Kisah Cinta Dipisahkan Maut di Gunung Everest, Jenazah Berserakan tak Dikebumikan

Rabu, 14 Juli 2021 | 13:02 WIB
google google

RIAU24.COM - Pada 2011, Gunung Everest terhitung sudah merenggut 216 nyawa pendaki. Gunung itu bahkan dicap sebagai "Zona Kematian".

Beberapa tahun lalu, dua pendaki mendengar jeritan seorang wanita bernama Francys Arsentiev, seorang pendaki Amerika yang tersandung setelah tak mampu melawan gulungan kabut salju dan mendapati dirinya terpisah dari sang suami.
Baca Juga: Atlet Aljazair Tolak Lawan Israel dan Mundur Olimpiade Tokyo 2020, Netizen: Harusnya Dikalahkan dan Hadiah Kasih Palestina


Terlepas dari risikonya, dua pendaki bernama Ian Woodall dan Cathy O'Dowd, berbalik dan melakukan apa yang mereka bisa untuk membantu Francys.

Namun terlambat. Meskipun Ian dan Cathy mati-matian berusaha memberi oksigen, Francys tetap menyerah dan tewas di sana.

Delapan tahun kemudian, Ian dan Cathy kembali ke Gunung Everest, dengan satu niat; memakamkan jenazah Francys yang masih terperangkap di atas.

Baca Juga: Terungkap! Begini Cara Taliban Kuasai Hampir Setengah Afghanistan Dengan Cepat

Ian dan Cathy, berencana untuk menempatkan bendera Amerika lengkap dengan surat cinta penuh kerinduan dari keluarga Francys.

Suami Francys, Sergei, yang saat itu terpisah darinya, hingga kini tak diketahui keberadaannya. Sergei menghilang entah ke mana, yang ditemukan hanyalah kapak dan tali miliknya.

Pendaki lain, mengaku melihat Sergei terakhir kali sangat jauh terpisah dari Francys. Menyadari jarak antara dia dan sang istri, Sergei sempat turun dan mencari belahan jiwanya itu, meskipun dia sendiri dalam keadaan terengah-engah kekurangan oksigen.

Satu di antara ratusan jenazah yang paling terkenal terdampar di Everest hingga kini adalah tubuh Tsewang Paljor, seorang pendaki asal India. Ia diidentifikasi sebagai "Si Sepatu Hijau" karena sepatu bot berwarna hijau terang masih melekat di tubuhnya.

Paljor adalah bagian dari kelompok tim India pertama yang mendaki Mt Everest dari rute Timur Laut. Sayangnya, cuaca selama musim 1996 sangat tidak stabil. Terpisah dari kawanannya, Paljor meringkuk di sebuah gua kecil. Di gua itu pula, dia menghembuskan nafas terakhirnya.

 

PenulisR24/ame


Loading...
Loading...