Perkuat Kompetensi Nakes, Pelatihan APN Digelar Bagi Tenaga Kesehatan Pelalawan

Devi 24 Aug 2026, 15:17
Perkuat Kompetensi Nakes, Pelatihan APN Digelar Bagi Tenaga Kesehatan Pelalawan
Perkuat Kompetensi Nakes, Pelatihan APN Digelar Bagi Tenaga Kesehatan Pelalawan

RIAU24.COM - Upaya untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Provinsi Riau membutuhkan sinergi dari berbagai pihak.

Tak hanya peran dari pemerintah setempat, namun dukungan dari dunia usaha dinilai memiliki kontribusi penting dalam memperkuat layanan kesehatan, terutama di wilayah operasional perusahaan.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Asuhan Persalinan Normal (APN) bagi tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama di Kabupaten Pelalawan.

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Provinsi Riau bersama Community Development PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) dan melibatkan Dinas Kesehatan Kabupaten Pelalawan.

Sebanyak 15 peserta yang terdiri dari tenaga kesehatan dari delapan Puskesmas di Kabupaten Pelalawan serta perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Pelalawan mengikuti pelatihan yang digelar di Hotel Fox Haris, Pekanbaru selama 13 hari, mulai 22 Agustus hingga 3 September 2026.

Pelatihan ini ditujukan untuk memperkuat pengetahuan dan keterampilan tenaga kesehatan dalam memberikan asuhan persalinan yang aman, berkualitas dan sesuai standar.

Pembukaan pelatihan dihadiri Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau Zulkifli, S.Kep., MH, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pelalawan H. Asril K, SKM, M.Kes, Kepala Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Dinas Kesehatan Provinsi Riau dr. Siska Hidayani, M.Kes, serta Manajer CD RAPP Sundari Berlian, Wadir RSUD Arifin Ahmad Ns. Asfeni, S.Kep, M.Kes selaku fasilitator.
 
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pelalawan H. Asril K, SKM, M.Kes, Kep, mengapresiasi dukungan yang diberikan perusahaan terhadap peningkatan kapasitas tenaga kesehatan. 

Ia menilai pelatihan bagi tenaga kesehatan dinilai menjadi salah satu langkah penting, terutama bagi mereka yang bertugas di wilayah terpencil dan memiliki akses layanan kesehatan yang terbatas.

Menurutnya, Kabupaten Pelalawan saat ini masih menghadapi berbagai keterbatasan, termasuk pada sektor Kesehatan.

Asril menjelaskan kondisi geografis Kabupaten Pelalawan membuat pelayanan kesehatan tidak bisa dilakukan dengan pola yang sama di setiap wilayah.

"Pelalawan itu memiliki karakteristik daerah yang beragam, sehingga pemerintah daerah dituntut menghadirkan strategi pelayanan yang mampu menjangkau masyarakat hingga ke kawasan yang sulit mendapatkan akses fasilitas Kesehatan," jelasnya.

Ia menjabarkan jika Pelalawan setidaknya memiliki tiga karakteristik wilayah yang menjadi tantangan tersendiri dalam penyediaan layanan kesehatan. 

"Sejumlah wilayah seperti Kecamatan Ukui, Langgam dan Pangkalan Kuras tidak memiliki fasilitas kesehatan dasar seperti Puskesmas Pembantu (Pustu), Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) maupun gedung pelayanan kesehatan belum tersedia secara memadai. Kondisi itu membuat pelayanan kesehatan harus dilakukan secara mobile," jelasnya.

Ia juga memaparkan ada empat wilayah di Pelalawan yaitu kecamatan Pelalawan, Kuala Kampar, Teluk Meranti dan Langgam yang dipandang membutuhkan pendekatan pelayanan yang lebih sesuai dengan kondisi masing-masing daerah. 

"Empat wilayah tersebut diarahkan menjadi perhatian dalam pengembangan puskesmas percontohan, yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelayanan kesehatan, tetapi juga menjadi model bagaimana pelayanan kesehatan dapat dikembangkan di wilayah dengan tantangan geografis dan karakteristik masyarakat yang berbeda," ungkapnya.

Kondisi wilayah Pelalawan menunjukkan bahwa pembangunan fasilitas kesehatan saja tidak selalu menjadi satu-satunya solusi.

Di daerah yang sulit dibangun fasilitas permanen, pelayanan justru harus lebih adaptif. 

"Tenaga kesehatan dituntut mendatangi masyarakat melalui layanan mobile, sehingga jarak dan kondisi geografis tidak menjadi penghalang masyarakat untuk memperoleh pelayanan dasar," harapnya.

Asril menjelaskan ditengah keterbatasan anggaran pemerintah, dukungan pihak swasta seperti yang pelatihan  yang dilakukan PT RAPP melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR dinilai sangat membantu peningkatan kapasitas tenaga kesehatan.

"Kami bersyukur dengan aksi CSR PT RAPP yang membantu lewat melakukan pelatihan APN ini, adalah hal yang sangat berharga karena peningkatan kemampuan tenaga kesehatan membutuhkan pelatihan yang berkelanjutan. Terlebih, bidan dan tenaga kesehatan di wilayah terpencil merupakan pihak yang berada paling dekat dengan masyarakat ketika membutuhkan pertolongan,” pungkas pria yang pernah menerima penghargaan nasional atas keberhasilan Kabupaten Pelalawan bebas dari kasus malaria pada tahun 2022 bersama Bupati Pelalawan ini.

Sebagai informasi, saat ini sebanyak 14 puskesmas, 46 Pustu dan 121 Poskesdes yang tersebar di Kabupaten Pelalawan yang telah mendapat dukungan melalui program CSR RAPP.
 
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Zulkifli, menyampaikan bahwa dari sekitar 121 ribu ibu hamil di Riau, baru sekitar 41 ribu yang terpantau melalui pemeriksaan rutin.

Kondisi tersebut diperparah dengan jumlah tenaga kesehatan yang belum sebanding dengan banyaknya puskesmas yang ada.

"Kami tidak boleh membiarkan kematian ibu dan bayi karena ini menyangkut HAM. Pelatihan seperti ini sangat membantu," tegas Zulkifli.

Ia mengungkapkan, angka kematian balita di Riau masih berada di kisaran lebih dari 400 jiwa, sehingga diperlukan langkah intervensi yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan, termasuk sektor swasta.

Menurut Zulkifli, angka kematian bayi dan balita tertinggi berada di Indragiri Hilir, sedangkan kasus kematian ibu cukup banyak ditemukan di Pelalawan dan Kampar.

"Oleh sebab itu, kami menyambut baik kegiatan seperti ini dan semoga ke depan cakupan kegiatannya bisa lebih luas," ujarnya.

Zulkifli berharap pelatihan APN yang ditaja CSR PT RAPP ini diharapkan memberikan efek berantai. 

Tenaga kesehatan yang telah mendapatkan pembekalan diharapkan menjadi penggerak peningkatan kompetensi di tempat mereka bertugas.

"Dengan begitu, ilmu yang diperoleh tidak berhenti pada peserta pelatihan, tetapi dapat dibagikan kepada rekan sesama tenaga kesehatan di Puskesmas, Pustu maupun Poskesdes," harapnya.

Tak hanya itu, Dinas Kesehatan Provinsi Riau juga telah menyiapkan mekanisme pemantauan terhadap tenaga kesehatan yang telah mengikuti pelatihan APN.

Monitoring dan evaluasi dilakukan secara berkala, antara lain melalui pertemuan Zoom serta pemantauan menggunakan sistem aplikasi kompetensi tenaga kesehatan.

"Hasil pemantauan tersebut nantinya menjadi bagian dari evaluasi terhadap kompetensi tenaga Kesehatan. Dengan begitu, pelatihan tidak hanya berorientasi pada keikutsertaan tenaga kesehatan, tetapi juga memastikan ilmu dan keterampilan yang diperoleh benar-benar diterapkan dalam pelayanan," ungkap pria yang aktif memimpin berbagai program strategis kesehatan daerah tersebut.

Zulkifli berharap pelatihan APN diharapkan tidak sekadar menambah pengetahuan tenaga kesehatan, namun bisa menjadi investasi untuk memastikan setiap ibu mendapatkan pertolongan persalinan yang aman dan setiap bayi memiliki kesempatan terbaik untuk lahir dengan selamat.

Menurutnya, Pemerintah Provinsi Riau berperan melakukan intervensi, sementara pelaksanaan program berada di tingkat kabupaten dan kota.

Karena itu, sinergi antara pemerintah daerah, perusahaan, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan.

"Kita punya ratusan Puskesmas dan tidak sebanding dengan tenaga kesehatan yang ada. Jadi pelatihan seperti ini sangat membantu," kata Zulkifli.

Ia berharap pelatihan serupa ke depan dapat menjangkau lebih banyak peserta, termasuk tenaga kesehatan dari rumah sakit di daerah.

"Kehadiran perusahaan seperti RAPP ini juga diharapkan dapat mendorong perusahaan lain untuk berkontribusi dalam penguatan layanan Kesehatan di Pelalawan," harapnya.

Sementara itu, Kepala Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Dinas Kesehatan Provinsi Riau dr. Siska Hidayani, M.Kes mengungkapkan jika Pelatihan APN bagi tenaga kesehatan di Kabupaten Pelalawan tidak hanya berhenti pada sertifikat dan peningkatan kompetensi semata.

Tetapi Bapelkes mendorong agar ilmu yang diperoleh benar-benar diterapkan dan memberikan dampak langsung bagi keselamatan ibu dan bayi.

"Salah satu strategi yang dilakukan Bapelkes agar ilmu dari pelatihan ini dapat diserap di lapangan adalah Evaluasi Pasca Pelatihan (EPP) yang dilakukan secara berkala. Kami bersama para tenaga kesehatan melakukan pemantauan dan evaluasi melalui pertemuan daring menggunakan Zoom," ungkap wanita yang pernah menjadi Direktur RSUD Petala Bumi ini.

Ia menjelaskan pelatihan ini sejalan dengan dukungan PT RAPP dalam peningkatan kapasitas tenaga kesehatan di Pelalawan. 

"Bapelkes dan RAPP memiliki energi yang sama yakni memastikan pelatihan yang diberikan benar-benar menghasilkan perubahan di lapangan," jelasnya.

Ia berharap dengan kompetensi yang dimiliki tenaga kesehatan diharapkan mampu meningkatkan kualitas penanganan persalinan sekaligus mengurangi risiko yang dapat mengancam keselamatan ibu dan bayi.

"Karena itu, Bapelkes mendorong para tenaga kesehatan untuk tidak berhenti belajar. Jangan bosan meng-upgrade ilmu. Pelatihan seperti yang didukung RAPP diharapkan menjadi kesempatan bagi tenaga kesehatan untuk terus meningkatkan kemampuan, memperbarui pengetahuan, serta memperbaiki kualitas pelayanan," pungkasnya. 

Di sisi lain, Manajer Community Development (CD) PT RAPP Sundari Berlian mengatakan, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan merupakan bagian penting dalam mendukung kualitas pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya di tingkat Puskesmas yang menjadi salah satu fasilitas kesehatan yang dekat dengan masyarakat.

“Melalui pelatihan ini, kami berharap kompetensi dokter dan bidan semakin kuat dalam memberikan asuhan persalinan yang aman, berkualitas dan sesuai standar, termasuk memiliki kesiapan dalam menangani kondisi kegawatdaruratan untuk mendukung keselamatan ibu dan bayi,” ujar Sundari.

Menurutnya, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan tidak hanya memberikan manfaat bagi peserta secara individu, tetapi juga diharapkan dapat memperkuat kualitas pelayanan di masing-masing Puskesmas. 

Karena itu, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan diharapkan dapat diterapkan dan dikembangkan dalam pelayanan sehari-hari.

Sebelumnya, RAPP bersama Bapelkes Dinas Kesehatan Provinsi Riau telah mendukung Pelatihan Antenatal Care dan Skrining Hipotiroid Kongenital bagi Bidan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama,  bagi 61 tenaga kesehatan yang berasal dari 28 Puskesmas dan perwakilan Dinas Kesehatan dari lima kabupaten wilayah operasional RAPP, yakni Pelalawan, Kampar, Siak, Kuantan Singingi dan Kepulauan Meranti pada Juli 2026 lalu.

Keterlibatan Dinas Kesehatan Kabupaten Pelalawan dalam pelatihan ini juga menjadi bagian penting untuk memastikan keberlanjutan manfaat program. 

Setelah mengikuti pelatihan, peserta diharapkan dapat menerapkan kompetensi yang diperoleh sekaligus memperkuat kualitas pelayanan di Puskesmas masing-masing dengan dukungan pembinaan dan pendampingan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Pelalawan.

Kegiatan ini sekaligus mencerminkan kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta dalam mendukung penguatan layanan kesehatan primer.

Melalui kerja sama dengan Bapelkes Dinas Kesehatan Provinsi Riau serta Dinas Kesehatan Kabupaten Pelalawan, pelatihan dirancang agar materi dan peningkatan kompetensi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan di lapangan.

Program peningkatan kapasitas tenaga kesehatan Puskesmas tersebut juga selaras dengan komitmen APRIL2030, khususnya melalui pilar Inclusive Progress yang antara lain berfokus pada peningkatan akses dan kualitas layanan kesehatan primer bagi masyarakat di wilayah sasaran.

Penguatan kapasitas sumber daya manusia kesehatan menjadi salah satu bagian penting dalam mendukung layanan kesehatan yang berkualitas dan berkelanjutan.

“Bagi kami, kolaborasi menjadi kunci agar program yang dilakukan dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan. Kami berharap pelatihan ini memberikan bekal yang bermanfaat bagi para tenaga kesehatan dan pada akhirnya semakin mendukung pelayanan terbaik bagi ibu dan anak di Puskesmas masing-masing,” tutur Sundari.

Melalui pelatihan yang berlangsung hingga 3 September 2026 ini, para peserta diharapkan dapat meningkatkan kompetensi serta mengimplementasikan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh untuk memperkuat pelayanan persalinan di fasilitas kesehatan tingkat pertama di Kabupaten Pelalawan.

Pada akhirnya, energi yang dibangun antara Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Dinas Kesehatan Kabupaten Pelalawan, Bapelkes, RAPP dan tenaga Kesehatan melalui Pelatihan APN ini diarahkan pada satu tujuan yaitu membawa perubahan nyata bagi masyarakat Pelalawan, terutama dalam memastikan ibu dan bayi mendapatkan pelayanan persalinan yang aman.

Sebab, kompetensi baru akan benar-benar berarti ketika ilmu tersebut sampai kepada masyarakat dan mampu menyelamatkan kehidupan. ***