Pengakuan Bekas Tahanan Uighur di Xinjiang: Disiksa dan Dipaksa Makan Daging Babi

Sabtu, 05 Desember 2020 | 13:11 WIB
Sayragul Sautbay (net) Sayragul Sautbay (net)

RIAU24.COM - Dua tahun sejak Sayragul Sautbay dibebaskan dari kamp pendidikan ulang di Xinjiang, China, ibu dua anak itu masih sering mengalami mimpi buruk dan ingatan tentang "kekerasan dan penghinaan" yang dia rasakan ketika ditahan di kamp.

Sautbay, seorang dokter dan pengajar yang kini tinggal di Swedia, belum lama ini menerbitkan sebuah buku yang berisi pengalaman selama di kamp, termasuk menyaksikan penyiksaan, pelecehan seksual dan pemaksaan menggunakan KB.

Baca Juga: Korban Kematian Akibat Vaksin Covid-19 Terus Bermunculan, Kebanyakan di Usia Ini

Dalam wawancara baru-baru ini dengan Aljazeera dia membeberkan apa yang dialami etnis Uighur dan kaum minoritas muslim di Xinjiang, termasuk dipaksa makan daging babi, hal yang diharamkan bagi umat Islam.

"Setiap hari kami dipaksa makan daging babi," kata Sautbay, seperti dilansir laman Aljazeera, Sabtu (4/12). "Mereka sengaja memilih hari suci bagi umat Islam dan jika kita menolaknya maka akan diganjar hukuman keras."

Sautbay mengatakan aturan itu dirancang untuk membuat mereka merasa malu dan bersalah sebagai tahanan dan ketika dia memakan daging babi itu semua perasaan campur aduk itu sulit dijelaskan dengan kata-kata.

"Saya merasa menjadi orang lain. Sekeliling saya mendadak gelap. Saya sulit menerimanya," kata dia.

Kisah pengakuan Sautbay dan rekan-rekannya memperlihatkan bagaimana China menerapkan kebijakan keras di Xinjiang dengan tujuan menyasar keyakinan agama kaun etnis minoritas muslim sekaligus memperluas pengawasan serta membuka jaringan kamp penahanan sejak 2017 dengan alasan untuk memerangi ekstremisme.

Namun dokumen yang diperoleh Aljazeera memperlihatkan pengembangan pertanian juga menjadi bagian dari apa yang disebut antropolog Jerman dan sarjana Uighur, Adrian Zenz, kebijakan sekularisasi.

Menurut Zenz, sejumlah dokumen dan artikel berita dari media pemerintah memperlihatkan ada upaya untuk menyokong dan memperluas peternakan babi di Xinjiang.

November tahun lalu kepala pemerintahan Xinjiang, Shorat Zakir, mengungkapkan wilayah Xinjiang akan dijadikan pusat peternakan babi.

Salah satu artikel berita yang dipublikasikan pada Mei lalu menyebut sebuah peternakan baru di kawasan selatan Kashgar menargetkan produksi 40.000 babi saban tahun.

Proyek ini akan membutuhkan lahan seluas 25.000 meter persegi di kawasan Kashgar Konaxahar yang bernama Shufu, menurut situs berbahasa China, Sina.

Kesepakatan ini ditandatangani pada 23 April tahun ini, hari pertama di bulan Ramadan, dan dikatakan peternakan babi ini bukan untuk kebutuhan ekspor tapi buat memastikan tercukupinya pasokan babi di Kashgar.

"Ini adalah bagian dari upaya menghapus tradisi keagamaan rakyat di Xinjiang," kata Zenz.

"Ini adalah bagian dari sekularisasi, mengubah Uighur menjadi sekuler dan mengindoktrinasi mereka untuk mengikuti partai komunis dan menjadi agnostik atau ateis," kata dia.

Baca Juga: Rudal Jarak Jauh Iran Jatuh Dekat Kapal Induk AS di Samudra Hindia

Beijing selama ini berkukuh kebijakan di Xinjiang adalah pendekatan yang dilakukan untuk memerangi "tiga setan ekstremisme, separatisme, dan terorisme," menyusul kerusuhan di Ibu Kota Urumqi, Xinjiang, pada 2009.

China membantah keberadaan kamp pendidikan ulang yang disebut PBB menahan lebih dari satu juta orang, dengan mengatakan mereka sedang menjalankan pusat pendidikan kejuruan untuk mengajarkan warga Uighur keterampilan baru.

 

 

Sumber: Merdeka

PenulisR24/riko



Loading...
Loading...