Terkuak di Hadapan DPR, Ternyata Ini Biang Kerok yang Menyebabkan Harga Obat Jadi Mahal di Pasaran

Kamis, 19 November 2020 | 10:53 WIB
Ilustrasi Ilustrasi

RIAU24.COM -  Harga obat di pasaran yang masih mahal, sudah lama menjadi keluhan masyarakat, khususnya mereka yang berpenghasilan rendah. Siapa sangka, ternyata di belakang kondisi itu ada biang kerok yang menyebabkan kondisi itu terjadi. 

Hal itu diungkapkan Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir, dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI, Rabu (18/11/2020) kemarin. Untuk diketahui, Bio Farma merupakan salah satu BUMN produsen Vaksin dan Antisera, yang saat ini berkembang menjadi perusahaan Life Science.

Menurutnya, biang kerok mahalnya harga obat di pasaran karena produsen obat mengandalkan pinjaman dari pihak ketiga, sehingga menimbulkan tambahan biaya untuk membuat obat.

Namun ia tak merincikan, apakah tambahan biaya tersebut bersumber dari bunga pinjaman dari pihak ketiga atau apa. Yang jelas, adanya tambahan biaya itu dibebankan ke harga pokok produksi (HPP).

Baca Juga: Gara-gara Ulahnya Sendiri Sebut Habib Rizieq Positif Covid-19, Politikus PDIP Ini Terancam Dipolisikan

"Kita kalau hanya mengandalkan kepada pendanaan pihak ketiga tentunya ada cost of money yang harus kita bebankan kepada harga pokok produksi, sehingga membuat harga jual obat juga menjadi lebih mahal, padahal ini sifatnya adalah penugasan," terangnya, dilansir ulang detik, Kamis 19 November 2020. 

Guna menyikapi kondisi ini, pihaknya menyarankan pemerintah menetapkan skema pembiayaan untuk pelaksanaan, penugasan ataupun penunjukan langsung yang tidak memberatkan. Artinya, kalau seandainya ada penugasan dari pemerintah untuk produk ataupun alat-alat tertentu, maka perlu dibantu dengan pendanaan sejak awal. 

"Memang harus dipikirkan ada semacam pemberian bantuan pendanaan di awal," terangnya. 

Baca Juga: Istri Pangeran Harry Keguguran Anak Kedua, Keluarga Kerajaan Inggris Beri Dukungan

Tak hanya itu, Honesti Basyir meminta pemerintah membatasi impor alat kesehatan (alkes) untuk penanganan Covid-19. Dalam hal ini, alkes yang perlu dibatasi adalah yang sudah bisa diproduksi sendiri di dalam negeri.

"Usulan kami selama kebutuhan dalam negeri itu masih mampu dipenuhi oleh produksi dalam negeri tentunya impor ini harus dibatasi," kata dia.

Dia pun mencontohkan alkes untuk penanganan virus Corona. Menurutnya sudah banyak inovasi anak negeri. Sayangnya mereka kalah bersaing dengan produk impor.

"Banyak inovasi-inovasi anak negeri yang sudah dikeluarkan untuk membikin alkes-alkes untuk penanganan COVID-19, tapi kita masih kalah bersaing dengan impor karena memang keran impor itu masih dibuka oleh pemerintah," tambahnya. *** 

PenulisR24/wan



Loading...
Loading...