riau24 Warga Lubuk Jambi Beralih Profesi Jadi Pendulang Emas | Berita Riau
Senin, 18 Desember 2017

Warga Lubuk Jambi Beralih Profesi Jadi Pendulang Emas

0
Warga Lubuk Jambi, Kecamatan Kuantan Mudik beralih profesi menjadi pendulang emas pasca turunnya harga karet
Berita Riau -  Warga Lubuk Jambi Beralih Profesi Jadi Pendulang Emas
Kuansing-Riau24.com-Warga masyarakat Lubuk Jambi Kecamatan Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi, saat sekarang ini telah mulai beralih  profesi dari petani karet menjadi petani pendulang emas.

Dengan menggunakan alat tradisional berupa pendulangan yang terbuat dari papan dan sebuah ember sebagai tempat pengumpul kalam. Maka puluhan dan bahkan ratusan warga baik laki-laki maupun wanita, tua muda serta anak-anak mulai berjejer di tengah-tengah sungai kuantan melakukan pendulangan emas.

Tanpa menghiraukan terik panas matahari dan keruhnya air sungai kuantan, serta ancaman kesehatan lainnya yang bakal menimpa, namun mereka tetap sabar dan telaten mendulang emas dengan cara mengambil batu dan pasir lalu alat pendulangan di putar ke kiri kanan dan kemudian batu menjadi terbuang, yang tentu saja akan tinggal kalam atau pasir kecil.

Setelah tinggal kalam yang berwarna hitam pekat lalu dimasukkan ke dalam ember yang telah disediakan, begitulah seterusnya yang dilakukan warga setiap hari, mulai dari pagi hingga siang dan kembali dilakukan pada siang hingga menjelang sore.

"Ini kami lakukan tak kenal lelah dan belum lagi ancaman kesehatan, karena berendam di sungai Kuantan di panas terik matahari," ungkap Arman (50) warga Lubuk Jambi ketika dihubungi, Jumat (18/9/2015).

Kegiatan ini mereka lakukan karena kondisi ekonomi yang semraut dan turunnya harga karet sebagai mata pencaharian, karena turunnya harga karet telah lebih dari satu tahun dan bahkan hampir dua tahun.

"Kalau tidak demikian, kemana kami harus berusaha untuk menghidupi keluarga dan membiayai sekolah anak-anak kami tersebut. Saat ini harga karet semakin turun, kalau minggu lalu seharga Rp. 5.000 per kilo maka minggu ini mungkin turun atau masih tetap Rp. 5.000,- per kilo, kalau untuk naik mencapai Rp. 10.000 tentu tidak akan mungkin," ujarnya.

Padahal harga stabil karet memang di atas Rp. 10.000 per kilo, sebab dulunya pernah mencapai lebih Rp. 15.000 per kilo. Makanya dengan harga karet semakin anjlok maka banyak petani beralih profesi dan bahkan rela meninggalkan kebun karet dan mencari usaha lainnya.

" Kami terpaksa meninggalkan kebun karet sebagai mata pencaharian utama, ini disebabkan harga karet tidak stabil dan ditambah lagi hasil sadapan semakin berkurang, dan menyebabkan  pendapatan petani tidak seimbang," tuturnya.

Meskipun hasil yang diperoleh tak seimbang, akan tetapi harus rela dilakukan demi menghidupi keluarga. Kalau tidak demikian tentu kami tidak akan makan dan anak-anak juga tidak bisa sekolah," tukasnya. R24/mrd/replizar
Untuk berbagi Berita/ Informasi/ Peristiwa
Silahkan SMS ke No HP : +62 853 2000 4928,
atau email ke alamat : redaksi.riau24@gmail.com
(harap cantumkan data diri anda).

Berita News24xx

Loading...
loading...

Komentar Anda (tidak mengandung SARA)

Nama :
Komentar :
     

Berita Terbaru

  • Subscribe
    untuk mendapatkan berita terbaru