Jumat, 01 Agustus 2014
Korupsi Bank Riau Kepri Rohil Hadirkan Pihak Bank Riau Sebagai Saksi
0
foto R24/ina
Korupsi Bank Riau Kepri Rohil Hadirkan Pihak Bank Riau Sebagai Saksi
PEKANBARU, Riau24.com--Istiyanto, Direktur PT Bukit Bais Faindo (BBF) yang didakwa jaksa atas kasus korupsi fiktif di Bank Riau Kepri (BRK) cabang Bagan Siapiapi, Rokan Hilir (Rohil). kembali menggelar sidang Selasa, (30/7/13) di Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru dengan agenda pemanggilan saksi Zulfikar Ashkar selaku pimpinan Kanto Pusat.

Kepada majelis Hakim yang di ketuai JPL Tobing, saksi menerangkan syarat-syarat dalam peminjaman kantor pusat sudah melalui prosedur namun jika terjadi kesalahan di kantor cabang Bank Riau Kepri itu yang bertanggung jawab kantor cabang tersebut dan tidak ada wewenang dari kantor Bank Riau kepri pusat lagi, ujar saksi.

Keterangan saksi dibantah tegas oleh Majelis Hakim dan Jaksa. Menurut hakim jika Kantor cabang melakukan persyaratan yang diajukan PT BBF dan itu harus persetujuan dari kantor Pusat jika terjadi kesalahan kantor pusat punya wewenang untuk malakukan kroscek kembali.

Terdakwa Istianto tidak ada membantah keterangan saksi namun terdakwa hanya bertanya "jika yang mengajukan kredit ternyata usaha yang akan dijalani terjadi kendala apakah Bank akan mengklaim dan dibenarkan noleh saksi.

usai mendengar keterangan saksi dan terdakwa, Majelis hakim Reno Listowo SH menutup persidangan dan melanjutkan sidang dengan saksi lainnya.

Sebelumnya terdakwa Istianto telah merugikan negara sebesar Rp 5 miliar kejahatan ini dilakukan secara bersama sama dengan tiga tersangka (penuntutan terpisah) yakni, Ir H Zullisman Pempinan Cabang (Pimcab) Bank Riau Kepri (BRK) Bagan Siapiapi, Rokan Hilir (Rohil), Ramdani Pinsi Pemasaran dan Indra Gunawan, Pelaksana Pemasaran BRK Bagan Siapiapi.

Berawal ketika Dinas Perkebunan (Disbun) Rokan Hilir (Rohil) berencana mengadakan perkebunan sawit rakyat senilai Rp10,7 miliar. Untuk proyek ini, PT BBF keluar sebagai pemenang tender.

Tidak ada dana, PT BBF yang dipimpin Istianto yang telah menjalani persidangan karena kasus sama, meminjam kredit modal kerja ke Bank Riau Kepri Bagansiapiapi senilai Rp5 miliar. Dia memberikan agunan sebidang tanah di Dumai.

Di perjalanan, ditemukan ada kejanggalan dalam agunan yang diberikan. Tanah yang diagunkan dinyatakan PT BBF senilai Rp3,162 miliar tapi dari penyelidikan yang dilakukan Kejati, tanah tersebut hanya senilai Rp700 juta.

Setelah proyek dikerjakan 25 persen, Disbun Rohil memutus kontrak sedangkan pinjaman Rp5 miliar sudah dicairkan oleh Bank Riau Kepri Bagansiapiapi. Pencairan dana itu dinilai tak sesuai aturan pengerjaan proyek. (ina)

  • Subscribe

    untuk mendapatkan berita terbaru

Baca

Versi mobile Riau24 disini

m.Riau24.com