riau24 Pilkada Serentak 2018, Masyarakat Jangan Hanya Jadi Korban Retorika | Berita Riau
Rabu, 24 Januari 2018

Opini

Pilkada Serentak 2018, Masyarakat Jangan Hanya Jadi Korban Retorika

0
Ilustrasi
Berita Riau -  Pilkada Serentak 2018, Masyarakat Jangan Hanya Jadi Korban Retorika
Riau24.com- Perhelatan Pemelihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2018 mengikutkan Provinsi Riau dalam agenda 5 tahunan untuk melakukan rotasi kekuasaan dan pelaksanaan daulat rakyat sebagaimana jaminan kosntitusional yang terdapat dalam Pasal 1 ayat 2 UUD NRI 1945.

Pilkada merupakan bagian implementasi dari pelaksaan otonomi daerah untuk melakukan suatu upaya peningkatan pembangunan di segala sektor yang pro terhadap rakyat didaerah. Oleh karena itu andil masyarakat dalam menggunakan hak pilihnya sebagai warga negara dengan sebaik mungkin adalah menjadi titik tumpu atau bahkan rahim yang memproduksi pemimpin yang kebijakannya dapat mendistribusikan keadailan. Hal demikian dimaksudkan untuk menghindari penurunan ketidak puasan terhadap hasil pemilihan melalui sistem demokrasi.

Kecerdasan masyarakat hari ini dalam bersikap mengahadapi proses pesta demokrasi dan memilih sebagai kulminasi untuk penetuan hasil pemilihan sangatlah dibutuhkan. Dikarenakan demokrasi yang menjadi pondasi kerangka bangun Pilkada pada hakikatnya adalah power of majority, maka demokrasi bukanlah disebut sebagai suatu sistem yang elitis akan tetapi ia sistem yang “merakyat” dengan dalail one man one vote.

Setiap orang berhak menggunakan hak politiknya setelah ia memenuhi syarat untuk memilih tanpa mempertimbangkan dan mempermasalahkan latar belakangnya baik ia pendidikannya, pekerjaannya, maupun keadaan fisiknya.

Jika sejenak kita mencoba membalik-balik kartu demi kartu yang dimainkan para kandidat yang ingin mengakuisisi atau mempertahankan kursi kekuasaan di atas hamparan meja perpolitikan, acap kali terjadi manipulasi kartu yang disulap dari posibilitas menjadi probabilitas, segala upaya ditempuh mulai dari penyesatan hasil survei, black campaign, pengkooptasian media, hingga transaksi yang dilakukan under table.

Semua itu sangat jauh dari pengetahuan masyarakat kebanyakan sehingga kampanye politik menjadi nyanyian merdu bagi para pemilih dan terkadang hanya sekedar nynyir dengan celoteh-celoteh sarkas.

Pilkada 2018 diwarnai dengan dinamika yang tidak lepas dengan pengamanan dan pembangunan peta perpolitikan 2019. Partai seolah-olah tidak mempunyai batas Ideologi sebagi ruh perjuangan yang dibawanya, akan tetapai partai liquid kanan-kiri.

Garis perjuangan partai blurred dengan transaksi-transaksi pragmatis-opportunis. Masyarakat harus memiliki suatu pengetahuan untuk mempertanyakan setiap ikon, simbol, dan selogan yang dibawa para kandidat.

Masyarakat jangan hanya tempat pembuangan akhir decomposed of rethoric akan tetapi mulai dengan bertanya denagan “bagaimana” para kandidat dapat mewujudkan janjinya. Kemudian bertanya dengan “apakah” janji tersebut dapat diwujudkan dan pro terhadap kepentingan rakyat. Serta pertanyaan “mengapa” janji tersebut harus dilaksanakan.

Melalui pertanyaan- pertanyaan demikian rakyat mempunyai massa yang bisa dimasukkan dalam neraca pilihan untuk membuat keputusan akhir dikotak suara, dan bukan hanya sekedar keras-kerasan urat dan menjadi penikmat dan pembela sementara.


Indra Lukman Siregar
Penulis adalah Mahasiswa FH UR 2015
Sekum HMI Komisariat Hukum UR

 

Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).
Loading...

Berita News24xx

loading...

Berita Terbaru

  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru