Indonesia Menetapkan Separatis Papua Sebagai Teroris

Jumat, 30 April 2021 | 14:45 WIB
Foto : Asiaone Foto : Asiaone

RIAU24.COM -  Indonesia secara resmi telah menunjuk separatis Papua sebagai "teroris", kata menteri keamanannya pada Kamis (29 April), sebuah langkah yang menurut para aktivis dapat memperluas kekuasaan pasukan keamanan, termasuk penahanan berkepanjangan tanpa dakwaan.

Dilansir dari Asiaone, penunjukan hukum tersebut menyusul seruan Presiden Joko Widodo untuk menindak pemberontak Papua setelah seorang perwira intelijen ditembak mati pada hari Minggu di wilayah paling timur negara itu, di mana pemberontakan tingkat rendah telah terjadi selama beberapa dekade.

Baca Juga: Akui Kecewa Terhadap Pemerintah Amerika Serikat, PKS Kirim Surat Terbuka ke Joe Biden Soal Palestina

"Pemerintah berpikir bahwa organisasi dan orang-orang di Papua yang melakukan kekerasan besar-besaran dapat diklasifikasikan sebagai teroris," kata menteri keamanan Mahfud MD dalam konferensi pers.

"Terorisme adalah setiap tindakan yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menciptakan suasana teror atau ketakutan," katanya, mengutip undang-undang anti-terorisme tahun 2018.

Separatis di wilayah terpencil dan kaya sumber daya mengatakan perjuangan mereka sah karena Belanda - bekas kekuatan kolonialnya - menjanjikan kemerdekaan Papua sebelum wilayah itu dianeksasi pada tahun 1963.

Indonesia mengatakan Papua adalah wilayahnya, sebagaimana dikonfirmasi oleh hasil referendum 1969. Separatis mengatakan bahwa pemungutan suara tidak mencerminkan aspirasi mereka.

Baca Juga: Tanpa Ada Penyekatan, Jalur Lalu Lintas Riau-Sumatera Barat Kembali Normal

Undang-undang kontra-terorisme Indonesia mengizinkan pihak berwenang untuk menahan individu tanpa dakwaan hingga 21 hari dan menyadap komunikasi jika mereka dicurigai digunakan untuk merencanakan atau melakukan tindakan "teroris".

“Cakupan pekerjaan di Papua akan jauh lebih besar, sehingga juga akan membuka lebih banyak kemungkinan pelanggaran,” kata Andreas Harsono, peneliti Indonesia di Human Rights Watch, merujuk pada penunjukan baru tersebut.

Awal bulan ini, Reuters melaporkan tiga bersaudara yang diduga dibunuh oleh tentara Indonesia di dataran tinggi tengah Papua. Usman Hamid, direktur Amnesty International Indonesia, mengatakan tag "teroris" juga dapat membatasi kebebasan berbicara dan asosiasi, dan "hanya akan menunjukkan bahwa pemerintah gagal lagi untuk melihat akar penyebab pemberontakan Papua".

Sebby Sembom, juru bicara kelompok separatis Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat, menolak penunjukan pemerintah. "Dunia tahu kita berjuang untuk kebebasan," katanya.

PenulisR24/dev


Loading...
Loading...