Netanyahu Maju Pemilu, Dapat Dukungan Trump hingga Isyaratkan Perang Iran Berlanjut

Zuratul • 28 Oct 2026, 10:37
Bibi Netanyahu and  US President Donald Trump. (Screenshor from https://en.ilsole24ore.com/)
Bibi Netanyahu and US President Donald Trump. (Screenshor from https://en.ilsole24ore.com/)

RIAU24.COM - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memamerkan dukungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump jelang pemilu Israel pada Selasa (27/10). Netanyahu mengisyaratkan dapat kembali melancarkan perang terhadap Iran jika ia terpilih kembali.

Trump sebelumnya menyerukan warga Israel untuk memilih Netanyahu dan menyatakan mereka harus “menyelesaikan pekerjaan” yang telah dimulai melalui perang melawan Iran pada Februari lalu.

“Presiden AS Donald Trump datang dengan persahabatan yang belum pernah ada sebelumnya antara seorang perdana menteri Israel dan seorang presiden Amerika. Dan diragukan kita akan pernah memiliki presiden yang ramah seperti itu lagi,” kata Netanyahu dikutip dari Reuters.

“Dia memiliki dua tahun lagi, dan dia mengatakan dia meminta Anda untuk memilih saya,” lanjutnya.

Dalam unggahan di media sosial, Trump menulis: “Pilih Bibi Netanyahu sebagai Perdana Menteri, kita harus menyelesaikan pekerjaan yang telah kita mulai!”

Netanyahu mengatakan, Trump bersedia mengambil tindakan yang menurutnya dapat menghilangkan ancaman Iran. Ia juga mengungkapkan telah memerintahkan badan intelijen Mossad dan militer Israel (IDF) untuk menjatuhkan pemerintahan Iran.

“Saya telah menginstruksikan Mossad dan IDF (militer) untuk menjatuhkan rezim ini, untuk menjatuhkan rezim ini karena itulah satu-satunya cara untuk mengakhiri ancaman ini,” kata Netanyahu.

Namun, Gedung Putih menyatakan Amerika Serikat tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan paruh waktu pada 3 November.

Wakil Sekretaris Pers Gedung Putih Anna Kelly mengatakan, Iran berada dalam kondisi buruk secara ekonomi dan militer. Ia juga menyatakan blokade AS terhadap Iran akan tetap berlaku.

“Amerika Serikat tidak akan menyerang Iran kapan pun sebelum pemilihan paruh waktu,” kata Kelly melalui surel.

Trump pertama kali menyatakan dukungannya kepada Netanyahu pada 18 Oktober. Ia kembali menyampaikan dukungan tersebut melalui unggahan di Truth Social pada Minggu.

Ketika ditanya wartawan pada Senin (26/10) apakah Netanyahu meminta dukungan kedua, Trump menjawab, “Saya tidak pernah membicarakannya.”

Eks Kepala Staf Militer Israel Kritik Kampanye Netanyahu

Gadi Eisenkot, eks Kepala Staf Militer Israel yang menjadi salah satu pesaing utama Netanyahu, menanggapi dukungan Trump. Ia menyebut Trump sebagai “sahabat sejati Israel” dan mengatakan yakin presiden AS itu akan bekerja sama dengan pemimpin yang dipilih rakyat Israel.

Pemilu Selasa akan menjadi pemungutan suara pertama di Israel sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Pemilu ini menjadi kesempatan bagi pemilih untuk menilai kegagalan keamanan Israel saat serangan tersebut terjadi serta perang di berbagai front setelahnya.

Netanyahu memimpin pemerintahan paling kanan dalam sejarah Israel. Sementara itu, perdebatan politik di negara tersebut semakin bergeser ke kanan. Hampir seluruh partai utama yang dipimpin warga Yahudi, termasuk partai Eisenkot, kini menentang solusi dua negara yang selama beberapa dekade menjadi dasar negosiasi perdamaian dengan Palestina.

Namun, sebagian pemilih menilai politik Netanyahu yang memecah belah justru melemahkan Israel. Sejumlah jajak pendapat menunjukkan Partai Likud yang dipimpinnya berpotensi kehilangan kursi, sehingga koalisi sayap kanan, kanan jauh, dan ultra-Ortodoks yang mendukungnya dapat kehilangan mayoritas tipis di parlemen.

Meski demikian, Eisenkot dan partai-partai oposisi lainnya belum memiliki jalur yang jelas untuk membentuk pemerintahan pengganti.

Dukungan Trump Berisiko bagi Partai Republik

Dukungan Trump kepada Netanyahu membawa risiko politik bagi presiden AS tersebut. Pemilihan legislatif AS pada 3 November akan menentukan apakah Partai Republik dapat mempertahankan kekuasaan di tengah meningkatnya ketidakpuasan terhadap perang Iran.

Perang tersebut tidak populer di Amerika Serikat dan dikaitkan dengan kenaikan harga, terutama bahan bakar.

Meski Trump dan Netanyahu mengisyaratkan kemungkinan melanjutkan operasi militer terhadap Iran, Gedung Putih menyatakan tidak akan melancarkan serangan sebelum pemilu paruh waktu AS.

(zar)