20 Nama Perusahaan yang Sumbang Sampah Plastik Terbanyak di Dunia, Cemari Lautan dan Krisis Iklim

Rabu, 19 Mei 2021 | 09:02 WIB
google.ilustrasi google.ilustrasi

RIAU24.COM -  Dilansir dari UPI, analisis mengungkapkan 20 perusahaan yang menciptakan sampah plastik lebih dari setengahnya di dunia yang bertanggung jawab pada krisis iklim dan polusi global.

Indeks Pembuat Sampah Plastik yang dibuat oleh yayasan nirlaba Minderoo Foundation, mengatakan perusahaan memproduksi berbagai produk, seperti masker wajah yang telah menjadi wajib selama pandemi COVID-19, tas belanja plastik, botol air, dan barang-barang lain yang mencemari lautan.
Baca Juga: Dipecat hingga Bunuh Diri, Nasib Pejabat yang Tewaskan 21 Pelari Ultramaraton di China


Laporan pada hari Selasa (18/5) mengatakan plastik sekali pakai merupakan mayoritas plastik yang dibuang di seluruh dunia: lebih dari 130 juta metrik ton pada 2019 - hampir semuanya dibakar, dikubur di tempat pembuangan sampah, atau dibuang langsung ke lingkungan.

"Dari semua plastik, mereka paling mungkin berakhir di lautan kita, di mana mereka menyebabkan hampir semua polusi yang terlihat, dalam kisaran lima hingga 13 juta metrik ton setiap tahun," bunyi laporan itu.

ExxonMobil dan Dow yang berbasis di AS dan perusahaan minyak dan gas China Sinopec adalah yang memproduksi plastik sekali pakai paling banyak. Studi tersebut mengatakan bahwa ketiga perusahaan itu sendiri menyumbang 16% dari semua limbah plastik sekali pakai.

Baca Juga: Tragis, Serangan Rudal Mematikan Targetkan Rumah Sakit di Afrin, Noda Darah Berceceran Dimana-Mana
Produsen plastik sekali pakai teratas lainnya, menurut indeks, adalah Indorama Ventures, Saudi Aramco, PetroChina, LyondellBasell, Reliance Industries, Braskem dan Alpek SA de CV.

Juga ada dalam daftar adalah Phillips 66, Chevron, Mitsubishi Chemical Corporation, Shell dan Petronas.

"Dari sekitar 300 produsen polimer yang beroperasi secara global, sebagian kecil dari krisis plastik dunia berada di tangan mereka," bunyinya lagi.

"Pilihan mereka untuk terus memproduksi polimer murni, daripada polimer daur ulang, akan berdampak besar pada berapa banyak limbah yang dikumpulkan, dikelola, dan bocor ke lingkungan."

PenulisR24/ame


Loading...
Loading...