Cara Pemakaman Aneh Jadi Trend, Ada Yang Dijadikan Terumbu Karang Sampai Dikirim ke Luar Angkasa, Anda Berminat?

Senin, 03 Mei 2021 | 15:24 WIB
Abu pelanggan Celestis menumpang pada peluncuran NASA tahun 2006 ini/bbc Abu pelanggan Celestis menumpang pada peluncuran NASA tahun 2006 ini/bbc

RIAU24.COM -  Pandemi Covid-19 telah membuat jutaan orang di seluruh dunia kehilangan orang-orang yang mereka sayang. Itu juga sekaligus mengingatkan kita bahwa hidup itu terbatas.

Hal ini pada gilirannya membuat banyak orang berpikir kreatif tentang apa yang mereka inginkan jenazah atau abu mereka ketika mereka meninggal.Peluang ini ditangkap sejumlah perusahaan menjadi bisnis yang bernilai tinggi.

Baca Juga: Alasan Israel Gempur Jalur Gaza Terkuak, Ini Jawabannya

Perusahaan Eternal Reefs yang berbasis di Florida, AS, mengatakan minat akan layanan pemakaman nonkonvensional yang mereka tawarkan kian meningkat di tengah pandemi.

Sejak 1998, perusahaan itu telah melayani orang-orang yang menghendaki jenazah mereka menjadi formasi terumbu karang buatan di dasar laut.

Ini dilakukan dengan menambahkan abu jenazah mereka ke dalam campuran beton yang ramah lingkungan. "Pandemi telah meningkatkan minat, tentu saja," kata George Frankel, kepala eksekutif Eternal Reef seperti dilansir BBC.

"Saya yakin pandemi telah membuka mata banyak orang pada konsep pemakaman nontradisional. Ada orang-orang yang memiliki minat dengan laut, tetapi kami juga mendapatkan sejumlah orang yang menyukai gagasan memberi kembali," ungkapnya.

Baca Juga: Tokoh-tokoh Yang Serukan Solidaritas Terhadap Palestina

Pada tahun lalu, lebih dari 2.000 terumbu karang buatan perusahaan telah ditempatkan di 25 lokasi di lepas pantai timur AS.

Sementara itu, bagi orang-orang yang menghendaki jenazahnya tetap berada di tanah, perusahaan Recompose yang berbasis di Seattle mengembangkan teknologi "kompos manusia" yang mengubah mayat manusia menjadi tanah.

Jenazah dibaringkan di dalam silinder baja tertutup, bersama dengan serpihan kayu, jerami dan potongan dari tumbuhan polong-polongan yang disebut alfalfa.

Tingkat karbondioksida, nitrogen, oksigen, panas dan kelembaban di dalam tabung kemudian dikontrol untuk memungkinkan mikroba dan bakteri berkembang biak.

Setelah 30 hari, proses pengomposan selesai, dan tiga kaki kubik tanah dipindahkan dari tabung untuk kemudian diawetkan dan diangin-anginkan selama beberapa pekan.

Kemudian, tanah disebarkan di hutan konservasi di negara bagian Washington yang dirawat dengan baik, tapi keluarga juga dapat menyimpan tanah itu, atau kombinasi keduanya.

Lain lagi yang ditawarkan oleh perusahaan AS, Celestis. Selama 20 tahun terakhir telah mengirimkan abu ke luar angkasa. Dengan menumpang pada misi luar angkasa, ini memungkinkan orang untuk mengirim abu mereka ke orbit dan sekitarnya. 

Charles Chafer, salah satu pendiri dan kepala eksekutif Celestis, mengatakan bahwa berkat pengembangan operator ruang komersial, seperti SpaceX milik Elon Musk, "kami sekarang meluncurkan dua hingga tiga kali setahun ... [dan] di lima tahun ke depan saya pikir kita akan mengirimkan setiap tiga bulan."***

PenulisR24/saut


Loading...
Loading...