Kemenkes Catat 283.270 Kasus ISPA di Tujuh Provinsi Terdampak Karhutla

Zuratul • 14 Oct 2026, 15:28
Potret Asal di Kalimantan lewat Pantauan NASA. (X/Foto)
Potret Asal di Kalimantan lewat Pantauan NASA. (X/Foto)

RIAU24.COM - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 283.270 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tujuh provinsi terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama periode 18 Agustus hingga 13 Oktober 2026.

Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Then Suyanti, mengatakan, dari total kasus tersebut, sebanyak 219.559 kasus dialami penduduk berusia di atas lima tahun, sedangkan 63.711 kasus terjadi pada anak berusia di bawah lima tahun.

“Secara kumulatif ini ada 283.270, dengan kasus terbanyaknya di usia di atas lima tahun yaitu 219.559 di tujuh provinsi, 63 kabupaten kota,” kata Then di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam), Jakarta, Rabu (14/10/2026).

Berdasarkan data Kemenkes, kasus ISPA terbanyak tercatat di Kalimantan Selatan dengan 74.636 kasus, disusul Sumatera Selatan sebanyak 74.458 kasus.

Then juga menyebut kualitas udara di 12 kabupaten/kota terdampak karhutla berada dalam kategori berbahaya. Wilayah tersebut tersebar di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Jambi, Sulawesi Selatan, dan Riau. Sembilan wilayah di antaranya tercatat memiliki kualitas udara sangat tidak sehat.

Menurut Then, paparan asap karhutla dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan karena mengandung partikulat halus PM2.5 dan berbagai polutan. Dampaknya antara lain infeksi saluran pernapasan akut dengan gejala batuk, sesak napas, pilek, dan radang tenggorokan.

Kemenkes, lanjut Then, terus menyosialisasikan upaya penanganan kepada dinas kesehatan di daerah terdampak. Koordinasi juga dilakukan dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta Kementerian Agama untuk menerapkan pembelajaran jarak jauh di wilayah terdampak.

Sementara itu, Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Udara Kementerian Lingkungan Hidup, Nikson Pakpahan, mengatakan karhutla berdampak serius terhadap kualitas udara ambien.

Ia menyebut sejumlah wilayah di Sumatera mengalami kualitas udara tidak sehat berdasarkan parameter PM2.5. Di Riau, kualitas udara telah masuk kategori sangat tidak sehat, sedangkan di Jambi kondisinya mencapai kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya.

Kondisi serupa terjadi di Kalimantan. Menurut Nikson, sebagian besar wilayah Kalimantan Barat mengalami kualitas udara tidak sehat hingga berbahaya. Sementara itu, seluruh wilayah Kalimantan Tengah tercatat berada dalam kategori berbahaya berdasarkan parameter PM2.5.

(zar)