riau24 Lima Cara Soekarno Mengukir Indonesia di Mata Dunia | Berita Riau
Selasa, 06 Desember 2016

TAHUKAH ANDA

Lima Cara Soekarno Mengukir Indonesia di Mata Dunia

0
Lima Cara Soekarno Mengukir Indonesia di Mata Dunia
Berita Riau -  Lima Cara Soekarno Mengukir Indonesia di Mata Dunia
Pekanbaru, Riau24.com - Jangan sekali-kali Melupakan Sejarah” demikian ungkap presiden pertama kita Ir. Sukarno.
Celoteh Bung Karno ini tidak sembarang celoteh, melainkan seiring dengan sikap dan tindakannya yang telah banyak mengukir sejarah di Indonesia dan Dunia, melalui pemikiran dan karya-karyanya.

Banyak kalangan meyakini bahwa tidak ada manusia di dunia yang menyamai Sukarno, dalam 100 tahun dari masa hidupnya. Berikut adalah lima cara Soekarno mengukir Indonesia di mata dunia :


1. Pledoi Sukarno “Indonesia Menggugat”
Banyak ahli sejarah menilai, pledoi Sukarno yang dinamainya “Indonesia Menggugat” – berhasil menelanjangi dan mempermalukan penguasa Kolonial Belanda ketika itu. Tidak adanya keadilan dalam hukum dan masuknya imperialisme serta kolonialisme yang melahirkan bentuk-bentuk penjajahan ekonomi, telah memasung kemerdekaan manusia Indonesia seutuhnya. Pembelaan Bung Karno tersebut, adalah salah satu masterpiece dari pemikiran seorang Sukarno. Persidangan yang bersejarah itu sendiri berlangsung 18 Agustus 1930, bertempat di Jl. Landraad, Bandung.


2. Menggelar Konfrensia Asia-Afrika
Sebagai negara yang baru lahir ketika itu, Sukarno dan juga karibnya dari India Jawaharal Nehru – berani memperkasai gelaran konfrensi bagi negara-negara Asia dan Afrika, yang saat itu masih banyak dalam cengkraman kolonialisme. Bung Karno bisa dikatakan sebagai figur utama atas gelaran KAA, beliaulah sosok pencetus dari pelaksanaan KAA pertama di Bandung.

Presiden Soekarno berhasil membangkitkan harga diri dan martabat negara-negara dunia ketiga melalui Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 1955. Melalu konfrensi ini, Sukarno meyakinkan negara-negara di dunia untuk tumbuh bersama sebagai kekuatan moral melawan tirani kolonialisme dan imperialisme.

Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika adalah sebuah konferensi tingkat tinggi antara negara-negara Asia dan Afrika, yang kebanyakan baru saja memperoleh kemerdekaan. KTT ini diselenggarakan oleh Indonesia, Myanmar (dahulu Burma), Sri Lanka (dahulu Ceylon), India dan Pakistan dan dikoordinasi oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Sunario. Pertemuan ini berlangsung antara 18-24 April 1955, di Gedung Merdeka, Bandung, Indonesia dengan tujuan mempromosikan kerjasama ekonomi dan kebudayaan Asia-Afrika dan melawan kolonialisme atau neokolonialisme Amerika Serikat, Uni Soviet, atau negara imperialis lainnya.


3. Mengenalkan Pancasila di Sidang Umum PBB
Ada kebanggan yang begitu membuncah, dalam diri seorang Sukarno ketika itu. Keyakinannya terhadap dasar negara Republik Indonesia yang begitu kaya nilai, menurutnya – haruslah diketahui oleh banyak negara di dunia. Kesempatan ini diperoleh Sukarno pada tanggal 30 September 1960, bersamaan dengan pidatonya di depan Sidang Umum PBB ke-15. Naskah pidato Bung Karno yang begitu termasyhur dengan judul: “To Build the World A New”, membangun tatanan dunia yang baru berdasarkan Pancasila.

Bung Karno mengupas satu demi satu Pancasila dan penafsiran, serta pemaknaannya. Ia juga dengan bangga mengatakan bahwa Pancasila adalah sebuah ideologi alternatif bagi semua bangsa di Dunia. Pidato Bung Karno tersebut, telah memukau para pemimpin dunia. Sukarno juga memperkenalkan Pancasila, sebagai sripati yang dirangkai dari butir-butir manikam warisan Nusantara, yang telah merasuk ke dalam sanubari para pemimpin dunia ketika itu.


4. Memugar Makam Imam Bukhori dan Membebaskan Masjid Biru di Soviet
Makam Imam Al-Bukhori di Uni Soviet (Uzbekistan sekarang), menurut beberapa catatan ditemukan dan dibangun, setidaknya atas prakarsa Presiden Soekarno.

Syahdan menurut cerita, saat itu makam imam besar bagi umat Islam tersebut, yang terletak di Desa Khartank, dekat Samarkand -hendak diratakan dengan tanah. Ihwal dipugarnya makam Imam Al Bukhari, ketika Soekarno berkunjung ke Moscow. Saat bertemu dengan Sharof Rashidov, pemimpin Partai Komunis Uzbek, Soekarno memaparkan keinginannya untuk berkunjung ke Uzbek dan berziarah di makam Imam Al-Bukhari.

Setibanya di Uzbek, Rashidov pun kebingungan karena tidak tahu persis lokasi makam. Akhirnya Dia memerintahkan anak buahnya untuk melakukan pencarian dan berhasil diketemukan. Saat Sukarno tiba di makam, dia prihatin dengan lokasi makam yang tak dikenal dan kurang terawat. Melalui diplomasi dan kedekatannya dengan Presiden Nikita Khrushchev, makam Imam yang dijuluki Amirul Mukminin fil Hadits ini, akhirnya berhasil dipugar dan dilestarikan.

Setali tiga uang dengan nasib manis makam Bukhori, Presiden Sukarno pula yang “memprakarsai” digunakannya kembali Mesjid kebanggaan muslim di Kota St. Petersburgh, setelah sekian puluh tahun menjadi gudang senjata kotor di negeri palu arit tersebut. Makanya tak heran jika Masjid yang memiliki kubah biru ini, kini disebut muslim setempat dengan nama Masjid Sukarno.


5. Membangun Mesjid Istiqlal Kebanggan Indonesia
Masjid Istiqlal adalah masjid negara yang terletak di pusat ibukota Jakarta. Masjid Istiqlal merupakan masjid terbesar di Asia Tenggara. Pembangunan masjid ini diprakarsai oleh Presiden Republik Indonesia saat itu, Ir. Soekarno dimana pemancangan batu pertama, sebagai tanda dimulainya pembangunan Masjid Istiqlal dilakukan oleh Ir. Soekarno pada tanggal 24 Agustus 1951. Arsitek Masjid Istiqlal adalah Frederich Silaban, seorang Kristen Protestan.

Sejarah merekam, Ir. Soekarno mengusulkan lokasi pembangunan Masjid Istiqlal di Taman Wilhelmina, yang di dalamnya terdapat reruntuhan benteng Belanda dan dikelilingi oleh bangunan-bangunan pemerintah dan pusat-pusat perdagangan serta dekat dengan Istana Merdeka.

Hal ini sesuai dengan simbol kekuasaan kraton di Jawa dan daerah-daerah di Indonesia bahwa masjid harus selalu berdekatan dengan kraton atau dekat dengan alun-alun, dan Taman Medan Merdeka dianggap sebagai alun-alun Ibu Kota Jakarta. Selain itu Soekarno juga menghendaki masjid negara Indonesia ini berdampingan dengan Gereja Katedral Jakarta untuk melambangkan semangat persaudaraan, persatuan dan toleransi beragama sesuai Pancasila. Hal ini yang kemudian hari, menjadi topik “Unity and Diversity”-nya dalam pidato Presiden Amerika Serikat Barack Obama, ketika mengunjungi Indonesia beberapa waktu silam.   (***)




R24/dev/uci 

 

Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).

Komentar Anda (tidak mengandung SARA)

Nama :
Komentar :
     

Berita Terbaru

  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru

Versi Mobile

   Riau24.com
                       Informasi Anda Genggam