Kepalanya Ditembak Aparat Militer, Pemakaman Mya Thwe Kaing Dihadiri Ribuan Warga Myanmar

Senin, 22 Februari 2021 | 09:38 WIB
Suasana pemakaman Mya yang dihadiri ribuan warga Suasana pemakaman Mya yang dihadiri ribuan warga

RIAU24.COM -  Ribuan orang menghadiri pemakaman Mya Thwe Khaing, perempuan muda yang tewas dalam protes menentang kudeta militer. Mya ditembak di kepala sebelum ulang tahunnya yang ke-20. Ia adalah orang pertama dari setidaknya tiga orang yang tewas dalam protes tersebut.

Pada hari Minggu, ribuan orang berbaris di jalanan ibu kota Myanmar, Nay Pyi Taw untuk menghormatinya, beberapa membuat penghormatan dengan tiga jari, simbol yang digunakan oleh para demonstran.

Mya Thwe Thwe Khaing, seorang pekerja supermarket, luka-luka parah ketika polisi berusaha membubarkan pengunjuk rasa awal bulan ini.

Baca Juga: Menyembunyikan Vitiligo Dengan Riasan Selama 10 Tahun, Model 37 Tahun Ini Dengan Bangga Menunjukkan Wajahnya Untuk Menginspirasi Orang Lain

Menurut laporan Human Rights Watch, seorang dokter dari rumah sakit mengatakan perempuan itu memiliki "proyektil yang bersarang di kepalanya dan telah kehilangan fungsi otak yang signifikan". 

Dia bertahan hidup selama 10 hari dengan bantuan alat medis, tetapi meninggal pada hari Jumat di rumah sakit di ibu kota Nya Pyi Taw.

Dilansir BBC Indonesia, Mya telah menjadi titik fokus para demonstran dan fotonya kerap dibawa oleh demonstran yang menentang kudeta.

Peti matinya, yang berwarna hitam dan emas, dibawa melalui jalan-jalan di atas mobil jenazah, dan dikawal oleh ratusan sepeda motor.

Para pengunjuk rasa turun ke jalan di seluruh negeri lagi pada hari Minggu, meskipun pada hari sebelumnya mereka menyaksikan kekerasan terburuk dalam beberapa minggu terakhir demonstrasi diadakan.

Baca Juga: Model Ukraina Ini Tampil Dengan Pipi Yang Luar Biasa Besar, Membuat Bingung Warganet

Dua pengunjuk rasa ditembak mati ketika polisi menggunakan peluru tajam untuk membubarkan massa. Kematian tersebut membawa kecaman luas.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan: "Penggunaan kekuatan mematikan, intimidasi dan pelecehan terhadap demonstran yang damai tidak dapat diterima."***

PenulisR24/saut



Loading...
Loading...