riau24 Kisah Cinta Yang Unik, Ketika Bung Hatta Menikah Usai Indonesia Merdeka | Berita Riau
Sabtu, 03 Desember 2016

TAHUKAH ANDA

Kisah Cinta Yang Unik, Ketika Bung Hatta Menikah Usai Indonesia Merdeka

0
Kisah Cinta Yang Unik, Ketika Bung Hatta Menikah Usai Indonesia Merdeka
Berita Riau -  Kisah Cinta Yang Unik, Ketika Bung Hatta Menikah Usai Indonesia Merdeka
Pekanbaru, Riau24.com - Selama ini kisah cinta Mohammad Hatta, wakil presiden Indonesia pertama dan istrinya, Rahmi tidaklah terlalu banyak diketahui oleh generasi muda sekarang ini. Padahal kisah cinta keduanya tergolong unik dan mengharukan.

Bung Hatta yang karena terlau sibuk mengurusi pergerakan nasional, hinggas sering sekali keluar masuk penjara, termasuk diasingkan di Digoel, membuat ia terlambat menikah.

Beliau menikahi Rahmi Hatta pada 18 November 1945, disaat sudah berusia 43 tahun.


Hatta memang sangat serius dengan cita-citanya. Semasa kuliah di Belanda, dia sangat rajin belajar, membaca dan menulis. Pernah seorang gadis Polandia yang jelita menggodanya, namun Hatta tak tertarik. Jika Patih Gajah Mada memiliki Sumpah Palapa, yakni tidak akan makan buah palapa (simbol dari kenikmatan hidup) sebelum nusantara bersatu, Bung Hatta pun bertekad, tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka.

Baca Juga :
 Ini Alasan Kenapa SBY Tidak Masuk Daftar Tamu Acara Syukuran Antasari

 

Sebenarnya, hati Bung Hatta pernah tertambat kepada seorang gadis bernama Anni. Namun, karena berbagai hal, termasuk kesibukan Bung Hatta, mereka tak menikah. Anni pun menikah dengan Abdul Rachim dan memiliki dua orang puteri, yakni Titi dan Rahmi.
Tak dinyana, saat Bung Hatta bertekad untuk menikah, ternyata gadis yang dipilih adalah Rahmi Rachim, putri dari Anni, yang usianya memang jauh lebih muda dari beliau. Ibaratnya, tak dapat akar rotan pun jadi. Cinta memang aneh. 
 

Yang cukup unik juga, Bung Hatta tidak memberikan mas kawin berupa perhiasan, barang-barang berharga, atau benda-benda sebagaimana lazimnya para suami lainnya.
Mas kawin Bung Hatta untuk Rahmi adalah… buku!
Buku yang dia tulis sendiri saat tengah diasingkan di Digoel. Judulnya: ALAM PIKIRAN YUNANI. Bagi Bung Hatta, memang tak ada yang lebih berharga daripada buku. Ketika diasingkan di Digoel, Bung Hatta bahkan memboyong koleksi buku-bukunya yang jumlahnya mencapai belasan peti!

Kisah cinta pasangan ini berawal dari suatu malam di tahun 1943. Pengacara Mr. Sartono mengadakan jamuan makan malam di rumahnya di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur.
Sejumlah tokoh pergerakan hadir di sana. Acara yang dibuat untuk memberi ucapan kepada Soekarno itu juga dihadiri Mohammad Hatta dan keluarga Ny S.S.A. Rachim beserta dua anak gadisnya, Rahmi Rachim (17) dan Raharty (14).
Sartono sengaja mengundang mereka untuk merayakan kepulangan Bung Karno dari Bengkulu, tempat pembuangannya. Acaranya santai. Ramah tamah mengalir dengan gembira.

Saat itu, Hatta datang sendirian. Dia memang belum berkeluarga meski sudah berusia 41 tahun. Ini berkaitan dengan nazar Hatta yang tak akan menikah sebelum Indonesia merdeka. Hal itu mengusik perhatian Bung Karno.

Sebagai seorang sahabat, ia ingin mencarikan pendamping buat Hatta. Hingga kemudian menjelang kemerdekaan, Bung Karno mendatangi rumah keluarga Ny Rachim di Bandung, Jawa Barat. Dalam kunjungan tersebut, Soekarno bertanya kepada Ny Rachim, "Gadis mana yang tercantik di Bandung?" Mendengar pertanyaan itu, Ny Rachim tampak bingung. Ia akhirnya menyebut sejumlah nama. "Ada Olek, putri Ibu Dewi Sartika. Meta, putri dokter Sam Joedo yang terkenal di Bandung, atau Mieke, kerabat dokter itu," ujar Ny Rachim, sekenanya.
 

"Kenapa? Ada apa Mas Karno tanya-tanya tentang gadis-gadis cantik?" Ny Rachim pun bertanya balik. Mendengar pertanyaan itu, Soekarno juga menjawab dengan sekenanya, "Ah, tidak apa-apa. Tanya-tanya kan ndak salah?" Pembicaraan pun terputus. Soekarno kembali ke Jakarta.

Tepat 17 Agustus 1945, Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Tiga bulan setelah kemerdekaan, Bung Karno kembali datang ke kediaman Ny Rachim.
Kali ini bersama sahabat karibnya, dokter Soeharto. Di rumah itu, Soekarno langsung mengutarakan niat kedatangan. "Begini, saya mau melamar," kata Bung Karno. Ny Rachim balik bertanya, "Melamar siapa?"

"Melamar Rahmi," kata Soekarno. Ny Rachim lagi-lagi kebingungan. "Untuk siapa?" kejarnya. Dengan suara yang terdengar jelas Soekarno menjawab, "Untuk teman saya, Hatta."
Suasana menjadi hening. Bagi keluarga Ny Rachim, Soekarno dan Hatta memang bukan orang baru. Bahkan, seluruh anak Ny Rachim memanggil kedua tokoh ini dengan sebutan Om Karno dan Om Hatta. Meski begitu, lamaran Soekarno tetap saja mengagetkan.

Dengan nada bijak, Ny Rachim mengatakan, "Mas Karno, mengenai lamaran ini, saya harus bertanya dulu kepada anak saya, Rahmi. Menurut saya, dia sudah berusia 19 tahun, sehingga sudah saya anggap dewasa untuk memutuskan jalan hidupnya."
Perbedaan usia Hatta dan Rahim yang terpaut 24 tahun memang menjadi pertimbangan Ny Rachim. Saat itu Hatta sudah berusia 43 tahun.

Baca Juga : Gara-
gara Komentar di Twitter, Karyawan PT Adhi Karya Ini Langsung di SP3

 

Meski begitu, Ny Rachim tetap menemui Rahmi. Ketika masuk ke kamar tidur putrinya itu, Yuke--nama panggilan Rahmi--bertanya, "Siapa yang datang, Mam?" Pertanyaan itu langsung dijawab, "Bung Karno. Dia datang untuk melamar kamu." Rahmi sangat kaget mendengar jawaban itu. "Buat saya? Mahasiswa sinting mana yang mau melamar saya?" ujarnya. Dengan hati-hati Ny Rachim menjelaskan, "Ini bukan mahasiswa! Dia orang baik, Mohammad Hatta!"

Saat Ny Rachim berbicara dengan Yuke, adik Rahmi--Raharty--menyeletuk, "Jangan mau Yuk, orangnya sudah tua." Yuke tampak ragu-ragu.
Ia takut ketika diajak ke hadapan Om Karno.
Saat itu, Yuke hanya bisa bilang, "Om, saya takut."
Mendengar ucapan itu, Soekarno tersenyum. "Kamu takut apa? Jangan takut, Hatta itu orang baik, dia pemimpin yang baik, dia juga sahabat saya yang baik."
Penjelasan Om Karno membuat Yuke mengerti dan menerima lamaran tersebut. Selain itu, Yuke menilai Om Hatta sebagai orang pintar yang menjalankan syariat agama dengan baik.

Tepat November 1945, Rahmi menikah dengan Hatta di Mega Mendung, Puncak, Jabar, di saat revolusi fisik masih berkecamuk. Gadis keturunan Jawa-Aceh ini tak pernah menyangka garis nasib akan membawanya menjadi istri wakil presiden pertama Indonesia.
Bagi Rahmi, tentu tidak mudah menjadi istri seorang Wapres dari negara yang baru merdeka dan rakyatnya masih mengangkat senjata melawan penjajah. Ketika pusat pemerintahan Republik Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta, Rahmi juga ikut hijrah bersama sang suami.
Mereka baru kembali ke Jakarta setelah Belanda secara resmi menyerahkan kedaulatan RI kepada Soekarno-Hatta.

Pasang surut kehidupan berumah tangga mereka jalani dengan penuh toleransi. Mereka tak pernah mempersoalkan perbedaan asal-usul, latar belakang keluarga, pendidikan, dan rentang usia yang cukup jauh. Hatta memang lebih banyak mengemong sang istri.

"Mereka bicara banyak hal, kadang menggunakan bahasa Belanda. Topiknya luas. Mereka selalu berembug bersama untuk urusan anak-anak," kata Halida Hatta, puteri ketiga keluarga ini.

Hatta-Rahmi mengarungi pernikahan selama 35 tahun. Keduanya baru berpisah, ketika Allah SWT memanggil Hatta pada 1980. Sembilan belas tahun kemudian, Rahmi menyusul Hatta berpulang. Kedua pasangan ini kembali berdampingan di Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta Selatan, seperti tak ingin terpisahkan.   (***)




R24/uci

Sumber:
sejarahri
#Tagline News : Riau | Berita Riau | Berita PekanbaruBerita Kampar | Berita Siak | Berita Inhu | Berita Inhil | Berita Bengkalis | Berita Rohil | Berita Meranti | Berita Dumai | Berita Kuansing | Berita Pelalawan | Berita Rohul
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).

Komentar Anda (tidak mengandung SARA)

Nama :
Komentar :
     

Berita Terbaru

  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru

Versi Mobile

   Riau24.com
                       Informasi Anda Genggam