Gus Baha di Depan Kapolri: Semua Harus Tobat, Jangan Saling Menyalahkan
RIAU24.COM - Ulama KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha menyampaikan sejumlah kritik kerasnya mengenai hubungan ulama, pejabat, hingga perilaku masyarakat dalam kehidupan berbangsa.
Hal itu disampaikan Gus Baha dalam sebuah kajian yang dihadiri Kapolri. Dalam ceramahnya, Gus Baha beberapa kali menyampaikan kritik dengan gaya santai, tetapi disertai pesan agar para pejabat dan tokoh agama tidak mudah tersinggung.
Gus Baha bahkan membuka ceramahnya dengan ajakan agar semua pihak melakukan introspeksi diri.
"Lah ini harus tobat semuanya, harus tobat ini," kata Gus Baha, mengutip merdeka.com, Rabu (30/9/2026).
Menurut Gus Baha, hubungan antara ulama dan pejabat seharusnya tidak hanya dibangun berdasarkan penghormatan secara formal. Keduanya harus memiliki tujuan yang sama, yakni memikirkan arah bangsa.
Ia mengatakan dirinya menyukai pejabat Indonesia karena ulama dan umara memiliki posisi yang saling melengkapi.
"Saya ini suka sama pejabat Indonesia karena tadi umara dan ulama itu kayak dua sisi mata uang," ujarnya.
Namun, Gus Baha meminta para pejabat tidak mudah tersinggung ketika mendapat kritik. Ia kemudian menceritakan pengalamannya terkait kebiasaan sebuah instansi yang lebih dulu membicarakan besaran pemberian kepada kiai yang akan mengisi pengajian.
Menurut dia, seharusnya yang menjadi perhatian bukan berapa uang yang diberikan kepada kiai, melainkan ilmu dan manfaat yang bisa diperoleh dari pengajian tersebut.
"Semoga kekurangan ajaran ini berkurang," katanya.
Gus Baha menilai tradisi saling memberi sebenarnya merupakan hal yang baik dalam kehidupan sosial. Namun, pemberian tersebut tidak semestinya diposisikan sebagai kompensasi atas dakwah agama.
"Adat ngasih-ngasih itu kan adat yang elegan, adat yang baik. Kenapa harus dikompensasikan dengan dakwah agama?" ujarnya.
Pentingnya Ketuhanan
Dalam ceramahnya, Gus Baha kemudian berbicara mengenai pentingnya nilai Ketuhanan Yang Maha Esa dalam membentuk perilaku masyarakat.
Ia mencontohkan seseorang yang tidak melakukan kejahatan karena takut terhadap polisi maupun sanksi sosial.
Menurut Gus Baha, persoalan muncul ketika seseorang berada dalam kondisi yang membuatnya merasa tidak akan terdeteksi atau mendapatkan sanksi.
Karena itu, menurut dia, nilai ketuhanan menjadi penting agar seseorang tetap berbuat baik meski tidak ada pengawasan manusia.
"Tapi kalau orang ini berketuhanan Yang Maha Esa, di mana pun dia tetap takut melakukan tindak pidana karena tahu di mana-mana Tuhan itu melihat," katanya.
Gus Baha menyebut nilai Ketuhanan Yang Maha Esa telah menjadi bagian penting dalam kehidupan bangsa Indonesia sejak awal berdirinya negara.
Ia juga mengingatkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak semata-mata bergantung pada anggaran negara.
"Dulu Anda nunggu Allah Taala, kok sekarang nunggu menteri," ujar Gus Baha.
Kritik Budaya Saling Menyalahkan
Gus Baha juga mengkritik kebiasaan masyarakat yang mencari pihak lain untuk disalahkan ketika terjadi persoalan.
Ia mencontohkan ketika terjadi masalah keamanan, polisi yang disalahkan. Ketika terjadi persoalan di perbatasan, TNI yang disalahkan. Sementara ketika terjadi persoalan moral di masyarakat, kiai ikut dianggap bertanggung jawab.
Menurut Gus Baha, cara berpikir seperti itu justru membuat persoalan menjadi tidak tepat sasaran.
"Yang salah ya yang salah, bukan yang lainnya," katanya.
Ia menilai setelah melihat pelaku sebagai pihak yang bertanggung jawab, barulah masyarakat dapat mencari faktor lain yang menyebabkan sebuah persoalan terjadi.
Gus Baha kemudian mengutip ajaran Nabi mengenai tanggung jawab setiap orang dalam kehidupan sosial.
"Kullukum ro'in, semua kalian itu penjaga, bukan pengamat," ujarnya.
Singgung Hubungan Pejabat dan Tokoh Agama
Di bagian lain ceramah, Gus Baha juga menyinggung hubungan antara pejabat dan tokoh agama.
Menurut dia, dalam hubungan sosial terdapat batas yang harus diperhatikan. Pejabat yang tidak pernah turun ke masyarakat dapat dianggap tidak peduli, tetapi jika terlalu sering datang juga bisa menimbulkan persoalan.
"Kalau atasan enggak datang, tidak merakyat. Kalau keseringan datang bikin repot," kata Gus Baha.
Ia meminta para pejabat maupun tokoh agama tidak mudah tersinggung dengan kritik tersebut.
"Ini enggak usah tersinggung. Biasa aja. Ini kan kajian ilmiah," ujarnya.
Gus Baha menutup bagian tersebut dengan menekankan bahwa cara seseorang menghormati orang lain dapat berbeda sesuai konteks sosial.
Ia mencontohkan perbedaan kehidupan masyarakat di desa dan Jakarta. Menurut dia, cara menghormati tetangga di lingkungan yang lebih dekat tidak selalu bisa diterapkan dengan cara yang sama di lingkungan perkotaan yang lebih menjaga privasi.
"Jadi sama-sama menghormati, itu caranya beda," kata Gus Baha.
(***)