Dua Obat Keras Ditemukan di Lokasi Tewasnya Dokter Residen Siak, Polisi Belum Simpulkan Penyebab Kematian

Lina 16 Jul 2026, 15:43
Dua Obat Keras Ditemukan di Lokasi Tewasnya Dokter Residen Siak, Polisi Belum Simpulkan Penyebab Kematian
Dua Obat Keras Ditemukan di Lokasi Tewasnya Dokter Residen Siak, Polisi Belum Simpulkan Penyebab Kematian

RIAU24.COM - SIAK – Penyelidikan kasus meninggalnya dokter residen anestesi RSUD Tengku Rafian Siak, dr. Alex Kristo Lotis (30), terus bergulir. Setelah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), penyidik mengamankan dua vial obat keras berlabel Fentanil Citrate dan Rocuronium Bromide yang ditemukan di dekat jasad korban saat ditemukan di area semak belukar di luar pagar rumah sakit, Selasa (14/7/2026).

Penemuan kedua obat tersebut menjadi salah satu barang bukti yang tengah didalami penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Riau. Meski demikian, polisi menegaskan belum dapat menyimpulkan keterkaitan kedua obat tersebut dengan penyebab kematian korban.

Selain dua vial obat, petugas turut mengamankan sejumlah barang pribadi milik korban berupa telepon genggam, kartu identitas, stetoskop, alat pengukur tekanan darah, alat pemeriksa gula darah, headset Bluetooth, tas sandang, serta uang tunai sekitar Rp861 ribu.

Fentanil Citrate merupakan obat analgesik opioid sintetis yang dikenal memiliki potensi sangat kuat untuk mengatasi nyeri berat, sedangkan Rocuronium Bromide merupakan obat pelemas otot yang umum digunakan dalam tindakan anestesi. Kedua jenis obat tersebut termasuk kategori obat keras yang penggunaannya harus berada di bawah pengawasan tenaga medis dan lazim digunakan oleh dokter anestesi dalam prosedur operasi.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Riau, Kombes Pol. Hasyim Risahondua, menjelaskan, korban sebelumnya dilaporkan hilang oleh istrinya, dr. Yulianti Marbun, yang juga berprofesi sebagai dokter. Korban tidak dapat dihubungi sejak Senin (13/7/2026) sekitar pukul 17.30 WIB karena telepon selulernya dalam keadaan tidak aktif.

Merasa khawatir, sang istri bersama rekan-rekan dokter dan petugas keamanan rumah sakit melakukan pencarian. Rekaman kamera pengawas (CCTV) kemudian diperiksa dan memperlihatkan korban berjalan seorang diri menuju pintu keluar Pos Satpam RSUD sebelum meninggalkan area rumah sakit.

Pencarian kembali dilanjutkan keesokan harinya dengan menyisir lokasi terakhir yang terekam CCTV. Sekitar pukul 11.30 WIB, dua petugas keamanan bersama seorang sopir ambulans menemukan korban dalam posisi terlentang di semak belukar sekitar lima meter di luar pagar belakang rumah sakit atau sekitar 30 meter dari Jalan Raja Kecik.

Tim Satreskrim Polres Siak segera memasang garis polisi dan melakukan olah TKP sebelum jenazah dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Riau di Pekanbaru untuk menjalani autopsi.

Hasil pemeriksaan awal menyebutkan belum ditemukan tanda-tanda kekerasan yang jelas secara kasat mata. Namun, dari proses autopsi diketahui terdapat memar pada bagian kepala serta luka pada tangan korban. Polisi juga telah memeriksa sedikitnya lima orang saksi untuk mengungkap rangkaian peristiwa sebelum korban ditemukan meninggal dunia.

Hingga kini, penyidik masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium forensik yang diperkirakan memerlukan waktu sekitar dua pekan. Hasil tersebut akan menjadi dasar untuk memastikan penyebab kematian dokter muda tersebut.

Polisi mengimbau masyarakat agar tidak berspekulasi mengenai penyebab meninggalnya dr. Alex Kristo Lotis dan menunggu hasil resmi penyelidikan yang sedang dilakukan secara ilmiah melalui autopsi serta pemeriksaan laboratorium forensik.(Lina)