Rakyat Myanmar Berduka, Pengunjuk Rasa Perempuan Yang Ditembak Kepalanya Akhirnya Meninggal Dunia

Sabtu, 20 Februari 2021 | 07:06 WIB
Mya Thwe Thwe Khaing Mya Thwe Thwe Khaing

RIAU24.COM -  Kabar duka datang dari Myanmar. Mya Thwe Thwe Khaing, perempuan berusia 20 tahun yang menjadi pengunjuk rasa anti kudeta militer Myanmar akhirnya meninggal dunia. Mya kena tembak pekan lalu saat pasukan polisi berusaha membubarkan unjuk rasa dengan meriam air, peluru karet dan peluru tajam.

Dia mengalami luka parah setelah kena peluru tajam dan mengalami kerusakan otak, kata kelompok hak asasi manusia.

Baca Juga: China Bantah Jika Meminta Diplomat AS Menjalani Tes Anal COVID-19

Dilansir BBC Indonesia, rumah sakit di ibu kota Nya Pyi Taw mengkonfirmasi kematian Mya Thwe Thwe Khaing pada pukul 11:00 waktu setempat (04:30 GMT). Seorang anggota komite pemakaman mengatakan kepada BBC Burma bahwa pemakaman atas korban tengah direncanakan dan rinciannya segera diinformasikan.

"Kami akan mencari keadilan dan terus bergerak," kata seorang dokter kepada kantor berita AFP, sambil menambahkan bahwa para staf menghadapi tekanan besar sejak korban dibawa ke unit perawatan intensif.

Laporan terpisah oleh Fortify Rights mengutip seorang dokter yang mengatakan perempuan itu mengalami mati otak karena "luka tembak yang fatal di kepala".

Sebelumnya, sebuah rekaman beredar di sosial media menunjukkan seorang perempuan sedang ditembak. Rekaman itu menunjukkan seorang perempuan yang mengenakan helm sepeda motor itu tiba-tiba roboh. Secara terpisah, gambar di media sosial menunjukkan apa yang tampak seperti helm berlumuran darah.

Baca Juga: Dituduh Tiduri Beberapa Wanita Yang Sudah Bersuami, Wapres Ini Sebut Dirinya Patriot Bangsa

Myanmar dilanda gelombang protes massal selama berhari-hari menyusul kudeta militer atas pemerintahan terpilih Aung San Suu Kyi awal Februari lalu.

Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menyuarakan "keprihatinan yang kuat" atas kekerasan yang dilakukan pihak militer.

"Penggunaan kekuatan yang tidak proporsional terhadap para demonstran tidak dapat diterima," kata Ola Almgren, koordinator penduduk dan koordinator kemanusiaan PBB di Myanmar.***

PenulisR24/saut



Loading...
Loading...