Menu

Keuletan Warga Sakai Menjadi Mandiri

Satria Utama 6 Jan 2020, 13:33
Mus Mulyadi Ketua Pertanian terpadu Sakai memamerkan salah satu hasil dari pertanian terpadu mereka.
Mus Mulyadi Ketua Pertanian terpadu Sakai memamerkan salah satu hasil dari pertanian terpadu mereka.

Perkenalan Yatim dengan PT CPI bermula dari keikutsertaan masyarakat Sakai dalam Festival Seni Budaya Suku Asli se-Asia Pasifik di Pekanbaru pada tahun 1991. Dari perkenalan itu, PT CPI kemudian membangun rumah adat Sakai dan membantu untuk memperkenalkan seni budaya Sakai kepada keluarga para karyawan PT CPI. “Kami menjadi sering diundang untuk mementaskan seni budaya Sakai dalam acara- acara di dalam perumahan PT CPI di Rumbai dan Duri.” 

Tidak berhenti di situ. Yatim juga berkeinginan agar anak anak Sakai yang tamat SMA dapat melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Dia bertemu dengan Syahril, seorang warga Sakai dari Pematang Pudu, yang berkuliah dengan beasiswa dari PT CPI. Syahril pernah terpilih sebagai anggota DPRD Riau pada 2004, ketika masih berusia 30 tahun. Dia mendapatkan beasiswa dari PT CPI mulai jenjang SD hingga S2.

Karena satu pemikiran, Syahril dan Yatim pun berdiskusi untuk mencari jalan agar semakin banyak anak Sakai yang mengenyam pendidikan. Dari situlah, mereka kemudian berdiskusi dengan pihak PT CPI untuk memberikan bantuan pendidikan untuk anak anak Sakai mulai jenjang sekolah dasar sampai ke perguruan tinggi.

Usulan tersebut ternyata disambut baik. Dengan bantuan beasiswa PT CPI, lanjut Yatim, anak-anak Sakai saat ini sudah banyak yang mengecap pendidikan sampai ke perguruan tinggi dan duduk sejajar dengan suku-suku lain di Indonesia. Setidaknya, hampir 2.000 anak-anak Sakai yang pernah mendapatkan beasiswa tersebut.

“Setelah tamat SMA atau universitas, kami sambut mereka kembali ke kampung dengan upacara upah-upah dan tepung tawar. Kami pasang foto-foto mereka di rumah adat Sakai,” jelas Yatim. Warga Sakai saat ini sudah banyak yang mengembangkan diri di luar kampung halaman. Mereka menekuni berbagai bidang profesi maupun usaha. Sebagian lagi mengembangkan keahlian dan keterampilan mereka di kampung halaman melalui bidang pertanian dan peternakan. Masyarakat Sakai yang dulu dikenal banyak menggantungkan hidupnya dari hasil hutan, sekarang lebih mampu beradaptasi dengan perubahan-perubahan di sekitar tempat tinggal mereka.

Salah satunya adalah Mus Mulyadi, 44, putra asli Sakai yang pernah duduk sebagai anggota DPRD Bengkalis. Mulai dari nol, dia kini berhasil mandiri berkat kegigihan dan kemauan kerasnya untuk terus belajar. Pada 1999-2000, Mus Mulyadi mulai bekerja padat karya di lingkungan PT CPI dengan tugas menyapu, membersihkan parit, dan memotong rumput.

Halaman: 123Lihat Semua