Ketika Matahari Ikut Bekerja di Ladang Migas Rokan, Langkah Pertamina Menjemput Energi Bersih

Devi 20 Oct 2024, 10:56
Ketika Matahari Ikut Bekerja di Ladang Migas Rokan, Langkah Pertamina Menjemput Energi Bersih
Ketika Matahari Ikut Bekerja di Ladang Migas Rokan, Langkah Pertamina Menjemput Energi Bersih

RIAU24.COM - Selama puluhan tahun, bumi Riau dikenal sebagai salah satu lumbung energi Indonesia. Dari wilayah inilah minyak dan gas bumi diproduksi untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.

Namun kini, ada pemandangan berbeda di tengah kawasan operasi migas tersebut.

Di antara fasilitas produksi, jaringan pipa, dan aktivitas pekerja lapangan, berdiri ribuan panel surya yang menghadap ke langit. Bukan untuk sekadar mempercantik lanskap, tetapi menangkap cahaya matahari dan mengubahnya menjadi energi listrik.

Sebanyak 64 ribu panel surya akan membentang di area seluas 28 hektare di wilayah operasi PT Pertamina Hulu Rokan (PHR). Proyek ini menjadi salah satu langkah besar Pertamina dalam menghadirkan energi bersih di tengah aktivitas industri migas.

Di tanah yang selama ini menghasilkan energi dari perut bumi, kini matahari juga ikut mengambil peran.

Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Rokan dengan kapasitas 25 Megawatt Peak (MWp) menjadi simbol perubahan wajah industri energi. Bahwa menjaga ketahanan energi tidak hanya berbicara tentang produksi minyak dan gas, tetapi juga tentang bagaimana menghadirkan solusi yang lebih ramah lingkungan.

Cahaya Matahari untuk Menggerakkan Operasi Migas

PLTS Rokan merupakan hasil kolaborasi antara Subholding Pertamina New & Renewable Energy (PNRE) dan Subholding Upstream Pertamina Hulu Energi.

Pembangkit ini berada di area operasi PHR yang mencakup wilayah Rumbai, Duri, dan Dumai.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, mengatakan pemanfaatan energi baru terbarukan menjadi bagian dari strategi Pertamina untuk mendukung operasional bisnis yang lebih berkelanjutan.

Menurutnya, keberadaan panel surya di wilayah kerja Rokan menjadi salah satu contoh bagaimana energi terbarukan dapat berjalan berdampingan dengan bisnis migas.

“PLTS tersebut akan mendukung operasional di wilayah kerja Rokan sebagai salah satu showcase penggunaan energi bersih dan ramah lingkungan, yang juga memiliki manfaat dalam mendorong optimalisasi bisnis,” ujarnya.

Melalui teknologi panel surya, energi dari cahaya matahari ditangkap kemudian diubah melalui inverter menjadi energi listrik yang dapat digunakan untuk kebutuhan operasional.

Sebuah proses sederhana dari alam, tetapi memiliki dampak besar bagi keberlanjutan energi.

Mengurangi Emisi, Menghemat Energi

Di balik ribuan panel surya yang berdiri di lahan PHR, terdapat misi yang lebih besar: mengurangi jejak karbon industri energi.

PLTS Rokan berkapasitas 25 MWp diproyeksikan mampu menurunkan emisi karbon hingga 23 ribu ton CO₂ per tahun.

Jumlah tersebut menjadi kontribusi nyata dalam upaya mengurangi dampak perubahan iklim sekaligus mendukung target Net Zero Emission Pemerintah Indonesia pada 2060.

Selain manfaat lingkungan, proyek ini juga memberikan dampak ekonomi.

Pemanfaatan energi surya tersebut diperkirakan mampu mengurangi penggunaan bahan bakar gas hingga 352 juta MMSCF per tahun serta menghasilkan efisiensi ekonomi sekitar US$4,3 juta setiap tahunnya.

Artinya, energi matahari tidak hanya lebih bersih, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi operasional perusahaan.

Dari 25 MWp Menuju 200 MWp

PLTS Rokan bukanlah langkah akhir.

Kapasitas 25 MWp yang dibangun saat ini merupakan tahap pertama dari rencana pengembangan yang lebih besar.

Pertamina menyiapkan tahap lanjutan dengan target kapasitas hingga 200 MWp di wilayah kerja Rokan.

Pengembangan tersebut akan menggunakan dua pendekatan, yakni pemasangan panel surya di atas tanah atau *ground mounted* serta pemasangan panel surya di area atap atau *rooftop*.

Langkah ini menunjukkan bahwa transformasi energi sedang berlangsung.

Di tengah kebutuhan energi yang terus meningkat, sumber energi terbarukan mulai mengambil tempat sebagai bagian dari solusi masa depan.

Energi Baru dari Langit Riau

Bagi Riau, matahari bukan sesuatu yang baru. Cahaya dan panasnya telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setiap hari.

Namun melalui PLTS Rokan, cahaya matahari mendapatkan peran yang berbeda.

Ia tidak hanya menerangi pagi dan siang hari, tetapi juga membantu menggerakkan aktivitas industri yang selama ini menjadi tulang punggung energi nasional.

Di kawasan yang dahulu hanya dikenal karena kekayaan minyak dan gasnya, kini tumbuh cerita baru tentang energi.

Energi yang tidak hanya diambil dari kedalaman bumi, tetapi juga dipanen dari langit.

PLTS Rokan menjadi bukti bahwa masa depan energi Indonesia akan dibangun melalui kolaborasi antara apa yang sudah dimiliki hari ini dan inovasi yang disiapkan untuk esok.

64 Ribu Panel Surya di Tengah Ladang Migas Riau, Cara Pertamina Hulu Rokan Menjemput Energi Bersih Masa Depan

Selama puluhan tahun, nama Riau lekat dengan minyak dan gas bumi. Dari tanah Lancang Kuning inilah energi nasional diproduksi, menggerakkan industri, rumah tangga, hingga berbagai aktivitas ekonomi di Indonesia.

Namun kini, ada cerita baru yang tumbuh di tengah kawasan penghasil migas tersebut.

Bukan hanya suara mesin produksi dan aktivitas pekerja lapangan yang terdengar. Di hamparan lahan luas wilayah operasi Pertamina Hulu Rokan (PHR), ribuan panel surya berdiri menghadap matahari, menangkap cahaya yang melimpah dari langit Riau.

Sebanyak 64.000 panel surya kini menjadi bagian dari wajah baru energi di Wilayah Kerja (WK) Rokan.

Di tempat yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat produksi migas terbesar di Indonesia, energi matahari ikut mengambil peran.

Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) WK Rokan hadir membawa pesan bahwa perjalanan energi tidak hanya tentang mengambil sumber daya dari bumi, tetapi juga bagaimana menjaga keberlanjutannya.

Dengan kapasitas terpasang 25,7 Megawatt Peak (MWp), PLTS WK Rokan menjadi salah satu langkah nyata Pertamina dalam memperkuat pemanfaatan energi baru terbarukan sekaligus mendukung target Net Zero Emission 2060.

Pembangkit ini merupakan hasil kolaborasi antara Sub Holding Power & New Renewable Energy, Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE), dan subholding upstream Pertamina Hulu Energi (PHE).

Sejak mulai beroperasi pada 3 Juli 2023, PLTS WK Rokan telah menghasilkan 39.670 Megawatt hour (MWh) listrik hingga 22 Oktober 2024. Energi tersebut dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan operasional PHR di wilayah Duri, Dumai, dan Rumbai.

Bagi sebagian orang, industri migas dan energi surya mungkin terlihat sebagai dua hal yang berbeda.

Namun di WK Rokan, keduanya justru berjalan beriringan.

Di satu sisi, PHR tetap menjalankan perannya menjaga ketahanan energi nasional melalui produksi minyak dan gas bumi. Di sisi lain, perusahaan mulai menghadirkan solusi energi bersih untuk mendukung kegiatan operasional yang lebih ramah lingkungan.

Manager PGT Operation PHR, Winarto, mengatakan PLTS WK Rokan tidak hanya menghasilkan daya aktif, tetapi juga membantu menjaga kestabilan sistem kelistrikan perusahaan melalui suplai daya reaktif.

“PLTS ini mampu mengurangi emisi karbon hingga 28.444 ton per tahun, setara dengan penanaman 3,2 juta pohon,” ujar Winarto.

Angka tersebut menjadi gambaran bagaimana energi matahari yang selama ini hanya menjadi bagian dari panasnya bumi Riau, kini berubah menjadi kekuatan baru untuk mengurangi dampak lingkungan.

Setiap pancaran cahaya yang ditangkap panel surya menjadi bagian dari upaya mengurangi jejak karbon aktivitas industri.

Kehadiran PLTS WK Rokan tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan.

Dari sisi ekonomi, pembangkit energi surya ini juga membantu menghemat biaya operasional perusahaan hingga Rp8,4 miliar per tahun.

Efisiensi tersebut menjadi salah satu langkah dalam membangun operasional energi yang lebih berkelanjutan.

Bagi Pertamina, transisi energi bukan berarti meninggalkan sektor migas yang masih menjadi kebutuhan utama masyarakat. Namun, bagaimana menghadirkan keseimbangan antara memenuhi kebutuhan energi hari ini dan menjaga bumi untuk masa depan.

Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung agenda penurunan emisi dan pencapaian Net Zero Emission 2060.

Dari Ladang Minyak Menjadi Ladang Energi Masa Depan

Ada perubahan besar yang perlahan terlihat di WK Rokan.

Jika dahulu kawasan ini hanya identik dengan sumur minyak, fasilitas produksi, dan aktivitas pengeboran, kini hadir pemandangan baru berupa hamparan panel surya yang memanen energi dari cahaya matahari.

Perubahan ini menunjukkan bahwa wajah industri energi sedang bergerak.

Energi tidak lagi hanya dicari dari kedalaman bumi, tetapi juga dari sumber daya alam yang tersedia setiap hari di atas langit.

Menurut Winarto, keberadaan PLTS WK Rokan turut mendukung peningkatan kinerja ESG (Environmental, Social, and Governance) Pertamina Group. Pada 2023, Pertamina berhasil meraih peringkat pertama dunia pada subindustri Integrated Oil and Gas dalam penilaian ESG.

Namun, nilai terbesar dari proyek ini bukan hanya terletak pada angka kapasitas, jumlah panel, atau penghematan biaya.

Lebih dari itu, PLTS WK Rokan menjadi simbol perubahan cara pandang bahwa industri energi dapat tumbuh bersama lingkungan.

Di tanah Riau, energi masih dipanen dari bumi.

Tetapi kini, energi juga datang dari langit.

Dari cahaya matahari yang jatuh setiap hari, lahir harapan baru tentang masa depan energi Indonesia yang lebih bersih, lebih hijau, dan lebih berkelanjutan. ***