Jelang Bertemu Netanyahu, Trump Janjikan Hal Spesial untuk Gaza
RIAU24.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menjanjikan sebuah terobosan besar terkait perang Gaza yang sudah berlangsung hampir dua tahun.
Ia bahkan menuliskan pesan penuh optimisme di akun Truth Social miliknya pada Minggu (28/9), “SEMUANYA SEDANG BERSIAP UNTUK SESUATU YANG SPESIAL, UNTUK PERTAMA KALINYA. KAMI AKAN MENYELESAIKANNYA!!!”
Namun, Trump tidak merinci hal spesial yang ia maksud dalam unggahannya tersebut.
Pernyataan ini muncul menjelang pertemuan penting Trump dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih pada Senin (29/9), yang digadang-gadang bisa menjadi momen penentu bagi upaya perdamaian Gaza.
Kesepakatan diklaim hampir rampung Trump mengeklaim kesepakatan damai sudah “hampir selesai” setelah dirinya melakukan rangkaian pembicaraan dengan para pemimpin Arab pekan lalu.
Kesepakatan itu kabarnya berisi 21 poin, mencakup pembebasan seluruh sandera yang masih ditahan Hamas, pelucutan senjata Hamas, dan gencatan senjata menyeluruh.
Optimisme Trump berbanding terbalik dengan sikap Netanyahu. Dalam pidatonya di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Netanyahu menegaskan komitmennya untuk “menyelesaikan pekerjaan” melawan Hamas.
Ia juga menolak gagasan pembentukan Negara Palestina, meski sejumlah negara Barat baru saja mengakui kedaulatan Palestina. Netanyahu bahkan menolak usulan agar Otoritas Palestina (PA) kembali memerintah Gaza setelah Hamas dilucuti.
“Saya pikir kemungkinan PA yang direformasi dan benar-benar menerima negara Yahudi itu sangat kecil. Mereka masih mendidik generasi mudanya untuk membenci kami,” ujarnya dalam wawancara dengan Fox News.
Sementara itu, beberapa laporan media menyebut nama mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair sebagai calon pemimpin otoritas transisi internasional untuk Gaza.
Rencana yang didukung AS itu akan melibatkan PBB dan negara-negara Teluk, sebelum nantinya diserahkan ke PA yang telah direformasi.
Akan tetapi, penolakan Netanyahu atas keterlibatan PA menjadi tantangan besar bagi rancangan ini. Menurut Natan Sachs, peneliti senior di Middle East Institute, jalan Trump tidak akan mudah.
“Netanyahu jelas lebih suka melanjutkan perang dan menyingkirkan Hamas. Namun bukan berarti Trump tidak bisa membujuknya. Itu hanya butuh tekanan besar dan strategi yang jelas,” ujarnya.
Trump sendiri belakangan mulai menunjukkan frustrasi terhadap langkah Israel, termasuk peringatan keras agar Netanyahu tidak mencaplok Tepi Barat dan kritik terhadap serangan Israel terhadap Hamas di Qatar, sekutu dekat AS.