Menu

Kisah Sukses Penerima Dana Bantuan RAPP, Modal Kejujuran Mampu Memiliki Usaha Sukses di Siak

Muhardi 5 Sep 2019, 11:06
Tukiman
Tukiman

"Bongkar motor ya bisa semua. Total. Misalnya ya, semua motor lalu dibongkar masukkan ke karung goni, kasih ke saya, bisa saya rakit lagi jadi satu. Saya siap," ujar Man seraya mengaku bahwa urusan servis motor di bengkelnya juga dibantu anaknya.  

 

Ketika itu, musik tidak mengalun dari perangkat audio di rumahnya. Namun, Man mengaku senang mendengarkan lagu dangdut.   "Meggy Z, Mansyur S. Kalau favorit saya ya lagunya Ida Laila yang judulnya 'Siksa Kubur'. Pokoknya yang sedih-sedih, sesuai dengan nasib saya. He-he-he," kata Man, yang ditinggal meninggal oleh istrinya karena sakit sekitar lima tahun lalu.  

Namun, Man cukup sibuk. Setidaknya akan ada 4-5 sepeda motor yang datang ke bengkelnya setiap hari. Jumlah ini dipenuhi dengan kondisi bahwa hanya ada 2-3 bengkel yang beroperasi di seputar wilayah tempat tinggalnya.   Dari bengkelnya, uang Rp 1 juta berputar dalam satu hari. Jumlah itu sudah termasuk modal dengan pertimbangan harga suku cadang yang sudah di kisaran ratusan ribu rupiah, misalnya ban yang satuannya berbanderol Rp 150.000.

Tukiman mendirikan bengkel Man di perbatasan Kabupaten Siak. Ia memanfaatkan pinjaman dana mitra binaan Rp 5 juta dari PT Riau Andalan Pulp and Papper. Kini, setidaknya akan ada 4-5 sepeda motor yang datang ke bengkelnya setiap hari. (Dimas Wahyu) Namun, kata Man, ada saja orang yang tidak membayar hasil kerjanya. Ia menyebut bahwa pelanggan ini antara lain buruh panen yang memang kesulitan uang.   "Ya namanya orang. Sudah ditolong ya begitu. Tiba-tiba motornya rusak, duitnya enggak ada. Minta tolong. Rusak berat sebenarnya. Dia bilang nanti kalau sudah gajian dibayar. Ternyata sudah gajian berapa tahun ya enggak dibayar," kata Man.  

Uniknya, Man mengaku bukan orang yang mudah menagih. Jadi, ia memilih diam dan mengaku mencoba paham ketika orang tidak bisa membayar karena memang tidak bisa.   "Akhirnya kan jadi dia yang malu sendiri enggak berani ke sini lagi. Paling kalau sudah mualas (logat Jawa Timur), saya bilang, 'Waduh banyak kerjaan aku ini.' Itu artinya saya sudah paling marah," akunya.

Halaman: 123Lihat Semua