PTPN IV Regional III Awali 2026 dengan Kinerja Optimal
RIAU24.COM - Kampar - PTPN IV Regional III mengawali tahun 2026 dengan kinerja operasional positif. Capaian produksi pada awal tahun tercatat melampaui target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP), baik di sisi on-farm pengelolaan kebun maupun off-farm atau pengolahan pabrik.
Capaian tersebut dipaparkan oleh Operation Head PTPN IV Regional III, Sori Ritonga, dalam rangkaian kunjungan kerja Operational Strategic Advisory (OSA) Holding Perkebunan Nusantara III (Persero) di Kebun dan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Sei Pagar, Kabupaten Kampar, Riau.
Kunjungan tersebut dihadiri oleh tim OSA Holding Perkebunan Nusantara III (Persero) yang dipimpin Amal Bakti Pulungan dan Ahmad Haslan Saragih, serta Business Support Head Regional III Achmedy Akbar serta manajemen Distrik Timur.
Dalam pemaparannya, Sori menyampaikan, hingga awal 2026, kinerja operasional Regional III menunjukkan tren yang menggembirakan. Produksi tandan buah segar (TBS) dari kebun inti mampu melampaui target RKAP periode berjalan.
Realisasi produksi TBS pada dua bulan pertama 2026 tercatat mencapai 244 ribu ton, atau sekitar 105 persen dari target RKAP sebesar 230 ribu ton.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa manajemen kebun mampu menjaga stabilitas produksi meskipun awal tahun umumnya menjadi periode transisi produksi pada tanaman kelapa sawit.
“Kinerja ini menjadi indikasi bahwa berbagai perbaikan tata kelola operasional yang kita lakukan mulai memberikan hasil yang positif. Baik dari sisi pemeliharaan tanaman, manajemen panen, hingga optimalisasi pengolahan di pabrik,” kata dia belum lama ini.
Sejalan dengan capaian di sektor kebun, kinerja pengolahan di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) juga menunjukkan performa yang solid. Volume TBS yang diolah hingga awal tahun mencapai lebih dari 417 ribu ton, melampaui target RKAP periode yang sama. Selain kebun inti, pengolahan juga bersumber dari
Dari volume pengolahan tersebut, Regional III berhasil memproduksi sekitar 33,58 ribu ton crude palm oil (CPO) atau 117 persen dari RKAP. Selain itu, entitas juga memproduksi 9,2 ribu ton inti sawit (kernel) atau 137 persen dari RKAP. Efisiensi operasional pabrik juga tetap terjaga, ditunjukkan dari tingkat kehilangan minyak (oil losses) yang berada di bawah standar industri.
Menurut Sori, capaian tersebut tidak terlepas dari upaya konsisten perusahaan dalam memperkuat disiplin operasional serta memanfaatkan berbagai inisiatif peningkatan efisiensi di tingkat kebun maupun pabrik.
“Selain menjaga produktivitas kebun, kami juga terus mendorong efisiensi proses pengolahan agar rendemen tetap optimal dan losses dapat ditekan. Ini menjadi fokus penting agar kinerja operasional tetap kompetitif,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Tim OSA Holding Perkebunan Nusantara III (Persero), Ahmad Haslan Saragih, mengapresiasi berbagai inisiatif yang dilakukan oleh Regional III untuk meningkatkan efisiensi operasional.
Ia mendorong agar perusahaan terus mengoptimalkan HPP atau harga pokok produksi, yakni keseluruhan biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk menghasilkan satuan produk, mulai dari biaya pemeliharaan kebun, panen, hingga proses pengolahan di pabrik.
“Upayakan HPP bisa ditekan sehingga kinerja operasional bisa lebih optimal,” ujar Ahmad Haslan.
Ia juga menyoroti salah satu inisiatif operasional yang mulai diterapkan di Regional III, yakni sistem hatch and carry, yang dinilai sebagai langkah inovatif dalam mendukung efisiensi kerja di lapangan.
“Saya senang hatch and carry menjadi salah satu inisiatif di Regional III. Pelajari dampaknya dengan baik dan laporkan hasilnya,” tambahnya.
Sementara itu, anggota OSA lainnya, Amal Bakti Pulungan, mengaku bangga melihat perkembangan kinerja Regional III yang menurutnya menunjukkan kemajuan signifikan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Ia mengenang kondisi produktivitas kebun di masa lalu yang saat itu masih berada di kisaran 16 hingga 17 ton per hektare, dan dinilai sangat sulit untuk ditingkatkan.
“Setelah saya meninggalkan PTPN V, saya merasa bangga melihat berbagai capaian yang diraih saat ini. Dulu produktivitas kalau tidak salah sekitar 16 sampai 17 ton, untuk mengangkatnya menjadi 20 ton saja sangat sulit,” ujarnya.
Menurutnya, peningkatan produktivitas yang berhasil dicapai saat ini merupakan prestasi penting yang patut dipertahankan.
“Sekarang Alhamdulillah sudah di atas itu. Dulu juga banyak losses, sekarang semuanya menjadi perhatian serius. Ini adalah prestasi yang sangat membanggakan,” lanjutnya.
Namun demikian, Amal mengingatkan agar perusahaan tidak cepat berpuas diri. Ia menilai potensi peningkatan kinerja masih sangat terbuka, sehingga berbagai peluang perbaikan perlu terus dicari.
“Tolong jaga, pertahankan, dan terus ditingkatkan. Ke depan target-target pasti akan lebih tajam dan lebih menantang, karena potensinya memang ada. Kita harus lebih baik dari tahun lalu,” katanya.
Ia juga mendorong manajemen Regional III untuk terus mencari ruang perbaikan (room for improvement) agar kinerja perusahaan dapat semakin optimal.
Setelah sesi paparan kinerja, rombongan OSA kemudian melanjutkan kegiatan dengan melakukan kunjungan lapangan ke area kebun serta fasilitas PKS Sei Pagar untuk melihat langsung implementasi operasional yang dijalankan oleh unit kerja.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya penguatan pengawasan strategis sekaligus memastikan berbagai inisiatif peningkatan produktivitas dan efisiensi operasional dapat berjalan secara konsisten di lapangan. ***