Pemkab Bengkalis Gelar Tabligh Akbar Bersama UAS dan Sampaikan 10 Pesan Ini

Dahari • 8 Oct 2026, 16:13
Pemkab Bengkalis Gelar Tabligh Akbar Bersama UAS
Pemkab Bengkalis Gelar Tabligh Akbar Bersama UAS

RIAU24.COM - Pemerintah Kabupaten Bengkalis menggelar Shalat Dzuhur berjamaah dilanjutkan Tabligh Akbar bersama da'i nasional Ustadz Prof. H. Abdul Somad. Acara ini mengusung tema "Membina Generasi Islam yang Tangguh Menuju Indonesia Emas Tahun 2045".

Kegiatan dilaksanakan di Masjid Agung Istiqomah Bengkalis, Kamis, 8 Oktober 2026.

Bupati Bengkalis Hj. Kasmarni yang ikut dalam kegiatan ini menegaskan bahwa kesuksesan Indonesia di masa depan tidak cukup hanya dibangun melalui fisik atau infrastruktur, tetapi sangat bergantung pada kualitas manusianya.

“Infrastruktur yang hebat tanpa manusia yang berakhlak akan kehilangan arah. Kemajuan ekonomi tanpa moral akan kehilangan kendali. Dan kecerdasan tanpa iman dapat kehilangan tujuan,”ungkap Kasmarni.

Pemkab Bengkalis berkomitmen untuk terus menghadirkan lingkungan yang religius dan inspiratif melalui berbagai program penguatan sumber daya manusia dan nilai-nilai keagamaan. Kasmarni berharap Tabligh Akbar ini tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi menjadi pemantik bagi masyarakat menjadikan iman, ilmu, dan akhlak sebagai landasan hidup sehari-hari.

Dalam tausiahnya yang dihadiri oleh ribuan jamaah serta jajaran pemerintah daerah, UAS menekankan bahwa menyiapkan generasi masa depan harus dimulai dari akar yang paling mendasar, yaitu pendidikan tauhid dan pembentukan keluarga sakinah.

Berikut adalah 10 poin penting yang disampaikan oleh UAS dalam mendidik anak agar menjadi generasi yang Tangguh. Pertama memilih "Tanah yang subur" (Pasangan hidup). UAS mengibaratkan pasangan hidup seperti tanah tempat menanam bibit. Tanah yang subur akan menumbuhkan mawar yang indah dan harum, sedangkan tanah yang tandus hanya akan menumbuhkan kaktus yang berduri.

"Jangan mencari kesempurnaan dalam menikah, melainkan bersiaplah untuk saling menutupi kekurangan. Dari sanalah rahmat dan kasih sayang Allah akan turun," pesan UAS.

Kedua kriteria lelaki dan suami yang baik. Bagi kaum perempuan, UAS mengingatkan untuk memilih suami berdasarkan dua kriteria utama, yaitu bagus agamanya (rajin shalat, zakat, puasa) dan lembut tutur katanya. Hubungan keluarga akan rusak jika suami rajin ibadah namun kasar dalam berucap, atau sebaliknya. Bagi istri yang menghadapi suami yang sulit, UAS mengajak untuk meneladani kesabaran Siti Asiyah istri Firaun yang tetap berdoa kebaikan.

Ketiga, hubungan dan proses pernikahan yang baik. UAS mengimbau agar proses pertemuan menuju pernikahan dilakukan melalui jalur yang diridhai Allah SWT. Beliau dengan tegas meminta para remaja yang masih berpacaran untuk segera memutuskan hubungan demi menghindari perbuatan yang dilarang agama.

Keempat, menebus anak yang tergadai (aqiqah). Setiap anak yang lahir sejatinya tergadai dan harus ditebus dengan pelaksanaan aqiqah pada hari ketujuh, berupa penyembelihan kambing, mencukur rambut, dan memberi nama yang baik. Jika belum mampu pada hari ke-7, ke-14, atau ke-21, aqiqah tetap boleh ditunaikan kapan saja ketika orang tua sudah memiliki kelapangan rezeki.

Kelima pendidikan sejak dalam kandungan. Mendidik anak tidak dimulai saat mereka sekolah, melainkan sejak berada di dalam kandungan melalui pembacaan ayat suci Al-Qur'an (seperti Surah Yusuf). Begitu lahir, anak segera disambut dengan kumandang adzan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri.

Keenam, memasukkan anak ke lembaga pendidikan Islam. Jika orang tua memiliki keterbatasan waktu dan ilmu untuk mendidik anak secara langsung, UAS menyarankan agar anak-anak dititipkan ke pondok pesantren. Lembaga pesantren saat ini sudah modern, mampu mengajarkan Al-Qur'an, kitab kuning, sekaligus bahasa asing (Inggris dan Arab).

Ketujuh, orang tua menjadi teladan (role model). Anak-anak membutuhkan contoh nyata, bukan sekadar perintah. Orang tua tidak bisa menyuruh anaknya ke masjid jika ayahnya sendiri berdiam diri di rumah. Teladan ibadah harus dimulai dari bapak dan ibu di rumah.

Kedelapan, memberikan makanan yang halal. Asupan makanan yang halal sangat memengaruhi kepatuhan anak. Makanan haram akan menyumbat aliran darah dan merusak kerja otak, sehingga anak menjadi bebal, sulit dinasihati, dan enggan mendengar perkataan baik.

Kesembilan, peran pemimpin dalam menjaga agama. UAS juga menyoroti tugas penting seorang pemimpin daerah dalam menjaga rakyat, agama, dan negara, berkaca pada sejarah Sultan Syarif Kasim. UAS secara khusus meminta kepada Bupati Bengkalis untuk mengadakan program pelatihan imam dan ustaz utusan dari setiap kecamatan. Tujuannya agar masjid-masjid di desa kembali hidup dengan pengajaran akidah Ahlussunnah wal Jamaah (Asy'ariyah), fikih, dan akhlak.

Kesepuluh, kekuatan doa melalui shalat hajat. Senjata pamungkas orang tua adalah doa. UAS mengajak para orang tua untuk merutinkan shalat hajat di sepertiga malam. Mintalah kesalehan anak, kelancaran rezeki, hingga masa depan mereka langsung kepada Allah SWT pada sujud terakhir shalat berdoa dalam hati jika menggunakan bahasa selain Arab agar shalat tidak batal.