riau24 Konflik Manusia dan Harimau, Ibarat Makan Buah Simalakama | Berita Riau
Jumat, 14 Desember 2018

Yang Tersisa Dari Kabupaten Indragiri Hilir

Konflik Manusia dan Harimau, Ibarat Makan Buah Simalakama

0
Harimau Sumatera yang terpantau berkeliaran di perkebunan sawit di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. Foto: int
Berita Riau -  Konflik Manusia dan Harimau, Ibarat Makan Buah Simalakama
Riau24.com- Saat ini, nasib Bonita, seekor Harimau Sumatera betina, tinggal menunggu waktu. Nasibnya kini terancam. Hal itu setelah ia terlibat 2 kali kasus konflik dengan warga di Kabupaten Indragiri Hilir. Dalam dua kali kejadian itu, dua nyawa manusia telah melayang akibat diterkam si raja hutan.


Konflik itu juga berlangsung singkat, hanya dua bulan. Pertama, pada awal Januari lalu, seorang wanita bernama Jumiati, seorang buruh kelapa sawit tewas akibat terkaman Bonita. Baru-baru ini, giliran seorang pekerja bangunan bernama Yusri pun turut menjadi korbannya. Saat ini, Bonita diduga masih berkeliaran di kawasan itu, yang saat ini merupakan kawasan perkebunan kelapa sawit.

Kini kemarahan warga tak dapat dibendung. Hal itu ditandai dengan adanya penandatanganan surat perjanjian. Di dalamnya disebutkan, jika dalam waktu tertentu pihak berwajib dalam hal ini Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) tidak dapat mengamankan si raja hutan itu, maka warga akan melakukan segala cara untuk melumpuhkan Bonita dan tidak akan dikenai sanksi hukum apapun.

Jelas ini bukanlah solusi dari sebuah masalah. Kawasan hutan yang diberikan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sebagai kawasan yang dikelola oleh perusahaan dengan tujuan untuk menjaga kawasan inti dari sebuah ekosistem, jelas tidak tepat sasaran.

Karena di saat terjadinya konflik-konflik seperti hal ini, perusahaan ikut mendukung aksi perburuan dan pemusnahan Harimau Sumatera tersebut.

“Jika sanggup dan menerima sebagai pengelola Hak Guna Usaha (HGU) Hutan, maka perusahaan harusnya juga siap untuk menjadi pengelola kawasan lindung dan juga habitat satwa yang ada di dalamnya”, ungkap Zulhusni Syukri Direktur Eksekutif Rimba Satwa Foundation (RSF), Selasa, 13 Maret 2018.

Husni juga mengungkapkan keprihatinan atas kasus ini. Pihaknya berharap BKSDA Riau bisa menyelamatkan Bonita dan tidak ada kerugian dari kedua belah pihak lagi.

Sementara itu, Deputi RSF Ade Kurniawan, juga menyayangkan sikap perusahaan. Pasalnya, pihaknya menilai pihak perusahaan tidak memberikan solusi untuk hal sebesar ini. Tim BKSDA yang berada di hirarki terbawah, terkesan menjadi korban dari rusaknya sistem komunikasi di pemerintahan.

"Hal yang sangat disayangkan, komunikasi stakeholder tidak sinkron, dan menyebabkan korban bagi mausia yang berimbas kepada satwa tentunya,” ujarnya.

Dikatakan, disorientasi yang terjadi pada harimau tersebut dikarena hal yang sangat mendasar, yaitu habitat dan pakan. Setelah itu terjadi perubahan pola makan yang signifikan, seperti halnya manusia yang terbiasa makan nasi putih biasa, dan kemudian memakan nasi jagung yang ternyata jauh lebih enak dan lebih mudah didapat.

Terlepas dari pada hal tersebut ia menghimbau bahwasanya ini adalah tanggung jawab dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. BKSDA hanya yang akan menjadi penerima dampak langsung terkait konflik yang timbulkan akibat kebijakan-kebijakan yang telah dibuat pihak di atas. ***

R24/amri/rls

Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).
Loading...

Berita News24xx

loading...

Berita Terbaru

  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru