riau24 Mengenal Cassini, Si Penjelajah Sejati Saturnus | Berita Riau
Kamis, 23 November 2017

Antariksa

Mengenal Cassini, Si Penjelajah Sejati Saturnus

0
Foto: net
Berita Riau -  Mengenal Cassini, Si Penjelajah Sejati Saturnus
Riau24.com- Misi Cassini sudah berakhir. Tapi perjalanan panjang misi ini akan jadi catatan penting dalam sejarah manusia. Sejak diluncurkan tahun 1997, waktu 20 tahun sudah dihabiskan Cassini untuk menjalankan misinya. Waktu yang cukup panjang bagi perjalanan kehidupan mereka yang bekerja di misi ini.

Dilansir langitselatan, Sabtu 16 September 2017, misi Cassini atau kita kenal juga dengan nama Cassini – Huygens, merupakan misi tanpak awak yang dikirimkan untuk mempelajari Saturnus dan seluruh sistemnya. Misi ini diluncurkan pada tanggal 15 Oktober 1997, dan butuh waktu 7 tahun bagi Cassini untuk tiba di Saturnus. Dalam perjalanannya, Cassini membawa serta penjejak Huygens yang kemudian bertugas di satelit Titan.

Wahana Cassini adalah penjelajah sejati. Sampai dengan akhir misinya, Cassini sudah menempuh perjalanan 7.8 trilyun kilometer. Selama 20 tahun penjelajahannya, 13 tahun dihabiskan untuk menjelajah Saturnus dan menyelesaikan 293 orbit mengitari Saturnus. Cassini juga satu-satunya pemegang rekor terbang lintas terbanyak dengan Titan dan Enceladus. Dalam penjelajannya, Cassini menemukan 2 samudera di Titan dan Enceladus, 6 satelit baru Saturnus dan yang pasti Cassini berhasil menemukan 3 lautan dan ratusan danau kecil.

Kejayaan Cassini tidak dimulai dengan mulus. Jika kilas balik dilakukan, keberangkatan Cassini yang membawa serta pendarat kecil Huygens, sempat diwarnai protes para akitvis lingkungan karena plutonium yang dibawanya.

Lokasi Saturnus yang jauh, tidak memungkinkan Matahari untuk menjadi sumber tenaga bagi Wahana Cassini. Untuk bisa menghasilkan tenaga yang cukup, Cassini memperolehnya dari tiga generator radioisotop thermoelektrik (RTGs). RTGs menggunakan panas yang dihasilkan peluruhan plutonium untuk menghasilkan listrik. Pada Cassini, plutonium yang digunakan sekitar 32,8 kg. Jika diambil kemungkinan terburuk, seandainya Cassini gagal dan jatuh kembali ke Bumi, radioaktif yang dibawanya bisa menyebabkan kanker selama lebih dari 50 tahun. Bahkan setelah manuver Cassini ketika terbang lintas dengan Bumi berhasil baik pun para aktivis masih terus melancarkan protes. Ternyata, perjalanan Cassini justru menghasilkan cerita penting dalam catatan sejarah eksplorasi Tata Surya.

Proyek Cassini-Huygens dimulai tahun 1982 saat kerjasama antara badan antariksa Eropa dan Amerika Serikat disepakati. Kisah ini dimulai ketika para ilmuwan Eropa mengajukan misi mempelajari Saturnus dan Titan ke European Space Agency (ESA), yang kemudian ditindaklanjuti dengan kolaborasi bersama NASA. Penetapan kerjasama ESA – NASA kemudian disepakati pada tahun 1984 – 1985, dengan pembagian NASA akan menyiapkan orbiter Saturnus sedangkan ESA membangun penjejak di Titan.

Orbiter dan penjejak yang disiapkan itu akhirnya diberi nama Cassini untuk orbiter dan Huygens untuk penjejak di Titan. Nama Cassini – Huygens berasal dari Giovanni Cassini, penemu cincin Saturnus dan 4 satelitnya, serta Christiaan Huygens, penemu Titan. Pendanaan Cassini akhirnya disetujui pada tahun 1989 dan akhirnya misi yang bernilai total 3,9 milyar dollar itu berhasil diluncurkan pada tanggal 15 Oktober 1997 dari Cape Canaveral.

Kerjasama internasional peluncuran Cassini-Huygens, selain melibatkan NASA dan ESA juga melibatkan Italian Space Agency (ASI). Dalam kerjasama ini, orbiter Cassini dibangun dan dikendalikan oleh NASA/CalTech Jet Propulsion Laboratory. Penjejak Huygens dibuat oleh European Space Agency (ESA), sedangkan Italian Space Agency menyediakan antena komunikasi dan radar.

Perjalanan selama 7 tahun akhirnya berhasil dilalui Cassini, dan wahana ini akhirnya tiba di Saturnus pada tahun 2004. Momen bersejarah yang tak pernah terlupakan. Gegap gempita itu masih berlangsung setahun kemudian ketika penjejak Huygens akhirnya mendarat di Titan dan mulai menceritakan apa yang ia temui di satelit yang konon mirip Bumi purba itu.

Misi Cassini pada awalnya hanya dirancang untuk bertugas selama 4 tahun. Tapi rupanya, Cassini masih mampu melanjutkan tugasnya. Dua misi tambahan dirilis yakni misi Equinoks (2008-2010) dan Solstis (2010-2017). Setelah misi Solstis berakhir, maka dimulailah misi Grand Finale yang diakhiri dengan terbakarnya Cassini di Saturnus.


Sekilas Misi Cassini

Selama 4 tahun misi utamanya, Cassini bertugas untuk mempelajari kekayaan sistem Saturnus dari dekat. Tercatat, Cassini berhasil menyelesaikan 44 orbit mengitari Saturnus, 50 terbang lintas dengan Titan, 7 terbang lintas di Enceladus dan 6 terbang lintas pada bulan Saturnus lainnya. Rupanya, saat misi berakhir, wawasan baru tentang sistem Saturnus yang dinamis dan kompleks membuat misi ini kemudian diperpanjang. Cassini kembali bertugas untuk membawa lebih banyak kisah dari Saturnus, pada musim yang berbeda.

Mirip dengan Bumi, Saturnus juga mengalami 4 musim dimana setiap musimnya berlangsung selama 7 tahun waktu kita di Bumi. Untuk Saturnus, itu waktu yang cukup singkat. Satu tahun di Saturnus berlangsung selama 29,5 tahun di Bumi. Ini waktu yang dibutuhkan Saturnus untuk mengelilingi Matahari. Itu artinya, Cassini menghabiskan hampir setengah tahun dari 1 tahun Saturnus untuk mempelajari sistem planet cincin tersebut.

Saat tiba, belahan utara Saturnus baru akan mengakhiri musim dingin dan memasuki musim semi. Setelah menyelesaikan misi utama, misi Cassini diperpanjang dari tahun 2008 – 2017. Nama kedua misi ini sesuai dengan 2 peristiwa yang ditemui Cassini, ekuinoks dan solstis.

Peristiwa Ekuinoks yang menandai awal musim semi di Saturnus dan Solstis yang menandai dimulainya musim panas di planet terbut. Tujuannya, untuk melihat perubahan yang tejadi di cincin saat Saturnus mencapai ekuinoks dan Matahari menyinari cincin Saturnus dari arah tepi. Dan setelah Ekuinoks, Cassini diberi kesempatan untuk menikmati musim panas di Saturnus, saat Matahari mencapai titik tertingginya di belahan utara. Pada misi tambahan ini, para astronom mempelajari lebih lanjut berbagai temuan Cassini dan mengambil lebih banyak data dari lingkungan sistem Saturnus.


Loading...

Bagikan : #Tagline News : Riau | Berita Riau | Berita Pekanbaru | Berita Kampar | Berita Siak | Berita Inhu | Berita Inhil | Berita Bengkalis | Berita Rohil | Berita Meranti | Berita Dumai | Berita Kuansing | Berita Pelalawan | Berita Rohul | Berita Internasional | Advertising Pekanbaru
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).
loading...

Berita News24xx

Komentar Anda (tidak mengandung SARA)

Nama :
Komentar :
     

Berita Terbaru

  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru