Rezeki yang Tak Selalu Wangi: Perjalanan Mahyin Mengubah Limbah Sapi Menjadi Harapan Keluarga

Devi 28 Oct 2025, 10:39
Rezeki yang Tak Selalu Wangi: Perjalanan Mahyin Mengubah Limbah Sapi Menjadi Harapan Keluarga
Rezeki yang Tak Selalu Wangi: Perjalanan Mahyin Mengubah Limbah Sapi Menjadi Harapan Keluarga

RIAU24.COM -  Pagi belum sepenuhnya tinggi ketika Hasan Mahyin menyalakan sepeda motornya. Jalan tanah menuju rumah produksi pupuk di Desa Mukti Sari, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Riau, masih diselimuti debu tipis yang beterbangan setiap kali kendaraan melintas.

Tujuannya bukan kantor berpendingin udara, bukan tempat dengan aroma wangi dan bersih. Ia menuju tempat yang bagi sebagian orang mungkin dihindari: tumpukan kotoran sapi yang menunggu diolah menjadi pupuk organik.

Saat memasuki rumah produksi pupuk organik di Desa Mukti Sari, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Riau, aroma menyengat menyeruak tajam. Di tengah tumpukan kotoran sapi yang menggunung, Hasan Mahyin tak tampak terusik. Dengan tangan yang penuh noda dan tubuh yang dibasahi peluh, pria 41 tahun itu justru bekerja dengan tenang, mengaduk campuran limbah yang kelak berubah menjadi pupuk organik bernilai jual.

Bagi sebagian orang, tempat itu mungkin terasa menjijikkan. Namun bagi Mahyin, di sanalah masa depan keluarganya tumbuh.

"Dulu saya tidak pernah menyangka bisa hidup dari sesuatu yang dibuang orang," ujarnya lirih.

Setiap pagi saat masa produksi dimulai, Mahyin mengendarai sepeda motornya menyusuri jalan tanah menuju rumah produksi milik Kelompok Biotama Agung Lestari. Bersama sekitar 20 warga lainnya, ia mengubah limbah kotoran sapi menjadi pupuk organik yang kini dimanfaatkan petani hingga dipasarkan ke luar Pulau Jawa.

Rutinitas itu telah menjadi bagian dari hidupnya.

Di sudut bangunan sederhana itu, tumpukan kohe—sebutan warga untuk kotoran sapi—menunggu giliran diproses. Limbah tersebut dikumpulkan, ditimbang, lalu dicampur dengan dedak dan bahan pengurai alami. Selanjutnya, campuran itu difermentasi selama dua bulan dengan proses pengadukan berulang sebelum dijemur, dihaluskan, dan dikemas menjadi pupuk siap pakai.

"Selama dua bulan bisa tujuh sampai delapan kali diaduk. Setelah itu baru disaring, dijemur, digiling, lalu dikemas. Semua masih dikerjakan dengan tenaga manusia," kata Mahyin.

Pekerjaan itu memang jauh dari kesan mewah. Tangannya nyaris tak pernah lepas dari lumpur, sementara aroma limbah selalu melekat pada pakaian yang dikenakannya. Namun, setiap karung pupuk yang berhasil diproduksi menjadi bukti bahwa kerja keras mampu mengubah sesuatu yang dianggap tak berguna menjadi sumber kehidupan.

Mahyin masih mengingat masa ketika dirinya dan beberapa warga hanya mencoba-coba mengolah limbah sapi yang menumpuk di sekitar kandang. Saat itu, tak banyak yang percaya kotoran ternak bisa menghasilkan nilai ekonomi.

Kini keadaannya berubah.

Dalam sekali produksi, kelompoknya mampu menghasilkan empat hingga lima ton pupuk padat. Mereka juga memproduksi pupuk organik cair yang mulai dipasarkan ke berbagai daerah di luar Pulau Jawa melalui kerja sama dengan sejumlah mitra.

Pendapatan yang diperoleh memang tidak membuatnya hidup mewah. Namun bagi Mahyin, hasil itu lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

"Anak saya tiga orang. Yang paling besar sekarang kelas lima SD. Saya memang tidak punya banyak, tapi Alhamdulillah cukup untuk hidup dan menyekolahkan mereka," tuturnya sambil tersenyum.

Ada satu hal yang paling ia kenang setiap kali pulang bekerja.

Dulu, istrinya sering mengeluhkan bau yang menempel di tubuhnya sepulang dari rumah produksi. Kini, keluhan itu berganti menjadi kalimat yang selalu membuatnya bersemangat.

"Bau itu tanda rezeki kita hari ini."

Kalimat sederhana tersebut menjadi pengingat bahwa setiap tetes keringat yang ia keluarkan bukan sekadar untuk menghasilkan pupuk, tetapi juga untuk menjaga harapan keluarganya tetap hidup.

Di balik aroma yang bagi sebagian orang terasa menyengat, Mahyin menemukan harga diri. Dari pekerjaan yang dahulu dipandang sebelah mata, ia mampu membesarkan anak-anaknya, membantu para petani memperoleh pupuk organik yang lebih ramah lingkungan, sekaligus membuktikan bahwa rezeki bisa datang dari tempat yang tak pernah dibayangkan.

Baginya, pekerjaan ini bukan lagi sekadar mengolah limbah.

Ini adalah cara mengubah sesuatu yang dianggap tak bernilai menjadi masa depan.

"Saya selalu bilang kepada anak-anak muda di sini, jangan gengsi bekerja. Dari kotoran sapi saja kita bisa hidup, asal mau berusaha," ujarnya.

Meski perjalanan itu tidak selalu mudah. Cuaca yang tak menentu kerap menghambat proses pengeringan pupuk. Banjir juga sesekali datang mengganggu produksi. Namun, tak sekali pun terlintas di benaknya untuk berhenti.

"Kalau saya berhenti, siapa yang akan menyekolahkan anak-anak saya?" katanya pelan.

Mahyin kemudian menatap tumpukan pupuk yang baru selesai dikemas. Wajahnya tersenyum, seolah mengingat perjalanan panjang yang telah dilalui.

"Dulu saya malu karena pekerjaan saya bau. Sekarang saya sadar, justru dari bau itulah saya bisa hidup, menyekolahkan anak, dan membantu banyak petani. Ternyata, rezeki memang tidak selalu wangi."

Di tempat itu, peluh bercampur dengan aroma menyengat limbah ternak. Tangannya yang sudah terbiasa mengambil, mengaduk, dan mengolah kotoran sapi tidak lagi melihatnya sebagai sesuatu yang menjijikkan.

Bagi Mahyin, di balik bau yang menempel di tubuhnya, ada sekolah anak-anaknya. Ada dapur keluarga yang tetap mengepul. Ada harapan yang terus tumbuh.

“Pekerjaan saya memang di bagian produksi pupuk. Dulu saya tidak pernah menyangka bisa hidup dari sesuatu yang orang buang,” katanya.

Pria berusia 41 tahun itu adalah Ketua Unit Produksi Kelompok Biotama Agung Lestari, kelompok pengolah pupuk organik yang lahir dari Kelompok Tani Bhina Mukti Sari. Bersama warga lainnya, ia mengubah limbah kotoran sapi menjadi produk bernilai ekonomi melalui program Desa Energi Berdikari (DEB) yang dibina Pertamina Hulu Rokan (PHR).

Bagi Mahyin, pekerjaan ini bukan sekadar mengolah pupuk. Ini adalah perjalanan mengubah pandangan tentang sesuatu yang selama ini dianggap tidak berguna.

Dari Limbah Menjadi Penghidupan

Setiap kali memasuki masa produksi, Mahyin datang ke rumah produksi bersama warga lainnya. Di sana, gundukan kotoran sapi atau yang biasa disebut kohe telah menunggu untuk diproses.

Perjalanan mengubah kotoran menjadi pupuk tidak singkat.

Kotoran sapi dikumpulkan, ditimbang, lalu dicampur dengan bahan alami seperti dedak dan cairan pengurai. Setelah itu, campuran tersebut harus melalui proses pengolahan selama sekitar dua bulan.

Selama masa itu, warga harus mengaduk campuran berkali-kali agar proses penguraian berjalan sempurna.

“Dalam dua bulan bisa tujuh sampai delapan kali diaduk. Setelah itu disaring, dijemur, digiling, lalu dikemas. Semua masih dilakukan dengan tangan,” jelas Mahyin.

Tidak ada mesin besar. Tidak ada proses instan. Yang ada hanya ketekunan warga yang percaya bahwa limbah bisa memiliki nilai.

Dari proses tersebut, kelompoknya mampu menghasilkan empat hingga lima ton pupuk padat dalam sekali produksi. Selain itu, mereka juga menghasilkan pupuk cair yang mulai dipasarkan ke berbagai daerah.

Pupuk padat dijual sekitar Rp3.000 per kilogram, sedangkan pupuk cair dipasarkan Rp30 ribu per botol. Dalam satu siklus produksi, kelompok ini mampu memperoleh penghasilan bersih hingga jutaan rupiah.

Namun bagi Mahyin, angka itu bukan sekadar keuntungan.

“Saya punya tiga anak. Yang paling besar sekarang kelas lima SD. Saya tidak punya banyak, tapi cukup untuk hidup dan menyekolahkan mereka,” katanya.

Dahulu, pekerjaan Mahyin sempat membuatnya merasa rendah diri. Bau kotoran sapi yang menempel di tubuh setelah bekerja sering menjadi hal yang tidak menyenangkan.

Bahkan, istrinya pernah mengeluhkan aroma tersebut.

Namun waktu mengubah semuanya.

“Dulu istri suka bilang badan saya bau karena kerjaannya mengolah pupuk dari limbah kotoran sapi. Sekarang malah dia bilang, bau itu tanda rezeki kita hari ini,” ujar Mahyin sambil tertawa kecil.

Kalimat sederhana itu menjadi penguat baginya.

Sebab ia tahu, tidak semua pekerjaan harus terlihat bersih untuk menghasilkan sesuatu yang berarti.

Dari tangannya, petani mendapatkan pupuk yang lebih ramah lingkungan. Dari pekerjaannya, masyarakat mulai memahami bahwa limbah tidak selalu berakhir sebagai masalah.

“Kalau pakai pupuk kimia, tanah cepat keras. Kalau pakai kompos, hasilnya lebih stabil,” katanya.

Kini semakin banyak petani yang mulai menggunakan pupuk organik hasil olahan kelompoknya.

Mahyin juga melibatkan anak-anak muda desa dalam proses produksi. Baginya, mereka harus belajar bahwa kesempatan tidak selalu datang dari pekerjaan yang terlihat bergengsi.

“Jangan gengsi. Dari kotoran sapi saja bisa hidup, asal mau bekerja keras,” ujarnya.

Ketika Kotoran Menjadi Energi

Tidak jauh dari rumah produksi pupuk, berdiri kandang sapi milik Sudarman, Ketua Kelompok Tani Bhina Mukti Sari.

Dari tempat sederhana itu, perjalanan energi bersih desa dimulai.

Di belakang kandang terdapat instalasi biogas yang terdiri dari bak penampungan, reaktor, pipa penyalur gas, hingga bak slurry. Sistem itu bekerja mengubah kotoran sapi menjadi gas metana yang dialirkan ke rumah-rumah warga.

Dari reaktor berwarna biru itu, lahir api kecil yang kini membantu banyak keluarga memasak.

“Selama sapi membuang kotoran, warga tidak akan kehabisan energi,” kata Sudarman.

Namun, meyakinkan masyarakat menggunakan biogas bukan perkara mudah.

Sebagian warga awalnya ragu. Mereka khawatir gas yang berasal dari kotoran sapi masih berbau atau tidak aman digunakan.

Sudarman kemudian menunjukkan langsung hasilnya. Ia mengajak warga melihat dapurnya, menyalakan kompor, dan membuktikan bahwa api yang keluar bersih tanpa bau.

Perlahan, keraguan berubah menjadi kepercayaan.

Kini warga tidak lagi melihat kotoran sapi sebagai sesuatu yang harus dibuang. Mereka melihatnya sebagai sumber energi.

Penggunaan biogas juga membuat pengeluaran rumah tangga berkurang. Jika sebelumnya satu keluarga bisa menghabiskan tiga hingga empat tabung gas elpiji per bulan, kini sebagian besar kebutuhan sudah dipenuhi dari biogas.

“Kalau orang lain menjual daging atau susu, kami menjual kotoran,” ujar Sudarman sambil tersenyum.

Program yang Mengubah Cara Pandang

Perubahan Desa Mukti Sari tidak lepas dari pendampingan Pertamina Hulu Rokan bersama Yayasan Rumah Energi melalui program Desa Energi Berdikari.

Awalnya, program ini berangkat dari persoalan lingkungan. Limbah sapi yang berserakan menjadi keluhan warga.

Namun dari persoalan itu muncul gagasan baru: bagaimana jika limbah tersebut diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat?

Officer CID Zona Rokan South PHR, Lidia Sari, mengatakan program ini bukan hanya membangun teknologi, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat.

“Bahan bakunya sederhana, hanya kotoran sapi. Tapi dari situ keluar dua manfaat: gas untuk kebutuhan rumah tangga dan pupuk yang bisa dijual,” ujarnya.

PHR membangun 20 unit reaktor biogas, memberikan pelatihan, serta mendampingi warga dalam pengelolaan usaha pupuk organik.

Program tersebut kemudian berkembang dengan pengolahan bioslurry, limbah hasil proses biogas yang diubah menjadi pupuk cair dan padat.

Bagi masyarakat, perubahan terbesar bukan hanya pada teknologi yang hadir, tetapi pada cara mereka melihat sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak bernilai.

Kini Desa Mukti Sari mulai dikenal sebagai desa yang mampu mengubah limbah menjadi energi dan penghasilan.

Pemerintah desa bahkan mendukung keberlanjutan program melalui regulasi desa dan penguatan kelembagaan agar masyarakat dapat mengelolanya secara mandiri.

Kepala Desa Mukti Sari, Waryono, melihat perubahan besar yang terjadi.

“Dulu yang bau dianggap masalah. Sekarang justru menjadi sumber rezeki. Bau yang dulu tidak sedap, sekarang berubah menjadi bau duit,” katanya.

Sementara Mahyin masih tetap dengan rutinitasnya.

Datang ke rumah produksi. Mengolah limbah. Menghasilkan pupuk. Pulang membawa aroma yang mungkin tidak disukai banyak orang.

Tetapi baginya, aroma itu bukan lagi sesuatu yang harus ditutupi.

Sebab di balik bau tersebut, ada perjuangan seorang ayah.

Ada anak-anak yang terus bersekolah.

Ada petani yang mendapatkan manfaat.

Dan ada sebuah desa yang membuktikan bahwa sesuatu yang dibuang pun bisa menjadi sumber kehidupan.

Dari Limbah yang Dicibir Menjadi Kebanggaan Desa

Perubahan yang terjadi di Desa Mukti Sari tidak datang dalam semalam. Ia tumbuh dari proses panjang, dari keberanian warga mencoba sesuatu yang awalnya dianggap tidak mungkin, hingga akhirnya mengubah cara pandang masyarakat terhadap limbah.

Dulu, kotoran sapi adalah persoalan. Bau menyengat yang berserakan di lingkungan menjadi keluhan warga. Sapi-sapi yang dilepas bebas bahkan kerap mengotori jalan desa.

Kini, pemandangan itu berubah.

Kotoran sapi yang dahulu dianggap mengganggu justru menjadi sumber energi, pupuk, dan penghasilan baru bagi masyarakat. Desa Mukti Sari perlahan dikenal sebagai contoh bagaimana limbah dapat dikelola menjadi kekuatan ekonomi dan lingkungan.

Atas keberhasilan tersebut, Program Desa Energi Berdikari (DEB) di Desa Mukti Sari mulai mendapat pengakuan di berbagai tingkatan, dari kabupaten, provinsi, hingga nasional. Program ini bahkan berhasil meraih Penghargaan BISRA (Bisnis Indonesia Social Responsibility Award) dengan predikat Silver Champion, serta sejumlah apresiasi lainnya.

Namun bagi pengelola program, penghargaan bukanlah tujuan utama.

“Penghargaan hanyalah bonus. Yang paling penting adalah perubahan perilaku dan pola pikir warga. Dulu limbah dianggap masalah, sekarang justru menjadi sumber kehidupan. Itulah makna sejati keberlanjutan,” ujar salah satu pengelola program.

Bagi masyarakat Desa Mukti Sari, keberhasilan terbesar bukan sekadar piala atau pengakuan, melainkan perubahan cara melihat sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak memiliki nilai.

Kepala Desa Mukti Sari, Waryono, masih mengingat bagaimana keraguan warga muncul saat program pengolahan limbah sapi menjadi biogas pertama kali diperkenalkan.

Tidak sedikit masyarakat yang merasa ragu. Ada yang menganggap bahan bakunya menjijikkan, ada pula yang tidak yakin gas dari kotoran sapi bisa digunakan dengan aman untuk kebutuhan rumah tangga.

Bahkan sebelum program berjalan, persoalan ternak menjadi tantangan tersendiri. Sapi warga masih sering berkeliaran dan meninggalkan limbah di jalan umum.

Pemerintah desa kemudian menerbitkan Peraturan Desa tentang Penertiban Hewan Ternak agar masyarakat mulai bertanggung jawab terhadap pengelolaan ternaknya.

“Awalnya memang sulit. Saya sendiri dulu tidak yakin karena yang diolah itu limbah, kotoran. Tapi ternyata hasilnya luar biasa,” kata Waryono.

Perlahan, keraguan berubah menjadi kepercayaan. Warga mulai melihat sendiri manfaat biogas yang dihasilkan. Api biru dari kompor rumah tangga menjadi bukti bahwa sesuatu yang selama ini dianggap kotor ternyata mampu memberikan manfaat besar.

“Awalnya menjijikkan, sekarang justru jadi sumber rezeki. Bau yang dulu tidak enak, sekarang berubah jadi bau duit,” ujar Waryono sambil tersenyum.

Energi Baru, Harapan Baru

Melalui program Desa Energi Berdikari bersama Pertamina Hulu Rokan (PHR), kotoran sapi yang sebelumnya menjadi masalah lingkungan kini diolah menjadi gas metana untuk kebutuhan memasak dan produk turunan berupa pupuk organik.

Selain membangun infrastruktur biogas, PHR juga memberikan pelatihan dan pendampingan agar masyarakat mampu mengelola teknologi tersebut secara mandiri.

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh peternak, tetapi juga ibu rumah tangga, petani, hingga pelaku usaha kecil di desa.

Bagi Waryono, program ini memberikan perubahan besar bagi masyarakatnya.

“Program CSR PHR ini luar biasa. Masyarakat kami terbantu, pendapatan meningkat, bahkan UMKM dan ibu-ibu PKK juga ikut diberdayakan. Sekarang hasil olahan kami sudah sampai ke Padang,” ungkapnya.

Menurutnya, keberhasilan Desa Mukti Sari bukan hanya membuat desa mereka lebih dikenal, tetapi juga membuktikan bahwa desa mampu menciptakan solusi dari persoalan sendiri.

“Kisah kami terangkat. Semua ini berkat pembinaan dan pendampingan dari PHR. Kami sangat berterima kasih,” katanya.

Kini, tantangan berikutnya adalah menjaga agar perubahan tersebut terus berjalan. Pemerintah desa bersama kelompok masyarakat berkomitmen memastikan produksi biogas dan pupuk organik tetap berkembang.

Sebab bagi warga Mukti Sari, program ini bukan hanya tentang mengolah kotoran sapi.

Ini adalah tentang kemandirian.

Tentang bagaimana sebuah desa menemukan sumber kehidupan dari sesuatu yang dulu dianggap tidak berguna. ***