Konflik Timur Tengah Ganggu Jalur Minyak, Apa Dampaknya bagi Indonesia? 

Zuratul • 30 Sep 2026, 14:19
Mantan Wakil Duta Besar Indonesia untuk Rusia sekaligus pengamat geopolitik Dian Wirengjudi.
Mantan Wakil Duta Besar Indonesia untuk Rusia sekaligus pengamat geopolitik Dian Wirengjudi.

RIAU24.COM - Konflik di Timur Tengah yang melibatkan Arab Saudi, Iran, dan kelompok Houthi di Yaman dinilai memiliki dampak lebih luas terhadap geopolitik dan distribusi energi dunia.

Mantan Wakil Duta Besar Indonesia untuk Rusia sekaligus pengamat geopolitik Dian Wirengjudi mengatakan, posisi Yaman menjadi strategis karena berada di jalur yang menghubungkan kawasan Timur Tengah dengan jalur perdagangan internasional.

Hal itu disampaikan Dian dalam podcast Bikin Terang ketika membahas eskalasi konflik Yaman, ketegangan di Timur Tengah, perang Rusia-Ukraina, hingga kemungkinan terjadinya Perang Dunia III.

Menurut Dian, konflik Yaman tidak dapat dilihat hanya sebagai persoalan domestik. Perseteruan tersebut telah berkembang menjadi bagian dari persaingan kepentingan negara-negara di kawasan.

Ia menjelaskan, Arab Saudi berbatasan langsung dengan Yaman. Sementara itu, kelompok Houthi memiliki pengaruh kuat di wilayah Yaman yang berada dekat dengan jalur strategis Laut Merah dan Bab el-Mandeb.

"Geopolitik adalah tentang geografi dan politik. Berarti kita harus tahu geografi," kata Dian.

Jalur minyak menjadi persoalan utama

Dian kemudian menjelaskan pentingnya Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb dalam distribusi energi.

Menurut dia, Arab Saudi selama ini memiliki ketergantungan besar terhadap jalur keluar minyak melalui kawasan Teluk Persia. Karena itu, gangguan terhadap Selat Hormuz dapat memaksa Saudi mencari jalur alternatif.

Salah satu alternatif yang disebut adalah jalur menuju Laut Merah.

Persoalannya, jalur tersebut juga berdekatan dengan wilayah yang dikuasai Houthi di Yaman.

"Kalau minyaknya di Teluk Persia, Aramco-nya sudah disikat sama Iran, ke mana dia harus cari jalan untuk menjual minyaknya? Tidak mungkin Teluk Persia, tidak mungkin melalui Hormuz, tinggal melalui yang namanya Laut Merah," ujar Dian.

Dian mengatakan, situasi tersebut membuat Bab el-Mandeb menjadi titik penting dalam distribusi minyak dan perdagangan internasional.

Kajian lain mengenai jalur tersebut juga menunjukkan bahwa Bab el-Mandeb merupakan salah satu chokepoint penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Gangguan di jalur ini dapat memaksa kapal mengambil rute lebih panjang melalui Tanjung Harapan sehingga meningkatkan waktu dan biaya pengiriman.

Dampak terhadap harga dan distribusi minyak

Menurut Dian, gangguan terhadap jalur distribusi energi tidak hanya berdampak pada negara-negara yang terlibat konflik.

Jika jalur utama terganggu, kapal harus mencari rute alternatif. Kondisi tersebut dapat memperpanjang perjalanan sekaligus meningkatkan biaya distribusi.

Ia mencontohkan, perjalanan kapal melalui jalur yang normal dapat ditempuh dalam waktu sekitar dua pekan. Namun, jika harus memutar melalui Afrika, waktu perjalanan dapat meningkat hingga sekitar 45 hari.

"Cost distribusinya meningkat tajam. Jadi lagi mumet sekarang ini. Serba salah," kata Dian.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa konflik di kawasan strategis dapat memberikan efek berantai terhadap perdagangan energi global. Bab el-Mandeb sendiri merupakan bagian dari koridor perdagangan laut antara Asia dan Eropa melalui Laut Merah dan Terusan Suez.

Indonesia diminta mencari alternatif sumber energi

Dalam pembahasan tersebut, Dian juga menyoroti posisi Indonesia.

Ia mengatakan, Indonesia perlu mempertimbangkan berbagai sumber pasokan energi dan tidak hanya bergantung pada satu jalur atau satu negara.

Menurut Dian, sejumlah alternatif dapat dijajaki, antara lain Australia, Afrika, dan Rusia.

"Setahu saya Pertamina itu dekatin Australia, dekatin Afrika, dekatin Rusia supaya dari Vostok bisa dikirim," ujar Dian.

Dian juga menilai Indonesia sebenarnya memiliki ruang untuk menjalin hubungan dengan berbagai kekuatan besar, termasuk Amerika Serikat, Rusia, dan China.

Namun, menurut dia, kebijakan tersebut harus tetap ditempatkan dalam kerangka kepentingan nasional dan prinsip politik luar negeri Indonesia.

Konflik Rusia-Ukraina dan potensi Perang Dunia III

Pembahasan kemudian bergeser ke perang Rusia-Ukraina dan kekhawatiran mengenai kemungkinan meluasnya konflik menjadi Perang Dunia III.

Dian menyebut Timur Tengah, Ukraina, dan Taiwan sebagai kawasan yang memiliki tingkat ketegangan geopolitik tinggi.

Meski demikian, ia menilai penyebutan konflik-konflik tersebut sebagai pintu masuk Perang Dunia III masih terlalu jauh.

"Kalau perang dunia saya kira terlalu jauh," kata Dian.

Menurut dia, Perang Dunia III akan memiliki konsekuensi yang jauh berbeda apabila melibatkan negara-negara dengan persenjataan nuklir.

Ia menjelaskan, risiko terbesar muncul apabila konflik berkembang menjadi konfrontasi langsung di antara negara-negara berkekuatan nuklir.

"Kalau perang dunia terjadi lagi, kita akan kembali urusannya sama batu sama kayu," ujarnya, mengutip gambaran tentang kehancuran besar akibat perang nuklir.

Indonesia dinilai tidak perlu ikut terseret

Di tengah meningkatnya ketegangan global, Dian menilai Indonesia tidak memiliki kepentingan untuk menjadi negara agresif.

Ia mengatakan Indonesia selama ini memiliki karakter hubungan luar negeri yang relatif bersahabat dengan negara-negara tetangga.

Karena itu, menurut Dian, Indonesia tidak perlu melihat seluruh konflik geopolitik sebagai ancaman langsung.

"Saya tidak melihat Indonesia punya ancaman," kata Dian.

Namun, ia menilai kewaspadaan tetap diperlukan, terutama dalam menghadapi perkembangan teknologi perang, keamanan siber, intelijen, dan pertahanan.

Dian juga menyoroti hubungan Indonesia dengan Australia. Menurut dia, kerja sama tetap diperlukan, tetapi kepentingan keamanan nasional masing-masing negara harus tetap diperhitungkan.

Fokus membenahi persoalan dalam negeri

Dian berpandangan bahwa situasi geopolitik global justru dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat persoalan di dalam negeri.

Menurut dia, Indonesia perlu tetap menjalin kerja sama internasional, tetapi hubungan luar negeri harus diarahkan pada kepentingan yang konkret.

"Kesempatan terbaik buat Indonesia membenahi masalah dalam negeri kita," kata Dian.

Ia menambahkan, kerja sama luar negeri dapat diarahkan pada bidang perdagangan, pariwisata, dan investasi.

Bagi Dian, Indonesia tidak perlu terburu-buru mengejar simbol kekuatan militer seperti kapal induk apabila persoalan mendasar dalam sistem pertahanan nasional masih harus dibenahi.

"Indonesia bukan negara agresif. Kita dari dulu itu negara yang friendly ke tetangga kita," ujarnya.

Dian juga menilai karakter Indonesia sebagai negara kepulauan seharusnya menjadi pertimbangan dalam membangun strategi pertahanan.

Menurutnya, keberadaan banyak pulau dapat dimanfaatkan sebagai titik pendukung logistik pertahanan dibandingkan hanya mengandalkan persenjataan tertentu.

Pada akhirnya, Dian menilai ketegangan geopolitik yang terjadi di berbagai kawasan memang perlu diperhatikan Indonesia. Namun, ia mengingatkan agar isu Perang Dunia III tidak serta-merta disimpulkan dari setiap konflik yang terjadi.

Bagi Indonesia, kata dia, yang lebih penting adalah menjaga kepentingan nasional, memperkuat ketahanan dalam negeri, dan tetap menjalankan kerja sama internasional secara terukur.

(***)