Raffi Ahmad, Gading Marten Hingga Kaesang Pangarep Akuisisi Klub Bola, Berapa Uang Untuk Bisnis Sepak Bola?

Sabtu, 05 Juni 2021 | 09:20 WIB
Foto : VOI Foto : VOI

RIAU24.COM -  Aktor Gading Marten resmi mengakuisisi klub sepak bola Persikota Tangerang. Langkah Gading mengukuhkan gemerlap bisnis sepak bola.

Sebelum Gading, Raffi Ahmad dan Kaesang Pangarep sudah lebih dulu memilih sepak bola sebagai ladang bisnis baru mereka. Dari mana keuntungan dari bisnis sepak bola? Seberapa menggiurkan uang dari sana?

Kabar akuisisi yang dilakukan Gading terlihat dari foto Instagram yang diunggah klub Persikota Tangerang. “Selamat bergabung bersama Gading Marten di Persikota Tangerang,” demikian caption foto yang menampilkan Gading bersama sejumlah pengurus klub.

"Persikota Tangerang secara resmi telah mencapai kesepakatan dengan salah satu tokoh, artis, pengusaha dan pegiat sepakbola tanah air untuk bersama-sama memajukan Magic Baby lolos ke Liga 2 musim ini," lanjut pernyataan tersebut.

Mengenai sejarah Persikota Tangerang, klub ini didirikan pada tahun 1994, satu tahun setelah berdirinya Kota Tangerang. Persikota Tangerang memiliki julukan Magic Baby. Klub yang identik dengan warna biru-kuning ini memiliki basis penggemar bernama Fort Mania.

Persikota Tangerang baru bisa berkiprah di lapangan pada tahun 1995 setelah mendapat pengakuan dalam Kongres PSSI, Desember 1995. Persikota Tangerang memiliki tahun-tahun awal yang cemerlang. Mereka menggebrak dominasi klub senior.

Di situlah julukan Magic Baby disematkan kepada mereka. Pada tahun 2013, Persikota Tangerang mengalami masa sulit. Sang 'adik' Persita Tangerang mengalami masalah keuangan yang cukup serius, membuat semua pemain harus hengkang.

Baca Juga: Terus Merosot, Harga Emas Antam Hari Ini Terjun ke Rp 928.000/gram

Persikota Tangerang mencoba bangkit kembali di tahun 2016, dengan kepengurusan dan kepengurusan klub yang baru. Persikota Tangerang saat ini berlaga di Liga 3. Bersama Gading, Persikota menulis ulang sejarahnya, dengan Stadion Benteng – markas klub – berkapasitas 15 ribu penonton sebagai saksi.

Sebelumnya, Raffi Ahmad bersama pengusaha Rudy Salim resmi mengakuisisi Cilegon United. Klub Liga 2 kini telah berganti nama menjadi Rans Cilegon FC. Akuisisi tersebut diumumkan dalam acara yang digelar di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jumat lalu, 23 April lalu. Rencana investasi Rans Cilegon FC disebut-sebut mencapai Rp300 miliar.

Dalam acara tersebut, Rans Cilegon FC juga mengumumkan nama-nama 31 pemain dan beberapa sponsor. Nama Christian Gonzales dan Syamsir Alam dipilih sebagai bagian dari skuad Cilegon FC untuk musim 21/22. Selain itu ada juga mantan gelandang Persija Jakarta, Asri Akbar; bek senior, Hamka Hamzah; kepada mantan pemain timnas U-19, Rendy Juliansyah.

Untuk sponsorship, Rans Cilegon FC menggandeng tiga sponsor. Mereka adalah Master 99, Coin King, dan Sas. Selain ketiganya, Raffi mengungkapkan masih ada sekitar 40 sponsor yang mengantre untuk Rans Cilegon FC. Banyaknya sponsor tak lepas dari daya tarik Raffi sebagai selebriti papan atas.

Untuk menjaga keseimbangan, Rans Cilegon FC menyatakan tidak akan membiarkan sponsor masuk. "Awalnya kami ingin sponsor eksklusif. Itu hanya permintaan dari teman-teman yang ternyata banyak yang datang ... Kami juga tidak hanya ingin bekerja sama, tetapi kami juga melihat niatnya untuk memajukan sepakbola Indonesia," kata Raffi.

Selain akuisisi Rans Cilegon FC oleh Raffi Ahmad dan Rudy Salim, ada juga akuisisi oleh Kaesang Pangarep. Putra Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu baru saja membeli 40 persen saham klub kampung halamannya, Persis Solo.

Keuntungan bisnis sepak bola
Ketua Kelompok Riset Iklim Bisnis dan Rantai Nilai Global LPEM FEB Universitas Indonesia Mohammad Dian Revindo menulis hasil penelitian tentang dampak ekonomi dan sosial dari kompetisi sepak bola Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan betapa menjanjikannya industri sepak bola Indonesia.

“Penelitian terbaru saya menunjukkan bahwa industri sepak bola Indonesia dapat menciptakan kegiatan ekonomi senilai Rp 3 triliun selama setahun, mulai dari pertandingan di stadion, siaran langsung di televisi, dan menjual merchandise atau pernak-pernik,” dikutip dari The Conversation.

Dari sudut pandang ekonomi, industri sepak bola memiliki dua produk akhir: menonton acara di stadion dan menyiarkan pertandingan di televisi. Produk pertama, peredaran uang dalam pembelian tiket, transportasi, sewa stadion, hingga kostum dan pernak-pernik.

Produk tontonan stadion tidak memberikan pemasukan yang sangat besar bagi klub. Sebelum pandemi, produk tontonan stadion hanya memiliki nilai ekonomis Rp. 300 miliar untuk satu musik kompetisi liga utama.

Sedangkan untuk hiburan dalam menonton televisi, peredaran uangnya berkisar pada industri penyiaran, periklanan, hingga teknologi informasi. Yang ini lebih murah. Iklan di stasiun televisi dan sponsor klub, total nilainya mencapai Rp. 1,4 triliun. Angka ini bisa meningkat seiring dengan meningkatnya kualitas persaingan.

Dikutip dari Pandit Football, sebagai perbandingan, pada 2019, harga hak siar setiap pertandingan Liga Indonesia berkisar Rp. 42 juta. Sedangkan hak siar satu pertandingan Liga Inggris mencapai Rp130 ​​juta.

Selain dua hal di atas, ada potensi uang lain yang bisa dikembangkan: bisnis sekolah sepak bola. Raffi sudah jelas mengatakan akan membangun akademi sepakbola. Dulu, bisnis sekolah sepak bola adalah bagian dari rantai produksi pemain di sebuah klub.

Sekarang, sekolah sepak bola lebih berkembang dalam bisnis. Keluarga kelas menengah kini telah bergabung sebagai peserta dalam kegiatan menghasilkan uang ini.

Baca Juga: Masih Turun, Emas Antam Hari Ini Berada di Rp 940.000/gram, Mau Beli?

Di tengah pandemi, ketika ekonomi sedang bermasalah, apakah langkah yang tepat bagi Raffi, Rudy Salim, Kaesang Pangarep, dan Gading Marten untuk mengakuisisi klub sepak bola? Jawabannya bisa, ya. Apalagi jika targetnya adalah profit jangka panjang.

Pandemi ini menekan klub ke dalam kesulitan keuangan. Kompetisi tidak berjalan karena pembatasan sosial. Nasib malang ini membuat banyak pemilik klub rela melepas asetnya dengan harga murah.

Ini peluang strategis bagi investor seperti Raffi, Rudy, Kaesang, atau Gading. Dalam jangka panjang, keterlibatan influencer di dalam klub dapat memberikan dampak positif bagi klub. Klub dapat memperluas basis penggemarnya. Tentu saja target utamanya bukan fans tradisional yang jatuh cinta pada klub, tapi fans di luar itu. Ekspansi meningkatkan nilai iklan klub.

Rans Cilegon FC mengawali pamornya dengan magnet perhatian. Tengok saja peluncuran klub baru yang begitu semarak, termasuk permainan Raffi dan Rudy yang datang dengan Lamborghini Huracan warna merah. Kaesang dan Gading lebih tenang.

Namun bagaimana perkembangan bisnis mereka di masing-masing klub selanjutnya? Kita lihat nanti.

PenulisR24/ibl


Loading...
Loading...