Dari Ruang Sederhana Rumah BUMN Dumai, Tumbuh Cerita Baru UMKM Menuju Kemandirian
RIAU24.COM - Siang itu, aroma minyak kayu putih memenuhi sebuah ruangan sederhana di Jalan Soekarno Hatta, Dumai. Di atas meja kayu panjang, beberapa perempuan sibuk menata botol sabun cair, minyak alami, dan lilin aroma terapi hasil karya tangan mereka. Di sudut lain ruangan, seorang pemuda memperlihatkan kain batik pesisir dengan motif ombak dan burung enggang.
Bagi sebagian orang, aktivitas itu mungkin terlihat seperti rutinitas biasa. Namun bagi mereka, setiap produk yang tersusun rapi adalah simbol perjuangan. Mereka tidak sedang sekadar membuat kerajinan atau mengikuti pelatihan. Mereka sedang membangun jalan menuju masa depan yang lebih mandiri.
Tempat itu bernama Rumah BUMN Dumai.
Lebih dari sekadar ruang pelatihan, tempat ini menjadi ruang tumbuh bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk belajar, berjejaring, dan meningkatkan kemampuan bisnis.
Rumah BUMN Dumai merupakan bagian dari komitmen PT Kilang Pertamina Internasional (PT KPI) Refinery Unit II Dumai dalam mendukung penguatan ekonomi masyarakat lokal melalui pengembangan UMKM.
Bagi Kilang Pertamina Dumai, UMKM bukan hanya sektor ekonomi kecil. Di balik usaha rumahan dan produk lokal, terdapat potensi besar untuk menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan keluarga, sekaligus memperkuat ekonomi daerah.
Melalui Rumah BUMN Dumai, perusahaan energi nasional ini mendampingi sekitar 100 pelaku usaha dari berbagai sektor, mulai dari kuliner, kerajinan tangan, hingga produk kreatif khas pesisir Riau.
“Kami ingin UMKM di Dumai naik kelas, bukan hanya bertahan, tetapi mampu tumbuh dengan strategi bisnis yang lebih matang dan berkelanjutan,” ujar Agustiawan, Area Manager Communication, Relations & CSR PT KPI RU II Dumai.
Rumah BUMN Dumai resmi beroperasi pada 29 April 2025 dan diresmikan oleh Vice President CSR & SMEPP Management PT Pertamina (Persero), Rudi Ariffianto. Fasilitas ini hadir dengan ruang pelatihan, area promosi, serta pendampingan berbagai kebutuhan usaha, termasuk pengurusan legalitas seperti sertifikasi halal, Nomor Induk Berusaha (NIB), dan izin edar produk.
Pendampingan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan UMKM. Sebab, untuk berkembang lebih jauh, pelaku usaha tidak hanya membutuhkan kemampuan produksi, tetapi juga pemahaman tentang manajemen bisnis, pemasaran, dan legalitas usaha.
“Dengan legalitas dan pelatihan yang tepat, pelaku UMKM bisa lebih percaya diri, dan peluang mereka menembus pasar digital juga semakin besar,” kata Agustiawan.
Ketika Pelatihan Mengubah Cara Pandang Pelaku Usaha
Transformasi mulai terlihat ketika para pelaku UMKM tidak lagi hanya berpikir tentang membuat produk, tetapi juga bagaimana membangun nilai dan pasar.
Melalui program Pertamina UMK Academy 2025, para peserta mendapatkan pelatihan mengenai strategi bisnis berbasis Business Model Canvas hingga komunikasi bisnis efektif.
Di antara peserta, Siti Rahma (31), pemilik usaha olahan herbal “Rahma Natural”, mengikuti setiap materi dengan penuh perhatian. Sebelumnya, ia hanya berfokus pada proses produksi minyak sereh dan sabun alami.
Namun setelah mengikuti pelatihan, cara pandangnya berubah.
“Dulu saya hanya fokus memproduksi, tapi setelah ikut pelatihan saya belajar pentingnya memahami pasar dan membangun branding. Sekarang saya sudah punya label produk sendiri dan sedang mengurus sertifikat halal. Rasanya seperti naik satu tangga lebih tinggi,” ujarnya.
Cerita serupa datang dari Rizal Hidayat (28), pengrajin kayu asal Kelurahan Bukit Datuk. Pandemi pernah membuatnya hampir menghentikan usaha. Namun, melalui Rumah BUMN, ia kembali menemukan kepercayaan diri untuk mengembangkan bisnisnya.
“Dulu saya pikir usaha kecil seperti saya tidak mungkin berkembang. Tapi dari pelatihan di sini, saya belajar menghitung biaya, mengatur keuangan, dan memasarkan produk melalui media sosial. Sekarang pesanan rak kayu saya malah datang dari luar kota,” katanya.
Bagi Kilang Pertamina Dumai, pengembangan UMKM tidak cukup hanya melalui pelatihan. Produk yang telah dibuat juga membutuhkan ruang untuk dikenal masyarakat.
Karena itu, perusahaan secara konsisten memberikan kesempatan bagi UMKM binaan untuk tampil dalam berbagai kegiatan seperti Fun Bike Kilang Dumai dan Dumai Expo.
Bagi pelaku usaha, kesempatan tersebut menjadi pintu masuk menuju pasar yang lebih luas.
“Kesempatan tampil di pameran itu sangat berharga bagi kami. Produk saya jadi dikenal banyak orang, bahkan ada pesanan dari luar Dumai. Semua itu berawal dari kesempatan yang diberikan Pertamina,” ujar Rina, pemilik usaha kerajinan batok kelapa.
Selain melalui kegiatan pameran, Rumah BUMN Dumai juga menyediakan ruang promosi permanen yang menampilkan berbagai produk lokal seperti kopi, keripik, dan tenun Dumai.
“Ini bukan sekadar etalase, tetapi jendela bagi masyarakat untuk melihat semangat para pelaku UMKM kita,” jelas Agustiawan.
Mengubah Kehidupan Lewat Ekonomi Kreatif
Dampak program pemberdayaan ini tidak hanya terlihat dari bertambahnya produk yang dihasilkan, tetapi juga dari perubahan kehidupan masyarakat.
Lurah Teluk Binjai, Nora Handayani, melihat langsung bagaimana Rumah BUMN memberi ruang baru bagi masyarakat, khususnya perempuan, untuk berkembang.
“Dulu banyak ibu rumah tangga yang tidak punya penghasilan tetap, sekarang mereka aktif ikut pelatihan, membuat produk, dan menjualnya sendiri. Mereka jadi lebih percaya diri dan membantu ekonomi keluarga,” ujarnya.
Perlahan, produk lokal Dumai mulai bergerak lebih jauh. Produk yang sebelumnya hanya dikenal di lingkungan sekitar kini mulai masuk ke toko oleh-oleh, kafe, pameran daerah, bahkan dipasarkan secara digital hingga luar Riau.
Upaya Kilang Pertamina Dumai dalam membangun ekosistem UMKM juga selaras dengan agenda pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya terkait pekerjaan layak, pertumbuhan ekonomi, dan kemitraan.
Bagi perusahaan, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah produk yang terjual, tetapi dari seberapa besar perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.
“Bagi kami, setiap pelaku UMKM yang berhasil mandiri adalah kisah sukses yang paling berharga. Kami ingin tumbuh bersama masyarakat, bukan di atas mereka,” tutur Agustiawan.
Menjelang sore, aktivitas di Rumah BUMN Dumai belum berhenti. Beberapa peserta masih berlatih membuat konten promosi menggunakan telepon genggam sederhana. Di dinding ruangan terpampang sebuah kalimat: Bersama Tumbuh, Bersama Kuat.
Kalimat itu menggambarkan perjalanan para pelaku UMKM Dumai. Dari usaha kecil yang dirintis dengan keterbatasan, kini tumbuh keberanian untuk bermimpi lebih besar.
Dari ruang sederhana itu, lahir kisah tentang perempuan yang menemukan kemandirian, pemuda yang kembali percaya pada usahanya, dan produk lokal yang mulai menemukan jalannya menuju pasar yang lebih luas.
Rumah BUMN Dumai bukan hanya tempat belajar bisnis. Ia menjadi tempat tumbuhnya harapan bahwa kemandirian ekonomi dapat dibangun melalui kolaborasi, kesempatan, dan semangat untuk terus berkembang. ***