisiknya yang sudah tidak berdaya itu, tidak sanggup memberikan nafkah lagi pada anak istrinya. Sehingga istrinya memutuskan untuk kembali kepada orang tuanya di Kepenghuluan Serusa Kecamatan Bangko.
 
“lamo dah ditingal istri, hampir duo tahun balik keumah umaknyo. Aku kuang sehat, kojo pun tak tolok,” ujar Edi dengan logat melayunya dengan raut wajah sedih seraya mata berkaca-kaca, Kamis (24/110 ketika ditemui digubuknya.
 
Disamping itupun ia juga harus mejaga dan memperhatikan abangnya. Abangnya sendiripun saat ini sudah susah untuk diajak berkomunikasi. Tidak seperti orang normal lagi, Udin taunya hanya makan tidur dan berkata ngaur jika sudah lapar atau terlambat memberinya makan.
 
“Tak usah tanyo dio ( Udin, red) lei, dio tak tau apo yang ondak di cakapnya (Jangan tanya Udin lagi, dia tidak tahu mau berkata apa),” saran Edi ketika wartawan media ini menanyakan sesuatu tentang Udin.
“Saya dulu sekolah, pernah tamat SD. Ia dulu di SD pernah saya,” timpal Udin ketika ditanyai berapa usianya saat ini.
 
Sementara itu Rahman yang juga kondisinya sudah terkena penyakit kronis, mau tidak mau harus menjaga dan merawat keduanya saudaranya itu sendiri. Terlebih lagi, ia juga harus merawat diri sendiri karena istrinya telah meninggal dunia tahun ini.
 
Menurut pengakuannya, kedua saudaranya itu tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah Kepenghuluan setempat selama tinggal disitu. Jangankan bantuan rumah layak huni, bantuan kecil seperti Raskin maupun BLT saja tidak pernah dicicipi sama sekali.
 
Rahman juga sudah banyak mendapat masukan dari teman atau tangganya untuk mengajukan proposal bantuan kepada Pemerintah Kabupaten. Namun, karena kondisi keterbatasan pengetahuannya, ia tidak tahu bagaimana jalannya agar kedua sauaranya itu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia hanya berharap kepada orang yang datang untuk mau membantu menolong saudaranya itu.
 
“Saya tak tahu mau bagaimana lagi, sudah banyak yang sarankan begini begitu supaya dapat bantuan, tapi saya tidak pandai ngomongnya. Saya Cuma bisa berharap ada yang mau menolong,’ katanya. (ms)
 



 
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).

Komentar Anda (tidak mengandung SARA)

Nama :
Komentar :
     

Berita Terbaru

  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru

Versi Mobile

   Riau24.com
                       Informasi Anda Genggam