Pemerintah Israel Terancam Bubar Usai Anggota Parlemen Mundur, Berapa Lama Mereka akan Bertahan?

Rabu, 15 Juni 2022 | 13:26 WIB
Potret Perdana Menteri Pemerintahan Israel /net Potret Perdana Menteri Pemerintahan Israel /net

RIAU24.COM - Pemerintah Israel terancam bubar dan memiliki satu atau dua minggu untuk menyelesaikan masalah internalnya. Hal ini disampaikan Perdana Menteri (PM) Naftali Bennett mengatakan kepada Knesset Israel setelah koalisinya kehilangan pendukung.

"Kami memiliki satu atau dua minggu untuk menyelesaikan masalah dalam koalisi dan kemudian kami dapat bertahan lama untuk melanjutkan kebaikan yang kami lakukan," kata Bennett pada sesi khusus Knesset, dikutip dari Al Jazeera, Rabu (15/6/2022).

"Tetapi jika kami tidak berhasil, kami tidak akan dapat melanjutkan," tambah Bennett.

Baca Juga: Rusia Gagal Bayar Utang Luar Negeri untuk Pertama Kalinya Sejak 1918

Pembelotan dan pemberontakan dalam beberapa pekan terakhir telah membuat koalisi Bennett yang terdiri dari delapan partai yang berbeda tanpa mayoritas yang jelas untuk meloloskan undang-undang goyah.

Hal itu menimbulkan pertanyaan tentang berapa lama mereka dapat bertahan.

Pemerintah Bennett dilantik pada Juni 2021 lalu, menggantikan pemimpin lama Benjamin Netanyahu yang diadili karena korupsi. Genap satu tahun koalisi ini terbentuk.

Koalisi tersebut mencakup partai-partai sayap kanan, liberal, dan Arab. Mereka bersatu untuk menentang Netanyahu dan hanya memiliki sedikit kesamaan.

Sayap kanan Israel yang dominan di parlemen negara itu juga terbagi antara pendukung dan penentang Netanyahu.

Kehadiran United Arab List (UAL), partai yang mewakili warga Palestina Israel, dalam koalisi juga ditentang oleh banyak pihak di kanan Israel.

UAL sendiri telah berulang kali mengancam akan menarik diri dari koalisi sebagai protes terhadap serangan oleh pasukan Israel di kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur, dan melanjutkan serangan di Tepi Barat.

Perpecahan antara mitra koalisi menjadi lebih menonjol. Anggota seperti Nir Orbach, yang merupakan anggota partai Yamina sayap kanan Bennett sendiri, sekarang menganggap partisipasi mereka dalam pemerintahan tidak dapat dipertahankan.

"Saya telah memberitahu perdana menteri bahwa berdasarkan situasi saat ini, saya tidak lagi menjadi bagian dari koalisi," kata Orbach dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan oleh beberapa media Israel.

Baca Juga: Aktor 'Aquaman' Jason Momoa Menjadi Pelindung Lautan Dunia yang Sebenarnya

Tapi Orbach tetap berharap koalisi itu entah bagaimana dapat diselamatkan. Ia mengatakan belum akan memilih untuk membubarkan parlemen dan mengirim negara itu ke putaran pemilihan lain.

Kepergian anggota parlemen ini membuat koalisi Bennett kekurangan mayoritas, dengan 59 kursi di Knesset yang beranggotakan 120 orang.

Koalisi yang bertahan dapat tetap berkuasa sampai mayoritas anggota parlemen memilih untuk membubarkan parlemen atau menunjuk PM yang berbeda.

PenulisR24/zura


Loading...

Loading...