Rocky Gerung soal Kasus MBG: Makan Siang Berubah jadi Ancaman Keracunan

Zuratul 3 Oct 2025, 15:26
Rocky Gerung soal Kasus MBG: Makan Siang Berubah jadi Ancaman Keracunan. (X/Foto)
Rocky Gerung soal Kasus MBG: Makan Siang Berubah jadi Ancaman Keracunan. (X/Foto)

RIAU24.COM -Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diluncurkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dengan tujuan menyiapkan generasi emas Indonesia menuai kritik keras. Sejumlah kasus keracunan massal siswa setelah menyantap makanan MBG memunculkan pertanyaan serius terkait tata kelola, pengawasan, dan dugaan praktik korupsi dalam pelaksanaannya.

Hingga akhir September 2025, lebih dari 6.000 siswa di berbagai daerah dilaporkan mengalami keracunan akibat makanan MBG. Pemerintah menyebut angka resminya lebih kecil, namun skala kejadian dinilai tetap signifikan untuk sebuah program yang menyangkut keselamatan anak-anak.

Sejak awal, Presiden Prabowo menegaskan bahwa MBG dirancang untuk menghapus stunting, memperkuat daya pikir, dan menyiapkan bonus demografi. Program ini disebut sebagai “investasi peradaban” agar anak-anak Indonesia tumbuh sehat dan mampu bersaing di tingkat global.

Namun idealisme tersebut tergelincir di lapangan. Pelaksanaan MBG dianggap tergesa-gesa, kurang persiapan, dan kini menghadapi sorotan tajam publik setelah kasus keracunan berulang.

Kritik Keras Rocky Gerung 

Pengamat politik Rocky Gerung menilai inti persoalan MBG bukan sekadar teknis, melainkan etika penyelenggaraan negara.

Rocky menyebut program tersebut telah berubah menjadi "racun" yang tidak hanya membahayakan fisik, tetapi juga memorak-porandakan psikologis siswa, orang tua, hingga para guru.

Melalui kanal YouTube Rocky Gerung Official, ia menguliti habis kontradiksi antara tujuan mulia program dengan implementasinya yang carut-marut di lapangan.

Menurutnya, etika dan hak dasar anak untuk mendapatkan gizi sempurna telah diabaikan begitu saja.

“Jadi ini yang kita mau bayangkan bahwa sikap etis di dalam penyelenggaraan makan siang bergizi ini, tidak memperhatikan hak dari atau hak dasar dari para murid ini untuk memperoleh gizi yang sempurna, memperoleh masa depan,” ujar Rocky dikutip Rabu (1/10/2025).

Rocky menyebut, sejak awal publik sudah khawatir proyek massal seperti MBG rawan kekacauan bila tidak diikuti mitigasi yang matang. Menurutnya, manajemen yang buruk menimbulkan korban, dan di balik buruknya manajemen terdapat rantai korupsi.

Ia juga menuding adanya sikap mumpungisme dalam pengelolaan MBG. 

“Karena anggarannya besar dan berulang setiap hari, ada yang melihatnya sebagai peluang untuk mencuri. Korupsi itu membatalkan masa depan anak-anak. Hak anak memperoleh gizi sempurna dirampas demi keuntungan,” tegasnya.

Rocky Gerung menggambarkan bagaimana suasana sekolah yang seharusnya riang justru berubah penuh kecemasan sejak program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan.

“Sendok pertama mulai diragukan. Sendok kedua, guru memperhatikan. Sendok ketiga, ada murid yang lemas. Orang tua cemas di rumah, guru cemas di sekolah, murid pun takut. Makan siang berubah jadi ancaman keracunan. Psikologi anak-anak rusak,” kata Rocky.

Ia menekankan bahwa hak gizi anak-anak tidak sepenuhnya sampai ke meja makan. Menurutnya, hanya sekitar 30–40 persen dari hak mereka yang benar-benar diterima. Ia bahkan menyoroti bahwa praktik rente bisa terjadi di setiap tahap, mulai dari pembelian bahan, distribusi, hingga urusan kecil seperti siapa yang mencuci piring dan dengan anggaran berapa.

“Mulai dari pengadaan bahan, distribusi, hingga sekadar urusan mencuci piring dengan anggaran berapa—semua bisa jadi bancakan,” ujar Rocky menambahkan.

Rocky memperingatkan bahwa praktik tersebut tidak hanya mengorbankan kesehatan anak-anak hari ini, tetapi juga membahayakan masa depan bangsa. Ia menyebut korupsi di MBG dapat menggerus peluang bonus demografi yang seharusnya menjadi aset terbesar Indonesia.

“Gizi yang diserap anak-anak adalah tabungan peradaban. Kalau tabungan itu dirampas, apa yang tersisa untuk masa depan bangsa? Ini bukan hanya racun makanan, tapi racun peradaban,” katanya.

Dengan kata lain, investasi negara melalui MBG berpotensi gagal memberi hasil bila tata kelola tidak segera diperbaiki.

Meski keras mengkritik, Rocky menegaskan bahwa program MBG tidak boleh dibubarkan. Ia menilai visi yang dibawa tetap penting bagi masa depan anak-anak Indonesia. Yang perlu dilakukan adalah evaluasi menyeluruh agar program berjalan sesuai tujuan.

“Proyek ini harus dilanjutkan karena visinya mulia. Tapi hentikan sebentar untuk evaluasi. Jangan ada lagi ibu-ibu cemas menitipkan anak ke sekolah. Jangan ada lagi guru waswas. Jangan ada lagi siswa takut makan siang. Makan siang harus jadi kegembiraan, bukan ancaman,” ujarnya.

Rocky mendorong adanya moratorium sementara agar pemerintah dapat melakukan audit independen serta memperbaiki sistem distribusi secara menyeluruh.

Polemik MBG kini menjadi ujian besar bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Di satu sisi, program ini membawa harapan untuk membangun generasi emas Indonesia. Namun di sisi lain, tanpa tata kelola yang bersih dan transparan, MBG berisiko dikenang sebagai skandal gizi nasional.

“Sekali lagi,” tutup Rocky, “apa yang digratiskan oleh alam jangan dikorupsi. Kalau dikorupsi, ia berubah jadi racun. Racun itu bukan hanya merusak tubuh anak-anak, tapi juga masa depan republik.”

(***)