Cangkul Pun Masih Diimpor, Begini Rencana Menteri Teten Masduki

Sabtu, 14 Desember 2019 | 23:54 WIB
cangkul impor (ilustrasi). Foto: int cangkul impor (ilustrasi). Foto: int

RIAU24.COM -  Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop UKM), Teten Masduki mengatakan, pemerintah berusaha untuk tidak melakukan impor cangkul pada tahun depan. Sebelumnya, hal ini sempat disorot Presiden Jokowi yang menilai hal itu sebagai sesuatu yang kelewatan. 

"Pak Presiden sudah meminta untuk tahun depan diusahakan tidak impor lagi. Dan kami sudah mengkoordinasikan perajin-perajin logam di berbagai daerah, terutama di Jawa, " ujar Teten, usai menghadiri pembukaan acara Gerakan Warung Nasional di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Sabtu (14/12/2019). 

Baca Juga: Alibaba Akan PHK Hampir 10.000 Karyawan Di Tengah Perlambatan Ekonomi

Dilansir kompas, untuk ketersediaan bahan baku, pihaknya telah berkoordinasi dengan PT Krakatau Steel. Lebih lanjut Teten menjelaskan, kebutuhan cangkul secara nasional tercatat mencapai 10 juta. Hal itu sesuai dengan catatan dari Kementerian Perindustrian. 

Sementara itu, saat ini produksi cangkul oleh UMKM yang ada di Indonesia tercatat sebesar 3 juta cangkul. Akan tetapi, lanjut Teten, setelah ditelusuri lebih lanjut, kemampuan produksi cangkul dalam negeri pun mampu mencapai 10 juta cangkul. 

"Setelah kami inventarisasi, kemampuan kita sebenarnya jabar bisa 4 juta cangkul dari Jawa Barat, kemudian dari Jawa Tengah bisa 3 juta cangkul dan dari Jawa Timur bisa 3 juta cangkul," ucapnya. 

Hanya saja, Teten mengatakan ada kendala soal sumber bahan baku yang tidak terhubung dengan produsen dan persebaran perajin cangkul yang saling terpencar jauh. 

"Namun, kemarin kami sudah membicarakan soal bagaimana (solusi) distribusi bahan baku. Kalau pembiayaan enggak sulit. Karena ini marketnya sudah ada dan BRI juga menyatakan mau membiayai," tambahnya lagi.

"Jadi intinya kita sudah siap memproduksi. Memang ada yang masih peralatan sederhana tapi ada juga yang telah memakai permesinan modern. Jadi untuk kualitas tidak kalah, " ujarnya lagi.

Baca Juga: Coinbase Buat Kesepakatan Perdagangan Crypto Bersama Blackrock untuk Klien Institusional

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan, sepanjang Januari hingga Oktober 2019 Indonesia telah mengimpor cangkul dengan total berat impor mencapai 292.444 kilogram (292 ton). Impor yang berasal dari China dan Jepang tersebut secara keseluruhan memiliki nilai sebesar 106.127 dollar AS atau setara dengan Rp1,49 miliar (kurs: Rp 14.000 per dollar AS). 

Berdasarkan data BPS tersebut dirinci, sebagian besar impor tersebut berasal dari China dengan total berat mencapai 292.437 kilogram (292,43 ton) dengan nilai 106.062 dollar AS. Selain itu, ada pula impor cangkul dari Jepang dengan berat total 7 kg dengan nilai 65 dollar AS. 

Secara historis, impor cangkul dari China cenderung mengalami pergerakan yang cukup fluktuatif. Namun demikian, dari tahun 2017 ke 2018, total nilai impor cangkul mengalami peningkatan drastis hingga 4.000 persen dari 794 dollar AS menjadi 33.889 dollar AS. 

Adapun pada 2015, nilai impor cangkul dari China ke Indonesia sebesar 6.589 dollar AS, kemudian meningkat menjadi 187.064 dollar AS di tahun 2016, dan merosot tajam jadi 794 dollar AS di tahun 2017. Adapun di tahun-tahun sebelumnya, impor cangkul dari Jepang belum terjadi dan baru dilakukan tahun ini. ***

PenulisR24/wan


Loading...
Loading...