Idris Laena: Sekolah Bukan Sekadar Tempat Belajar, tetapi Ruang Membangun Peradaban
RIAU24.COM - Pendiri Alexandria Islamic School, Dr. Ir. H.M. Idris Laena, M.H., menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada pencapaian akademik semata. Menurutnya, sekolah harus menjadi ruang pembentukan karakter, penanaman akhlak mulia, sekaligus tempat melahirkan generasi yang mampu menghadapi tantangan global tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia dan umat Islam.
Pesan tersebut disampaikan Idris Laena saat memberikan pengarahan pada Gathering and Closing Ceremony Pre-Session Tahun Ajaran 2026–2027 di Auditorium Alexandria Islamic School, Rawalumbu, Kota Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (11/7/2026). Acara tersebut dihadiri ratusan orang tua siswa, jajaran yayasan, kepala sekolah, guru, peserta didik baru, serta para undangan.
Tiga Filosofi Pre-Session
Mengawali sambutannya, Idris menjelaskan bahwa program Pre-Session bukan sekadar pengganti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), melainkan bagian dari proses membangun fondasi pendidikan sejak hari pertama siswa memasuki sekolah.
Ia menyebut terdapat tiga filosofi utama yang menjadi dasar pelaksanaan program tersebut.
1. Mengenalkan Lingkungan Sekolah Sejak Hari Pertama
Selama kurang lebih dua pekan, para siswa diperkenalkan dengan lingkungan belajar, budaya sekolah, serta nilai-nilai yang akan menjadi pedoman selama menempuh pendidikan di Alexandria Islamic School.
"Kami berharap mereka mulai mencintai lembaga yang akan mendidik mereka selama tiga tahun," ujar Idris.
Menurutnya, pengenalan lingkungan sekolah sejak awal akan membantu siswa beradaptasi lebih cepat, merasa nyaman, serta memiliki rasa memiliki terhadap sekolah.
2. Memperkuat Ikatan Anak dengan Orang Tua
Filosofi kedua adalah menanamkan penghormatan kepada orang tua. Karena itu, Alexandria mewajibkan ayah dan ibu hadir bersama anak dalam acara penutupan Pre-Session.
Idris menegaskan, kehadiran orang tua bukan sekadar memenuhi undangan, melainkan simbol bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga dan sekolah.
Apalagi sebagian besar peserta didik merupakan siswa boarding school yang tinggal di asrama.
Melalui kegiatan tersebut, para siswa diingatkan bahwa meskipun tinggal jauh dari rumah, mereka tetap mendapatkan kasih sayang dan dukungan penuh dari kedua orang tua.
Sebagai bentuk penghormatan, Idris mengajak seluruh peserta memberikan tepuk tangan kepada para ayah dan ibu yang telah berjuang memberikan pendidikan terbaik bagi putra-putrinya. Kegiatan kemudian ditutup dengan makan siang bersama sebagai simbol kebersamaan antara sekolah, siswa, dan keluarga.
3. Menggali Minat dan Bakat Sejak Awal
Makna ketiga dari Pre-Session adalah mengenali potensi terbaik setiap peserta didik.
Seluruh penampilan seni pada acara penutupan, mulai dari tari tradisional, seni bela diri, angklung, drama, pidato berbahasa asing hingga pembacaan puisi merupakan hasil pemetaan minat dan bakat siswa selama dua pekan mengikuti Pre-Session.
"Semua yang tampil hari ini adalah anak-anak yang baru masuk. Dalam dua minggu kami sudah mulai melihat bakat dan minat mereka," kata Idris.
Menurutnya, setiap anak memiliki potensi yang berbeda sehingga sekolah berkewajiban membantu mengembangkannya secara optimal.
Prestasi Akademik dan Nonakademik
Dalam kesempatan tersebut, Idris juga memaparkan berbagai capaian Alexandria Islamic School.
Sebanyak 12 siswa SMP dan 13 siswa SMA memperoleh penghargaan Academic Achievement, sementara 122 lulusan berhasil diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN).
Di bidang nonakademik, Alexandria aktif mengembangkan sekitar 30 cabang ekstrakurikuler.
Salah satu prestasi yang menjadi kebanggaan adalah keberhasilan Marching Band Alexandria meraih Juara II Dunia pada ajang WAMSB Drumline Battles International. Tahun ini, tim marching band tersebut juga memperoleh undangan tampil di Meksiko.
Menurut Idris, berbagai prestasi tersebut merupakan bukti bahwa pendidikan yang dijalankan tidak hanya mengejar nilai akademik, tetapi juga mengembangkan potensi peserta didik secara menyeluruh.
Pendidikan Harus Membangun Peradaban
Dalam pidatonya, Idris menegaskan bahwa pendidikan sejatinya adalah proses membangun peradaban.
"Hari ini bukan sekadar penutupan Pre-Session. Hari ini adalah pengingat bahwa sesungguhnya kita tidak hanya sedang mendidik anak, kita sedang membangun peradaban," tegasnya.
Mantan Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar itu mengatakan peradaban lahir dari manusia yang memiliki ilmu pengetahuan, hati nurani, dan akhlak mulia.
Karena itu, menurutnya, sekolah tidak boleh hanya menjadi tempat mengejar nilai akademik, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter.
Konsep Three in One
Sebagai implementasi filosofi tersebut, Alexandria Islamic School menerapkan konsep Three in One, yakni integrasi tiga aspek utama pendidikan.
Pertama, Academic, untuk membangun kecerdasan intelektual.
Kedua, Life Skill, guna membentuk ketangguhan, kemampuan memecahkan masalah, serta kesiapan menghadapi kehidupan nyata.
Ketiga, Behavior, yaitu pembentukan karakter, akhlak, dan kepribadian peserta didik.
Idris mengingatkan bahwa kecerdasan tanpa akhlak justru dapat menjadi ancaman.
"Kami ingin melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan beradab," ujarnya.
Selain itu, Alexandria juga menerapkan Personal Approach Solution, yakni pendekatan personal kepada setiap peserta didik.
"Setiap anak bukanlah angka. Setiap anak adalah amanah, setiap anak adalah masa depan," katanya.
Memadukan Standar Internasional dan Nilai Lokal
Idris menjelaskan Alexandria memadukan kurikulum internasional Cambridge dengan penguatan nilai-nilai keislaman, budaya Indonesia, dan karakter Pancasila.
Menurutnya, pendidikan tidak harus memilih antara menjadi berdaya saing global atau tetap menjaga identitas nasional.
"Kami tidak memilih antara global dan lokal, kami merangkul keduanya," ungkapnya.
Visi Alexandria adalah melahirkan generasi yang cerdas, kreatif, inovatif, mandiri, berjiwa Pancasila, bertakwa, dan berakhlak mulia.
Pendidikan Berbasis Nilai Islam
Dalam pidatonya, Idris mengutip Surah Al-Mujadilah ayat 11 tentang kemuliaan orang-orang beriman dan berilmu, serta hadis Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.
Menurutnya, ilmu pengetahuan harus selalu melahirkan keimanan dan akhlak. Tanpa keduanya, pendidikan hanya akan menghasilkan kecerdasan yang kehilangan arah.
Kolaborasi Sekolah dan Orang Tua
Idris menyampaikan apresiasi kepada seluruh orang tua yang telah mempercayakan pendidikan putra-putrinya kepada Alexandria Islamic School.
Ia menegaskan bahwa pendidikan terbaik hanya dapat terwujud apabila sekolah dan keluarga berjalan seiring.
"Ketika cinta di rumah bertemu dengan nilai di sekolah, di situlah pendidikan terbaik lahir," ujarnya.
Pesan untuk Para Siswa
Menutup sambutannya, Idris mengajak seluruh peserta didik baru memanfaatkan masa belajar di Alexandria untuk mengembangkan seluruh potensi diri.
Ia berpesan agar para siswa tidak takut berbuat salah selama mau terus belajar dan memperbaiki diri.
Di atas segalanya, ia menekankan bahwa adab lebih tinggi daripada ilmu. Para siswa diminta menghormati orang tua, memuliakan guru, menyayangi teman, serta menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan dalam kehidupan.
Menurut Idris, generasi muda hari ini merupakan calon pemimpin bangsa yang akan menentukan arah Indonesia di masa depan.
Karena itu, Alexandria Islamic School berkomitmen melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, akhlak mulia, kepedulian sosial, serta semangat membangun peradaban, sehingga mampu memberikan manfaat bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.
Naskah ini sudah mengikuti gaya berita feature yang lazim dimuat media nasional, dengan alur yang lebih rapi, minim pengulangan, dan tetap mempertahankan kutipan-kutipan penting dari Idris Laena.