Sekolah Tatap Muka di Pekanbaru Diganti Pertemuan Terbatas, Siswa Akan Wajib Rapid Test dan Pakai Masker

Jumat, 20 November 2020 | 03:55 WIB
Sekolah Tatap Muka di Pekanbaru Diganti Pertemuan Terbatas, Siswa Akan Wajib Rapid Test dan Pakai Masker (foto/int) Sekolah Tatap Muka di Pekanbaru Diganti Pertemuan Terbatas, Siswa Akan Wajib Rapid Test dan Pakai Masker (foto/int)

RIAU24.COM - Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru telah menghentikan sistem sekolah tatap muka yang sempat berlangsung 16 November lalu. Nantinya akan diganti dengan sistem sekolah pertemuan terbatas.

Walikota Pekanbaru, Firdaus sampaikan menghentikan sekolah tatap muka sebab hasil evaluasi Satgas Penanganan Covid-19 Kota Pekanbaru, sistem tersebut cukup berisiko. Apalagi status zona penularan Covid-19 di Kota Pekanbaru masih orange.

Baca Juga: Labor Biomolekuler RSD Madani Pekanbaru Hanya Uji Sampel Pasien yang Diisolasi, Ini Sebabnya



Maka itu Walikota Pekanbaru, Firdaus, sampaikan pihaknya akan melakukan pemetaan kembali wilayah penyebaran Covid-19 dengan rinci. “Kita memetakan lebih rinci lagi wilayah mana saja yang aman,” ujar Firdaus.

Kemudian pada sistem sekolah pertemuan terbatas, menurut Plt Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru, Ismardi Ilyas dijadwalkan terlaksana pada pekan depan. Pada pertemuan terbatas itu sebenarnya berguna untuk mendukung pembelajaran jarak jauh atau PJJ di masa pandemi Covid-19. Siswa didik bisa konsultasi langsung dengan guru di sekolah tentang materi pelajaran yang sulit atau tidak dimengerti.

Baca Juga: Pencuri Puluhan Bunga di Pekanbaru yang Viral Berhasil Diringkus Polisi

Ismardi sampaikan jelang pertemuan terbatas ada beberapa persiapan. Seperti siswa didik akan jalani rapid test, serta pertemuan terbatas hanya berlangsung 3 jam satu hari. Dan rapid tes tersebut tidak dikenakan biaya alias gratis. Namun tetap baik siswa dan guru wajib pakai masker.

Sebagai catatan sekolah yang melaksanakan pertemuan terbatas akan dilakukan pemetaan oleh tim Satgas Covid-19. "Pertemuan terbatas hanya di sekolah yang masuk kecamatan zona kuning atau hijau. Kita prioritaskan juga wilayah pinggiran kota, mereka yang paling terdampak PJJ karena akses internet yang sulit," sebut Ismardi, Kamis (19 November 2020).

Ismardi memperkirakan cuma 10 sampai 15 SMPN saja yang bakal menerapkan pertemuan terbatas satu kali tiap minggunya. Dengan durasi pertemuan 2 sampai 3 jam sehari.

PenulisR24/riki



Loading...
Loading...